BLITAR - Perhatian dara ini terhadap kondisi lingkungan patut dijadikan contoh buat anak muda yang lain. Yayang Meilinda Putri namanya.
Selain aktif sebagai seorang model, dia juga begitu getol mengkampanyekan isu-isu tentang sadar lingkungan bersih dan sehat.
Tak hanya itu, dia bahkan berupaya untuk membuat beberapa alat untuk menyentuh generasi muda agar peduli akan lingkungan.
BERAWAL dari perasaan miris melihat lingkungan yang kurang terawat dan sampah yang dibuang sembarangan hingga berserakan dan menyebabkan banjir.
Hal ini membuat Yayang Meilinda Putri, dara asal Kecamatan Desa/Kecamatan Panggungrejo, getol menyuarakan isu lingkungan.
Berbagai tindakan sudah dilakukan, baik secara individu atau projek bersama dengan kawan sebaya.
“Awalnya itu saat saya berangkat sekolah kan lewat jembatan ya. Di sana, sampah menumpuk dan terkesan sangat jorok. Dari situ, saya ingin mengubah kebiasaan keadaan ini, tentunya mulai dari diri saya sendiri,” terangnya.
Tercatat sudah tiga tahun dia menyuarakan unek-unek ke masyarakat di lingkungannya. Terutama semenjak terpilih sebagai model. Suaranya semakin lantang melalui organisasi tempatnya bernaung dan sosial media.
Sepanjang karier, perempuan yang suka eksperimen ini telah membuat penemuan-penemuan untuk menyadarkan masyarakat.
Tentu tak asal buat, dia selalu memposisikan diri sebagai masyarakat agar jika projeknya jadi bisa bermanfaat dan bukan malah mempersulit.
Misalnya, pembuatan tempat sampah pintar yang memiliki sensor suara yang dikhususkan untuk anak-anak.
Hal ini bertujuan agar kesadaran itu terpupuk sedari kecil. Selain alat tersebut, dia juga membuat barcode pada tanaman dengan melalui pin.
“Zaman sekarang ini kan sudah canggih ya. Jadi, saya rasa kertas yang di-laminating itu kurang menarik. Makanya saya berinisiatif dengan melalui pin atau gantungan barcode yang hanya membutuhkan scanning untuk mengetahui isi data,” jelasnya.
Tentu tak mudah, sejauh ini kendala yang sering dihadapai ialah terbentur dana riset dan persetujuan dari guru pembimbing. Kendati demikian, langkahnya tidak pernah pupus.
Rasa cintanya terhadap lingkungan yang bersih dan perhatiannya pada isu lingkungan membuat gadis 18 tahun ini sering diminta untuk menjadi pembicara.
Momen di panggung tersebut dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan dan ajakan untuk sadar lingkungan.
Dia menyadari bahwa semakin dibiarkan sampah berserakan, justru bisa menimbulkan dampak negatif seperti bau menyengat, jadi sumber penyakit, dan tentu sangat mengganggu pemandangan.
“Untuk menyadarkan masyarakat itu memang butuh proses, enggak bisa instan. Makanya saya sering melakukan riset, diskusi, atau penelitian bersama teman sejawat agar masyarakat sadar. Namun itu butuh waktu kan. Di saat jadi MC, saya selalu sampaikan kampanye ini,” ujar perempuan yang memiliki hobi public speaking tersebut.
Selain mengekspresikan diri di hadapan publik, juga lewat berbagai kegiatan. Perempuan yang masih duduk di bangku SMA ini juga langsung memberikan contoh seperti mengajak memanfaatkan kantong keresek agar tidak sekali pakai dan mengambil sampah berserakan.
Serta, mengimbau orang sekitar agar membiasakan diri untuk membuang sampah di tempatnya.
“Walaupun saya sudah banyak berusaha, namun masih saja saya menemukan masyarakat yang habis jajan sampahnya dibuang sembarangan. Ini menandakan bahwa usaha saya masih belum tuntas dan mungkin butuh effort lebih keras lagi,” jelasnya. (mg2/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila