BLITAR - Career catfishing kini menjadi tren yang semakin marak di dunia kerja, khususnya di kalangan Generasi Z (Gen Z). Istilah ini merujuk pada praktik melebih-lebihkan, memalsukan, atau mengubah informasi dalam CV, portofolio, atau profil profesional guna meningkatkan peluang mendapatkan pekerjaan.
Dengan persaingan kerja yang semakin ketat, banyak Gen Z merasa perlu melakukan berbagai cara agar bisa menonjol di mata perekrut, termasuk dengan memanipulasi pengalaman kerja atau keterampilan mereka.
Salah satu alasan utama career catfishing terjadi adalah tuntutan keterampilan yang tinggi dari perusahaan. Saat ini, banyak industri mencari kandidat dengan kemampuan teknis spesifik seperti coding, data analysis, atau digital marketing. Merasa belum cukup memenuhi kriteria, sebagian Gen Z memilih untuk “membumbui” CV mereka agar terlihat lebih kompeten. Selain itu, tekanan sosial juga berperan besar dalam fenomena ini.
Media sosial kerap menampilkan kesuksesan instan, sehingga banyak anak muda merasa terbebani untuk mencapai pencapaian besar dalam waktu singkat. Demi mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi dan stabilitas finansial, mereka terkadang tergoda untuk memanipulasi informasi dalam resume mereka.
Kemudahan akses terhadap teknologi dan kecerdasan buatan (AI) juga turut mempercepat tren ini. Dengan berbagai alat digital, seseorang bisa dengan mudah membuat portofolio yang dimodifikasi atau bahkan menambahkan pengalaman kerja yang tidak pernah mereka jalani. Sayangnya, meskipun career catfishing dapat membantu seseorang mendapatkan pekerjaan dalam jangka pendek, konsekuensinya bisa sangat merugikan.
Jika ketidaksesuaian informasi terungkap, pelaku bisa kehilangan pekerjaan, menghadapi sanksi profesional, atau bahkan merusak reputasi mereka di dunia kerja. Selain itu, perusahaan yang merekrut kandidat yang tidak sesuai dengan harapan akan mengalami kerugian dari segi waktu dan produktivitas.
Sebagai respons terhadap fenomena ini, banyak perusahaan kini menerapkan strategi seleksi yang lebih ketat, seperti uji keterampilan langsung, pengecekan referensi mendalam, hingga penggunaan AI untuk mendeteksi ketidaksesuaian dalam resume.
Oleh karena itu, penting bagi Gen Z untuk fokus membangun keterampilan yang autentik daripada mengambil jalan pintas dengan career catfishing. Mengikuti pelatihan, menjalani magang, atau mengerjakan proyek freelance bisa menjadi cara yang lebih baik untuk meningkatkan daya saing di dunia kerja. Kejujuran dan kerja keras tetap menjadi kunci utama untuk meraih kesuksesan jangka panjang dalam karier. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah