BLITAR - Aldewa Riskanadi atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Ki Dewa Somajendhra telah menapaki perjalanan panjang sebagai dalang di dunia seniman tradisi.
Dari sekadar hobi di masa kecil, hingga menjadi dalang dan penari dengan jam terbang tinggi. Hal ini secara tidak langsung mencerminkan kecintaannya pada warisan budaya seni tradisi.
“Aku mulai menari sejak SMP, meskipun awalnya tidak begitu serius. Lingkungan keluarga mendukung sekali. Ayah adalah guru tari yang juga memiliki sanggar, sementara ibu berasal dari keluarga wayang orang,” ungkapnya mengawali pembicaraan, Rabu (4/12).
Sanggar keluarganya, Sapu Djagat, pernah menjadi salah satu sanggar terbesar di Blitar Raya. Meski demikian, untuk menjadi seniman bukanlah hal mudah bagi Dewa.
"Waktu SMP ke SMA, aku dilarang jadi seniman karena ayah khawatir hidup di seni itu sulit. Beliau takut aku terlalu larut hingga nanti jarang pulang atau bahkan menetap di daerah lain," ujarnya.
Namun, cinta Dewa pada seni sulit dibendung. Diam-diam, dia bergabung dengan sanggar Patria Loka saat SMA karena sanggar keluarganya vakum.
Bahkan, dia juga mengikuti berbagai event tari dan pedalangan tanpa sepengetahuan orang tuanya.
"Waktu itu aku sering sembunyi-sembunyi. Tapi akhirnya dimaklumi setelah tampil di event besar seperti di Bali dan Prambanan," katanya.
“Dalam setahun biasanya aku bisa pentas tiga kali di acara besar atau tempat jauh. Sayangnya, Pekan Kesenian Bali kini sudah tidak ada lagi,” ujarnya.
Tak hanya menari dan mendalang, Dewa juga menciptakan karya kerajinan berupa barongan untuk menunjukkan kecintaannya pada seni tradisional yang terus berkembang.
Di SMA, dia bahkan bergabung dalam paduan suara dan berhasil mewakili Indonesia di ajang Busan Choral Festival and Competition 2016.
“Kami tampil di beberapa tempat selain venue utama, bahkan diundang oleh salah satu radio ternama di Korea. Itu pengalaman luar biasa,” kenangnya. (*/c1/hai)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila