BLITAR - Tak banyak dokter yang mengambil spesialis di bidang andrologi. Salah satunya, dr Cinta Ayu Abutari, warga Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar, yang merupakan satu-satunya dokter spesialis andrologi di Blitar dan beberapa kota sekitarnya.
Jarang ditemui dokter spesialis andrologi di Blitar. Padahal, bidang ini cukup penting untuk menangani masalah kesehatan reproduksi, kesuburan, dan seksual pria.
dr Cinta Ayu Abutari menjadi dokter spesialis andrologi satu-satunya yang ada di Bumi Bung Karno. Tidak hanya di Kota Blitar, beliau ini juga melayani pasien di Kabupaten Blitar dan Tulunggagung.
“Saya saat ini melakukan pelayanan Klinik Andrologi di RS dr Iskak Tulungagung, di RSU Aminah Blitar, dan RSUD Ngudi Waluyo Wlingi. Tapi, pasien yang datang tak hanya dari tiga wilayah itu, bahkan dari daerah lain seperti Trenggalek, Kediri, hingga Malang,” jelasnya.
Menjadi seorang dokter merupakan cita-citanya sejak kecil. Dia lulus pendidikan dokter umum pada 2010 di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Kemudian, dia melanjutkan spesialis andrologi di Universitas Airlangga dan lulus pada 2020.
“Iya, saya mencari spesialisasi yang unik dan memberi peluang lebih besar yang sekiranya di Blitar belum ada. Dokter spesialis andrologi itu juga punya banyak kesempatan selain bisa bergerak di bidang kesehatan juga bisa menjadi peneliti dan pengajar. Pendidikan dokter spesialis andrologi satu-satunya di Indonesia juga masih adanya di UNAIR Surabaya. Saat itu saya kuliah sambil membawa dua anak saya yang saat itu masih TK dan SD,” kenangnya.
Cinta, sapaan akrabnya, meyebut spesialisnya cukup langka di Indonesia. Bahkan, secara keseluruhan, jumlah dokter spesialis andrologi tidak sampai 110 orang di seluruh Indonesia.
Secara umum, bidang andrologi memiliki lima pilar yang mencakup kesuburan pria, gangguan seksual pria (disfungsi ereksi, gangguan ejakulasi), gangguan perkembangan penis anak (mikropenis anak), hipogonadisme/andropause, kontrasepsi pria.
“Meski banyak kasus yang terjadi, sering kali hal ini seperti fenomena gunung es. Banyak pria enggan memeriksakan diri karena stigma atau ketidaktahuan tentang ke mana harus mencari bantuan, terutama terkait masalah ketidaksuburan dan seksualnya," ungkapnya.
Dia membeberkan, selama ini apabila terjadi masalah infertilitas, kerap kali perempuan yang sering disalahkan. Padahal, pria juga perlu melakukan pemeriksaan kuantitas dan kualitas sperma jika istri dinyatakan tidak ada masalah.
Baca Juga: Jumlah Belum Ideal, Kabupaten Blitar Masih Kekurangan Dokter Umum, Ini yang Dilakukan Dinkes
“Pernah suatu waktu ada pasien yang datang setelah lima tahun menikah belum dikarunia anak. Nah, setelah diperiksa ternyata suaminya tidak ditemukan sel sperma dalam maninya atau azoospermia,” katanya.
Selain itu, andrologi juga berperan dalam evaluasi analisis sperma pre dan post vasektomi untuk memastikan vasektomi tersebut berhasil.
“Vasektomi itu kan indikator berhasilnya arus zero sperma ya, makanya di pre, kita evaluasi seperti apa jumlah awalnya. Baru dibandingkan dengan pascavasektomi,” ujarnya.
Dia berharap dalam momen Hari Dokter ini para dokter terus berperan sebagai garda terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat, dengan dedikasi dan empati yang tulus. Khususnya dalam bidang spesialis seperti andrologi, semoga kesadaran akan pentingnya kesehatan pria semakin meningkat sehingga lebih banyak pria yang berani memeriksakan diri tanpa takut stigma.
"Merdekalah dalam berkarya untuk kesehatan masyarakat secara luas. Terima kasih kepada para dokter atas dedikasi dan pengorbanan dalam menjaga kesehatan masyarakat,” pungkasnya. (*)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila