Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Lebih Akrab dengan Ummu Kultsum, Simak Perjalanan Inspiratif dari Pencak Silat hingga Mengawal Belanja Negara

Muhamad Ilham Baha’udin • Minggu, 1 Desember 2024 | 23:15 WIB
LUGAS: Ummu Kultsum dalam pemotretan untuk profil diri beberapa waktu lalu.
LUGAS: Ummu Kultsum dalam pemotretan untuk profil diri beberapa waktu lalu.

BLITAR - Ummu Kultsum, warga Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, memiliki perjalanan hidup yang penuh warna.

Bermula dari ketertarikannya pada pencak silat sejak kecil, hingga kini menjadi pegawai di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara di Kalimantan Selatan.

KETERTARIKANNYA pada pencak silat dimulai saat ia masih duduk di bangku sekolah dasar. Dia mengaku senang melihat orang berlatih bela diri.

“Rasanya seru melihat orang adu taktik dan pukulan. Apalagi sejak kecil saya memang cukup aktif dan pecicilan, sehingga orang tua saya melihat potensi tersebut dan akhir-nya mendaftar latihan saat SMP,” kenangnya. 

Perjalanan sebagai atlet pencak silat diwarnai berbagai pencapaian, seperti menjuarai O2SN Kabupaten Blitar dan mewakili daerah hingga tingkat provinsi.

Meski harus berhenti di sana, dia tak patah semangat dan kembali memenangkan beberapa turnamen, termasuk SMA Negeri Garum Cup sebagai juara pertama dan Kartini Cup keluar sebagai juara ketiga.

“Pengalaman di Kartini Cup menjadi momen paling dramatis menurut saya. Sehari sebelum bertanding, saya kecelakaan motor dengan ibu saya,” ungkapnya.

Menurut dia, meskipun dengan tulang rusuk yang sakit, dia tetap memaksa bertanding. Saat itu, lawan mengetahui kelemahan ini dan terus menyerang bagian tersebut. 

“Saya kesakitan hingga harus diberi bantuan oksigen. Meski menang di babak itu, saya harus walk out di babak berikutnya, tapi alhamdulillah tetap membawa pulang gelar juara ketiga,” bebernya.

Teknik dan stamina yang diasah lewat pencak silat ternyata berguna dalam kehidupannya, terutama saat menghadapi tes fisik untuk masuk Sekolah Tinggi Akutansi Negara (STAN) pada 2019.

Menurut dia, apa yang dipelajari di pencak silat membantu memaksimalkan stamina saat tes fisik. Kini, dia bekerja di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara yang mengawal belanja negara.

Dia kini ditempatkan di Kalimantan Selatan. Meski tidak sesuai preferensi awal, justru menjadi pengalaman yang membuka wawasan baru.

Berada di kota kecil yang berjarak lima jam dari ibu kota provinsi, membuatnya menghadapi banyak tantangan, termasuk harus belajar memahami bahasa Banjar yang sebelumnya sama sekali asing baginya.

Selain itu, dia bertemu dengan rekan kerja dari berbagai daerah, yang menambah keseruan dan dinamika dalam pekerjaannya.

“Awalnya tidak tahu apa-apa soal bahasa ini. Tapi lama-lama jadi mengerti dan bisa,” pungkasnya. (ham/c1/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pegawai #kalimantan selatan #pencak silat #Kecamatan Srengat