Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Sumardi, Atlet Disabilitas Cabor Boccia Asal Blitar, Sempat Terkendala Masa Latihan dan Alat Tak Standar

Muhamad Ilham Baha’udin • Jumat, 18 Oktober 2024 | 21:00 WIB

 

GIGIH: Sumardi didampingi Ketua KNPI Kabupaten Blitar seusai bertanding di ajang Peparnas beberapa waktu lalu.
GIGIH: Sumardi didampingi Ketua KNPI Kabupaten Blitar seusai bertanding di ajang Peparnas beberapa waktu lalu.

BLITAR - Tak jarang orang dengan keterbatasan fisik kerap kali dipandang sebelah mata. Meskipun begitu, banyak dari mereka yang mampu berprestasi, seperti Sumardi. Warga Desa Serang, Kecamatan Panggungrejo, ini membuktikan bahwa dia mampu bersinar melalui cabang olahraga (cabor) boccia.

Minimnya masa latihan dan alat latihan yang kurang mendukung tak menghalangi Sumardi untuk menorehkan prestasi di kancah nasional.

Meskipun sempat mengalami grogi karena harus melawan atlet-atlet yang memiliki jam terbang lebih tinggi, dia berhasil menyabet medali perunggu pada laga Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) beberapa waktu lalu.

“Kami hanya latihan di pusat latihan kabupaten selama dua minggu. Jauh dibanding atlet dari provinsi lain yang sudah berlatih berbulan-bulan,” ungkapnya mengawali pembicaraan.

Sebab, lanjut dia, di Jawa Timur, cabor boccia masih terbilang salah satu cabor baru. Bahkan, di Jawa Timur, perlombaan untuk cabor tersebut baru dihelat dua kali.  

“Iya, lawan kami dari atlet-atlet elite dan beberapa sudah pernah masuk kancah nasional maupun Asean Para Games. Sempat grogi karena lawan memiliki jam terbang yang tinggi. Alhamdulillah bisa bertanding sampai final,” kenangnya.

Dia mengaku lawan terberat yang dihadapinya adalah perwakilan kontingen Jawa Tengah. Selain itu, kontingen Jogjakarta dan Papua Barat memiliki kemampuan 11-12 dengannya sehingga membutuhkan sedikit taktik.

“Nah, yang Jawa Tengah itu atletnya sudah pernah juara nasional dan Asean Para Games. Kalau Jogjakarta dan Papua Barat masih bisa menang. Saya bertemu atlet Papua Barat lagi di perebutan juara ketiga. Saya menang dengan skor 7-2,” bebernya.

Tidak adanya suporter dari Jawa Timur tidak membuatnya berkecil hati. Berbekal fokus dan kesiapan mental membuatnya menempati podium ketiga.

“Dari daerah lain banyak suporter, kontingen Jawa Timur tidak ada. Tapi harus tetap ekstra fokus, jika kurang fokus, hasilnya kurang optimal. Jangan sampai terpengaruh hal-hal di luar lapangan,” tegasnya.

Awal mula terjun menjadi atlet boccia, tutur dia, karena dihubungi oleh ketua NPCI Kabupaten Blitar. Bermodal pencarian di internet, dia mengiyakan untuk bergabung menjadi salah satu atlet.

“Jadi, waktu Juni itu mendekati ajang peparprov dihubungi untuk menjadi salah satu atlet. Belajar pengenalan seadanya lewat YouTube. Kurang 10 hari berangkat, baru berlatih dengan alat yang jauh dari standar,” katanya.

Meskipun belajar otodidak dan tanpa pelatih, saat itu dia bisa mendapatkan juara pertama dan mewakili Jawa Timur di ajang Peparnas. Dia berharap pemkab bisa melirik para atlet paralimpiade.

“Harapan saya, khususnya pemkab, ke depan bisa mendukung atlet disabilitas. Sehingga bisa mendapat fasilitas tempat dan alat agar bisa berlatih lebih baik dan mendapatkan prestasi yang memuaskan di ajang berikutnya,” pungkasnya. (*/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#kecamatan panggungrejo #boccia #perpanas #keterbatasan fisik