BLITAR - Bumi Penataran minim atlet takraw perempuan. Olahraga ini memang banyak digemari oleh kaum adam dan kurang diminati perempuan.
Namun, berbeda dengan Vitria Maharani. Warga Desa Karanggayam, Kecamatan Srengat, ini justru menorehkan banyak prestasi di level kabupaten, provinsi, dan nasional lewat sepak takraw.
Selama 4 tahun terakhir, Vitria mengikuti pemusatan latihan untuk bisa tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) Ke-XXI di Aceh—Sumatra Utara.
Dia jarang pulang, sesekali ke rumah ketika Hari Raya Idul Fitri dan hari-hari tertentu saja. Meskipun begitu, pengorbanannya membuahkan hasil karena pulang membawa medali emas dan perunggu.
“Saya sempat cedera lutut sebulan sebelum pertandingan di PON. Namun sudah dilakukan perawatan intensif di rumah sakit. Setiap hari bolak-balik ke rumah sakit untuk fisioterapi,” ujar Vitria, Jumat (25/10).
Tidak hanya itu, kakinya sempat diperiksa dengan MRI (magnetic resonance imaging) dan direkomendasikan untuk dioperasi. Namun, Vitria merasa kakinya sudah mendingan dengan rawat jalan.
Dampaknya, Vitria harus melakukan latihan tersendiri dengan program khusus untuk persiapan PON.
Syukurnya, kondisinya seminggu sebelum pertandingan sepak takraw di PON berangsur membaik.
Meskipun begitu, dia harus memakai decker dan tapping selama latihan bersama teman-temannya. Hal itu untuk menjaga keamanan dari kaki atau lutut yang hingga kini kadang masih terasa sakit.
“Kalau saya berpikir tidak bisa main lagi karena cedera ini, mungkin kondisinya lebih parah lagi. Tapi saya berpikir cedera ini sudah sembuh dan hanya peradangan. Selain itu, obat anti nyeri rumah sakit juga sudah diberikan yang terbaik. Alhamdulilah H-7 sudah bisa smash,” ungkapnya.
Ketika pertandingan, Vitria bersama Tim Sepak Takraw Putri Jawa Timur berhasil membawa pulang medali emas dan perunggu.
Saat perebuatan emas, dia dan teman-teman menghadapi tim asal Sulawesi Selatan dan mendapatkan perlawan yang tangguh. Hingga akhirnya dapat menyumbang medali yang diharapkan banyak orang.
Medali emas dan perunggunya ini juga menjadi hadiah paling bagus bagi Vitria yang baru saja melangsungkan pernikahan seminggu yang lalu.
Jarang atlet mendapatkan hadiah medali emas di momen pernikahannya. Acara ini sudah dipersiapkannya setahun yang lalu karena sudah lebih dulu melangsungkan tunangan.
Setelah itu, Vitria masih belum ada rencana untuk melanjutkan kompetisi sepak takraw.
Karena, cabang olah raga sepak takraw ini jarang ada kompetisi pada umurnya yang sudah kepala dua.
Sementara Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jatim tahun depan, dia sudah tidak bisa mengikuti karena terbatas umur.
Perempuan 23 tahun ini masih mengharapkan bisa mengikuti kompetisi PON di NTB pada 2028 mendatang.
Namun, kompetisi itu juga belum pasti karena ada wacana cabor sepak takraw tidak diberangkatkan.
Dengan begitu, Vitria terus menanti kabar dari Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PSTI).
Sebenarnya, Vitria tidak didukung oleh orang tuanya untuk menjadi atlet sepak takraw karena dinilai berbahaya.
Namun, dia dapat membuktikan dengan membawa prestasi ketika masih duduk di sekolah dasar hingga berkompetisi di luar kota. Bahkan, sebelum PON, dia dapat meraih medali emas pada Poprov 2023 lalu.
“Saya sempat mencoba voli, tapi saingannya cukup banyak ketika sekolah dulu. Sehingga fokus untuk takraw saja, tidak banyak atlet perempuan yang ikut. Syukurnya membawa prestasi hingga sekarang,” pungkasnya. (jar/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila