BLITAR - Tidak semua orang bisa memilih hobi untuk menggantungkan hidup. Namun, berbeda dengan Andika Oky Arisandi yang memilih hobi fotografer dan meninggalkan profesinya sebagai guru.
Dia telah keliling tanah air untuk memotret kehidupan suku-suku Nusantara. Sudah 9 tahun dia melakoni profesi sebagai fotografer.
Sosok Oky Arisandi tentu tidak asing bagi para fotografer human interest di Indonesia. Karya fotonya memiliki khas tersendiri bagi penggemarnya karena menyajikan kehidupan desa yang alami dan natural.
Alasan Oky, sapaan akrabnya, karena memang sejak kecil suka dengan lukisan pedesaan. Hal itulah yang menginspirasinya untuk memotret atau memvisualkan dalam foto.
“Saya berasal dari kampung, dan banyak memori tentang masa kecil. Apalagi, hari Minggu banyak momen bersama keluarga dan lingkungan tempat tinggal saya. Jadi, saya ingin mengabadikan visual itu dalam foto,” ujarnya.
Memilih bekerja sebagai seorang fortografer ini berawal dari hobi yang digeluti sejak SMA. Awalnya dengan melakukan hunting foto di sekitar Blitar.
Lalu, ketika di bangku kuliah, dia bertemu dengan teman yang memiliki hobi sama. Kerap saling berbagi ilmu fotografi. Setelah itu, mulai serius untuk menekuni hobi foto.
Ternyata, Oky belajar fotografi ini secara otodidak, yakni dengan hunting bareng bersama teman komunitas.
Dia bukan praktisi dalam bidang ini, bahkan sarjananya merupakan lulusan pendidikan olahraga. Oky sempat menjadi guru olahraga di suatu SMA di Kabupaten Blitar pada 2013 silam.
Menjadi guru tidak menghalangi Oky untuk menekuni hobinya. Dia selalu menyempatkan diri sebelum dan sepulang sekolah untuk memotret aktivitas di desanya.
Karena guru olahraga, biasanya memang sibuk mengajar ketika pagi hari, setelah pulang banyak dimanfaatkan untuk terus mengasah kemampuan fotografi.
“Waktu itu banyak orang yang ingin belajar fotografi kepada saya. Maka dari itu, saya membuat komunitas bernama Insan Indonesia. Komunitas ini gratis, kegiatannya berbagi ilmu dan hunting foto bareng,” ungkapnya.
Pada 2015, Oky mendapatkan pekerjaan tingkat nasional dari Kementerian Pariwisata. Dari hal itu, dia melihat potensi untuk berbagi ilmunya kepada masyarakat luas, tentunya juga tambahan rezeki.
Karena tidak hanya menciptakan Insan Indonesia, Oky juga membuat komunitas baru bernama Kampung Nusantara, yang harus berbayar jika ingin bergabung.
Kampung Nusantara ini menjadi workshop fotografi yang langsung dimentori olehnya dengan pengalaman keliling kampung di Indonesia. Kegiatan ini diadakan tiga kali dalam sebulan dan dibatasi hanya untuk 12 orang.
Tentu pekerjaan ini menyita waktu dan tenaga. Hingga akhirnya, Oky memutuskan untuk berhenti menjadi guru pada 2018.
Langkahnya banyak disayangkan oleh pihak keluarga. Mereka menganggap pekerjaan sebagai fotografer merupakan pekerjaan tanpa penghasilan tetap.
“Kurang lebih sebulan, saya putuskan berhenti dari guru. Saya mendapatkan pemasukan dari fotografi yang cukup lumayan menjanjikan. Keluarga terkejut, akhirnya mendukung hingga berjalan 9 tahun ini,” tutur Oky.
Baginya, dunia fotografi bisa memberikan manfaat bagi orang lain. Buktinya, ketika proses kegiatan Kampung Nusantara, dia menghabiskan Rp 5–10 juta untuk berbagi rezeki kepada masyarakat yang bersedia menjadi talent untuk difoto. Uang itu juga digunakan untuk menikmati kuliner yang ada di kampung tersebut.
Bahkan, dari Kampung Nusantara ini, dia banyak membuka lapangan pekerjaan. Dia memiliki enam kru yang membantunya di setiap kegiatan. Mereka tentu hidup dari komunitas yang dibuat oleh laki-laki asal Kesamben ini.
“Banyak talent yang ingin kembali dikunjungi kampungnya untuk dieksplor. Dari hal itu, saya berpikir bahwa pekerjaan saya juga bisa memberikan banyak manfaat,” pungkasnya. (*/c1/ady)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila