BLITAR - Galih Bangkit Permadi warga Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok harus tanding ulang dengan lawannya di PON Papua 2021 lalu. Namun, pada PON Aceh - Sumut 2024, sukses menumbangkangkan atlet Papua di kelas 48 kg. Prestasi ini menjadi modal untuk dapat ikut seleksi Sea Games.
Gelaran pekan olahraga nasional (PON) masih berlangsung. Namun sebagian cabang olahraga sudah selesai digelar. Beberapa atlet asal Kabupaten Blitar sudah pulang kampung usai berjuang dengan keras di lapangan.
Seperti yang dirasakan oleh Galih Bangkit Permadi yang sukses meraih medali emas pada cabang olahraga (cabor) muaythai kelas 48 kilogram (kg).
Galih sapaan akrabnya, kini sudah kembali berkegiatan di rumahnya. Dia disambut peluk hangat keluarga usai menyumbang medali emas untuk kontingen Jawa Timur (Jatim).
Tidak mudah perjuangannya karena harus berlatih keras dan meninggalkan rumah untuk menjalani pemusatan latihan hingga beberapa bulan.
“Saya persiapan selama 1 tahun, usai lolos dalam Pra PON pada akhir 2023 lalu. Bahkan untuk PON ini, saya juga melakukan training camp di Thailand selama 1 bulan. Berangkat pada Juli lalu,” ujar Galih saat ditemui di rumahnya, kemarin (16/9).
Warga Desa Kawedusan, Kecamatan Ponggok ini menceritakan selama menjalani TC di Thailand banyak hal yang dipelajari. Apalagi mempelajari Teknik muaythai dari negara asal cabor tersebut.
Bahkan, dia juga sempat menjalani pertandingan professional melawat atlet dari Maroko dan hasilnya Galih menang poin.
Capaian bagus dalam TC di Thailand itu sudah menandakan hal baik untuk memuluskan perjalanannya menuju PON XXI Aceh – Sumatera Utara.
Dia menargetkan medali emas sejak awal latihan karena pada PON Papua 2021 lalu, dia hanya meraih medali perak. Sehingga tekad dan kesungguhannya harus ditunjukkan pada acara olahraga multievent ini.
“Semua atlet sama-sama berat, karena mereka latihan. Saya tinggal mengatur strategi dan harus tahu kelebihan serta kelemahan lawan. Tidak hanya itu, harus bisa membaca permainan lawan,” ungkapnya.
Ada yang unik dalam perjalanan PON kali ini bagi Galih. Pada babak final dia dipertemukan lagi dengan atlet dari Papua yang pernah dilawannya pada final PON tiga tahun lalu. Jika pada 2021 lalu, Galih dapat dikalahkan oleh atlet Papua itu.
Sekarang Galih dapat membalaskan kekalahannya dengan meraih medali emas di depan atlet asal pulau cendrawasih itu.
Dia tidak menyangka bakal bertemu atlet Papua itu lagi dalam babak final PON. Galih hanya berfokus untuk mencapai target kompetisinya untuk meraih medali emas dan membanggakan orang terdekatnya.
Kesuksesan Galih dalam gelaran PON tidak lepas dari peran pelatihnya. Dia berhasil mengikuti arahan sang pelatih dan sudah berusaha menunjukkan penampilan yang maksimal.
Syukurnya, selama pertandingan PON yang berlokasi venue muaythai di Aceh, Galih tidak merasakan kendala apapun.
“Saya sudah persiapkan mental dan fisik jauh-jauh hari. Seperti berat badan, pada H-3 bulan sudah harus dikondisikan. Dengan begitu, berat badan bisa sesuai standar kompetisi 48 kg hingga 54 kg. Jika mengkondisikan berat badan dekat pertandingan, bisa fatal,” tutur Galih.
Laki-laki 26 tahun ini menceritakan awal menjadi atlet muaythai sejak umur 17 tahun. Namun, dia sudah menggemari bela diri sejak kecil. Menurutnya, daripada menyalurkan bela diri di jalanan, lebih baik untuk prestasi.
Pertandingan bela diri pertamanya dengan mengikuti pencak dor yang ada di Kabupaten Blitar.
Setelah itu, dia bertemu dengan pelatih muaythai untuk menjadi atlet professional hingga mengikuti kejuaraan daerah. Bahkan belasan medali perunggu hingga perak tersusun rapi di lemari kamarnya.
Galih sempat merasakan kompetisi muaythai tingkat dunia di Thailand pada 2023 lalu. Kompetisi itu event besar yang pernah diikutinya.
Hasilnya, dia sukses meraih juara 3 setelah tumbang dari atlet Iran. Meskipun begitu, hal itu menjadi pelajaran untuk bekalnya di PON.
“Saat ini saya masih mencari seleksi untuk dapat mengikuti ajang Sea Games tahun depan. Target terbesar saya dapat mengikuti ajang internasional itu. Kalau terwujud itu merupakan hal pertama bagi saya. Tentu saya akan berusaha tampil dengan maksimal, karena harus mengibarkan bendera Indonesia di kancah dunia,” pungkasnya. (*/sub)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila