BLITAR - Bagi Dzuria Hilma Qurotu Ain, menulis bukan sekadar hobi, melainkan sudah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya. Sejak kecil, warga Desa Jatitengah, Kecamatan Selopuro, ini telah akrab dengan dunia literasi berkat dukungan orang tua yang sering membelikannya majalah Bobo dan buku.
Bahkan, kecintaannya pada menulis terus berkembang hingga saat ini dan mengantarkannya ke berbagai kompetisi di dunia kepenulisan, terlebih pada karya tulis ilmiah dan esai.
Hilma juga aktif dalam jurnalistik sejak di madrasah tsanawiyah (MTs) hingga ke jenjang SMA. Ketika kuliah, dia mulai mendalami kepenulisan akademik, seperti esai dan karya tulis ilmiah. Dia bahkan sempat menjadi freelancer di salah satu media online, menulis berita atau content writer. Karena sudah terbiasa menulis, dia merasa mudah untuk melanjutkan ke bidang kepenulisan.
“Awalnya saya suka menulis cerpen dan puisi, lalu sering ikut lomba-lomba sejak kecil pada majalah Bobo. Dari situ, saya semakin terdorong untuk mengembangkan kemampuan menulis,” ujar Hilma, sapaan akrabnya.
Mahasiswa jurusan statistik Universitas Airlangga ini lebih sering menulis karya nonfiksi untuk lomba, seperti lomba karya tulis ilmiah dan esai. Kemampunya dalam bidang kepenulisan ilmiah tidak bisa diragukan lagi. Terbukti banyak sertifikat lomba karya tulis ilmiah yang lahir dari pemikirannya.
Meskipun begitu, Hilma mengaku memiliki ketertarikan pada dunia fiksi. Dia kerap menyalurkan kreativitasnya melalui platform digital seperti Webnovel. Menurutnya, perkembangan dunia digital telah membuka banyak peluang baru di bidang kepenulisan.
“Sekarang ini, lowongan kerja di bidang kepenulisan semakin luas. Terutama di era digital, di mana kebutuhan untuk content writer dan copy writing semakin tinggi. Nah, saya sudah merasakan menjadi dua posisi itu saat internship di beberapa perusahaan dan lembaga pemerintahan,” ungkapnya.
Perempuan 21 tahun ini tidak ingin membatasi kariernya hanya di satu bidang. Meskipun berlatar belakang pendidikan data analis, dia tetap ingin berkembang dalam dunia kepenulisan. Baginya, bekerja di bidang yang disukai akan memberikan kebahagiaan tersendiri. Namun, perjalanan dalam dunia kepenulisan bukan tanpa kendala.
Hilma mengakui bahwa terkadang dia mengalami burnout saat mencari kosakata yang tepat atau menyusun alur tulisan. Konsistensi juga menjadi tantangan tersendiri, terutama saat ingin menyelesaikan karya yang lebih panjang seperti novel.
Selain itu, Hilma juga memiliki rencana besar dalam dunia kepenulisan yakni menerbitkan buku sendiri. Dia ingin menuangkan pemikirannya dalam bentuk karya yang dapat dinikmati banyak orang, baik dalam bentuk fiksi maupun nonfiksi.
Namun, dia lebih tertarik dalam menulis buku bertema self-development, khususnya mengenai insecurity, yang menurutnya menjadi isu penting bagi banyak orang saat ini.
“Saya ingin suatu saat nanti bisa menerbitkan buku sendiri. Rasanya akan sangat membanggakan jika bisa melihat hasil tulisan saya menjadi sebuah buku yang bisa menginspirasi banyak orang. Rencana itu insya Allah akan terwujud setelah saya lulus kuliah tahun ini,” pungkasnya. (jar/c1/ynu)
Editor : M. Subchan Abdullah