BLITAR - Tidak banyak calon guru yang tertarik bekerja sebagai pendidik bahasa Jawa. Berbeda dengan Diah Retno Pambayun, guru bahasa Jawa SMPN 1 Binangun.
Hal ini justru membuatnya menguasai keterampilan pambiwara atau MC Jawa, geguritan, hingga tari tradisional.
Ayun -sapaan akrabnya- mengaku, keterampilannya dalam berbahasa Jawa mengantarnya untuk mendapatkan rezeki tambahan selain gaji seorang guru.
Dia beberapa kali menjadi pembawa acara dalam kegiatan sekolah hingga dipercaya menjadi pambiwara pada hajatan manten di Blitar.
“Saya sudah menjadi guru bahasa Jawa di SMPN 1 Binangun sejak 2021. Pada tahun pertama mengajar, alhamdulillah bisa meraih prestasi dengan menjuarai lomba membaca geguritan tingkat nasional. Padahal saat itu saya sedang mengantarkan murid ikut lomba itu,” ujar Ayun.
Dia menuturkan, lomba yang digelar untuk tingkat SMP, SMA, dan umum.
Ayun yang saat itu hanya berniat mengantarkan murid-murid lomba macam geguritan, tiba-tiba tertarik mencoba lomba tersebut di tengah latihan bersama anak didiknya. Ternyata justru dia yang menang pada kategori umum tersebut.
Saat itu, ujar Ayun, tidak terlalu mempersiapkan diri dalam perlombaan membaca geguritan karena lebih fokus untuk melatih murid-murid.
Di sela-sela kegiatan itu, dia berlatih kesenian Jawa tersebut. Namun, dia kaget lantaran namanya justru keluar sebagai juara.
Tahun berikutnya, Ayun juga menorehkan prestasi dalam pembelajaranya. Dia meriah juara 2 inovasi pembelajaran (Inobel) guru jenjang SMP kategori IPSPB.
Dia mengangkat permasalahan pembelajaran yang memang kerap dikeluhkan para muridnya.
“Saya menerapkan tembang hanacaraka pada permainan dark board pada materi menulis aksara Jawa kelas 7. Dengan metode itu, siswa saya cukup menikmati belajar bahasa Jawa, terutama untuk menghafal aksara Jawa,” ungkapnya.
Ayun menjelaskan, siswa akan lebih menikmati belajar bahasa Jawa dengan bermain dan bernyanyi.
Karena alasan itu, dia menciptakan inovasi pembelajaran dengan dark board tersebut. Tentu diselingi dengan soal-soal materi bahasa Jawa.
Perempuan 26 tahun ini bersaing dengan puluhan guru dari sekolah negeri dan swasta di Kabupaten Blitar.
Syukurnya, Ayun berhasil meraih juara 2 karena dapat menerapkan inovasinya kepada siswa.
Pada tahun yang sama, Ayun juga berhasil menjadi finalis dalam festival baca puisi tingkat nasional di Bumi Bung Karno.
Saat itu, lombanya bertema nasionalisme yang diselenggarakan oleh New De Koloniale.
“Saya memang suka di bidang baca puisi, geguritan, pidato, dan pembawa acara. Maka dari itu, saya usahakan ada acara atau lomba terkait bidang itu diusahakan ikut. Siapa tahu bisa jadi juara,” tutur Ayun.
Baginya menjadi guru bahasa Jawa tidak hanya sekedar menyampaikan materi. Namun juga mengajarkan karakter peserta didik atau unggah-ungguh.
Selain itu juga pembiasan penggunaan bahasa Jawa. Kedua hal itu yang sulit. Meskipun begitu, ini menjadi sebuah tantangan dan kini murid-muridnya menikmati pembelajarannya.
“Saya juga memiliki kesempatan untuk berkarier sebagai pambiwara, mendalami kesenian tradisional seperti karawitan, seni tari, dan berbagai cabang seni lainnya. Hal inilah yang semakin menguatkan minatnya untuk menjadi guru bahasa Jawa. Bahkan sekarang saya juga nyambi sebagai MC Jawa di acara manten,” pungkasnya. (jar/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila