Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sosok Nafisa Putri Salsabila, Dibalik Film Super Hero Santri, Terbaik Media Pondok Jatim 2024

Fajar Rahmad Ali Wardana • Minggu, 29 Desember 2024 | 01:50 WIB
KREATIF : Nafisa Putri Salsabila (kanan) santri Pondok Pesantren  Mambaul Hikam, Sidoarjo menjadi pemenang film terbaik di ajang Festival Media Pondok Jatim 2024.
KREATIF : Nafisa Putri Salsabila (kanan) santri Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Sidoarjo menjadi pemenang film terbaik di ajang Festival Media Pondok Jatim 2024.

BLITAR - Tidak banyak orang tahu tentang dunia pondok pesantren (ponpes), yang ternyata banyak melahirkan karya-karya yang luar biasa, salah satunya lewat film.

Hal itu dilakukan oleh sejumlah santri dari Pondok Pesantren Mambaul Hikam, Sidoarjo yang berhasil meraih predikat karya terbaik lomba film pendek dalam Festival Media Pondok Jatim (MPJ) 2024 yang dihelat di Kota Blitar.

Nafisa Putri Salsabila, 18, menjadi santri yang berada di balik layar pembuatan film berjudul “Super Hero Santri” untuk mengikuti Festival Film MPJ 2024 ini.

Dia yang menjadi penulis naskah film yang menjadi nominasi terbaik dalam MPJ 2024 ini. Tahun ini, bukan kali pertama mereka mengikuti kompetisi ini.

Mereka mengikuti kompetisi ini untuk kali ke 3, dan beberapa kali sukses membawa pulang piala.

“Kami membuat judul film Super Hero karena sesuai dengan tema Ayo Mondok dari panitia MPJ Jatim. Dengan tema itu, kami berusaha membuat karya yang dapat mengajak penonton tertarik untuk mondok atau masuk ponpes,” ujar Nafisa, ketika ditemui di Pondok Pesantren Bustanul Mualimin, kemarin (27/12).

Dalam film ini, dirinya dan kru ingin menunjukkan bahwa pendidikan di ponpes tidak selalu dipandang buruk.

Apalagi dalam beberapa waktu terakhir, banyak berita yang mencoreng dunia ponpes, sehingga citranya semakin surut.

Tentu mereka ingin menunjukkan sisi dari pendidikan Islam yang keren dan dapat menarik minat generasi Z.

Nafisa mengaku, alur film yang dibuatnya menceritakan tentang seorang anak laki-laki yang mengatakan ke ibunya bahwa ingin menjadi super hero.

Dalam film itu, si ibu merespons permintaan anaknya dengan mengantarkan ke ponpes. Tentu orang tua ingin anaknya dapat mendapatkan pendidikan yang terbaik untuk masa depan.

“Dengan maksud, orang tua tersebut berkeinginan anaknya dapat menjadi super hero di ponpes. Bisa menjadi pahlawan dalam hal Pendidikan, dan dapat berguna di masyarakat luas. Semoga yang menonton dapat menangkap pesan tersebut,” ungkapnya.

Setelah menerima apresiasi sebagai karya terbaik, mereka tidak akan berhenti belajar membuat film.

Mereka ingin memperbaiki konten-konten dakwah, karena baginya dengan menang tentu menambah semangat untuk membuar karya yang lebih baik.

Menurut dia, membuat film Super Hero Santri ini selama 2 minggu. Tentu menemui beberapa kendala, salah satunya jadwal syuting yang bertabrakan dengan kegiatan belajar sekolah dan pesantren.

Apalagi juga melibatkan keluarga ndalem dari kyai pemilik ponpes sebagai peran orang tua.

“Kami membuat film hampir setiap tahun. Apalagi ketika Ramadhan ada program untuk membuat film. Tentu dengan progam itu menambah kemampuan santri dalam memproduksi karya audio visual ini,” pungkasnya. (jar/ady)

Editor : Jihan Wahida Rahma Salsabila
#pondok pesantren #film #festival #lomba film pendek