BLITAR - Sudah 36 tahun Jaranan Eklek mewarnai pertunjukan seni dan budaya di Kota Blitar.
Munarsih selaku penciptanya pun diganjar penghargaan dari Pemerintah Kota (Pemkot) Blitar. Tarian tradisional khas Bumi Bung Karno itu terus diajarkan kepada generasi muda agar tak punah.
Alunan musik dari gamelan menggema di Taman Plaza Monumen PETA pada Sabtu (14/12) pekan lalu.
Tabuhan gong, kendang, bonang, hingga saron mengiringi gerakan para penari jaranan malam itu. Gerakan yang indah dipadukan dengan kostum penari yang anggun.
Gerakan tari jaranan yang ditampilkan di Monumen PETA itu begitu indah. Yang unik, para penarinya adalah perempuan. Mereka menampilkan tari jaranan khas Kota Blitar yakni Jaranan Eklek.
Jaranan Eklek menjadi salah satu jenis tari jaranan yang sudah lama dimainkan sejak lebih dari 30 tahun lalu.
Sosok yang berjasa di balik Jaranan Eklek adalah Munarsih, pensiunan aparatur sipil negara (ASN) warga Kelurahan Karangsari, Kecamatan Sukorejo, Kota Blitar. Sejak diciptakan pada 1988 silam, tari khas Kota Blitar ini tetap eksis hingga kini.
Berkat kegigihan melestarikan Jaranan Eklek, Munarsih pun diganjar penghargaan oleh Pemkot Blitar sebagai Pelestari Jaranan Eklek.
Waktu 36 tahun memang tak mudah untuk mempertahankan sebuah kesenian tari agar tetap lestari.
"Tari jaranan ini banyak jenisnya. Bahkan sebagian ada yang nyaris punah," kata perempuan 75 tahun ini.
Munarsih bersyukur masih bisa diberikan kekuatan untuk melestarikan Jaranan Eklek. Namun, usia yang tidak lagi muda dan kekuatan fisik tak seperti dulu lagi, kesenian Jaranan Eklek itu kini dipasrahkan kepada penerus, anak didiknya.
"Semua sudah saya pasrahkan kepada anak didik atau bisa saya bilang kader. Dia yang mengajarkan dan melatih Jaranan Eklek ini kepada anak-anak generasi muda lewat sanggar yang kami dirikan," ungkap ibu dua anak ini.
Sejarah terciptanya Jaranan Eklek ini berawal dari kegundahan hati Munarsih terhadap kesenian jaranan.
Memang sudah sejak usia anak-anak, dia jatuh cinta terhadap jaranan. Dia mulai menekuni tari jaranan sejak kelas 3 SD.
Munarsih kala itu bergabung dengan sanggar tari di Rumah Gebang (kini Istana Gebang). Rumah Gebang itu menjadi pusat kesenian, salah satunya seni tari.
"Saya belajar tari di rumah Bu Wardoyo itu. Sejak menekuni tari itu, saya sering mengikuti lomba hingga diundang ke acara-acara tertentu untuk pentas," kenangnya.
Berjalannya waktu, muncul gejolak dalam batinnya. Dia melihat gerakan pada tari jaranan yang dimainkan kala itu monoton alias begitu-begitu saja.
Saat itulah muncul ide untuk mengembangkan gerakan tari jaranan agar lebih menarik dan indah dilihat.
Kemudian, pada 1988, Munarsih berinisiatif mengajak rekan-rekannya sesama pegiat seni untuk menciptakan gerakan tari jaranan baru beserta musik pengiringnya. Kebetulan, dia sudah menciptakan gerakan jaranan baru yang telah dimodifikasi.
"Gerakan baru ini saya ciptakan dengan tanpa meninggalkan pakem dari gerakan jaranan itu sendiri," jelasnya.
Gerakan anyar yang diciptakan itu terinspirasi dari cerita rakyat dan cerita panji. Filosofi dari gerakan Jaranan Eklek ini mengisahkan tentang karakter dari sang panji yang sedang meninggalkan kerajaan sehingga dalam perjalanan mengalami cobaan hidup.
Kemudian, nama Eklek pada Jaranan Eklek diartikan sebagai suara yang dihasilakan dari alat musik angklung.
"Jadi, di Jaranan Eklek ini kami beri sentuhan musik angklung. Kalau sebelumnya kan jaranan itu dominan pakai alat musik kendang, ganong, dan lainnya. Intinya, kami ingin berikan warna musik yang berbeda," ujar nenek lima cucu ini.
Dalam meciptakan tarian Jaranan Eklek, Munarsih tidak sendiri. Dia dibantu rekan-rekan sejawatnya. Peran mereka berbeda-beda tergantung potensi seni yang dimiliki.
Nah, Munarsih fokus pada penciptaan gerakan tari, sementara rekan lainnya ada yang bertugas sebagai penata musik, penata kostum, dan lain sebagainya. Kurang lebih sebulan, tari Jaranan Eklek itu tercipta.
Singkat cerita, tari Jaranan Eklek itu diikutkan lomba tingkat regional. Kala itu, Munarsih dkk mewakili Blitar dalam lomba tari tersebut.
"Alhamdulillah, saat itu kami dapat nomor juara. Bagi saya, perjuangan saat itu tidaklah mudah. Pasti ada kesulitan-kesulitan," tuturnya.
Seiring waktu, Jaranan Eklek ini terus diajarkan kepada generasi ke generasi berikutnya. Munarsih mengakui ada sedikit perubahan pada warna musik pengiring Jaranan Eklek.
Pasalnya, sebagian besar rekan sejawat Munarsih pengisi musik sudah meninggal dunia. Yang masih ada yaitu pemain kendang. "Namanya Pak Sumitro. Tapi, dia kini sakit stroke," ungkapnya.
Salah satu temannya yang meninggal dunia adalah pengisi suara seruling. "Jadi, kini iringan musik Jaranan Eklek tanpa suara seruling. Namun, saya masih menyimpan rekaman musik aslinya," tandasnya.
Nah, yang khas dari gerakan Jaranan Eklek adalah adanya unsur gembira, gagah, gecul, jenaka, dan perkasa. Sementara itu, mayoritas penari adalah kaum perempuan.
”Sebenarnya laki-laki pun bisa. Namun, karena saya perempuan, lebih enak melatih yang sama-sama perempuan,” tuturnya lantas tersenyum.
Munarsih sudah sejak lama dikenal sebagai seniman tari. Tidak hanya jago menari jaranan, tetapi juga melihat menari tradisional lainnya. Salah satunya adalah Tari Remo.
Dedikasinya terhadap dunia seni dan budaya lokal itu diwujudkan dengan mendirikan sanggar Wijaya Kusumo.
Sanggar itu hingga kini masih bertahan dan dikelola oleh anak didiknya. Selain itu, anaknya juga mendirikan sanggar sendiri.
Munarsih berharap kesenian tari tradisional daerah bisa terus dilestarikan. Generasi-generasi muda harus peduli terhadap seni dan budaya bangsa sendiri.
"Intinya, mari bersama-sama nguri-uri budaya, terutama budaya Jawa. Jika bukan kita, siapa lagi," pungkasnya. (*/c1/din)
Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila