BLITAR - Di tepian Kali Brantas, yang membelah kabupaten Tulungagung dan Blitar itu berdiri sebuah warung sederhana yang tetap setia menyajikan cita rasa ndeso, yakni Warung Sego Tiwul Mak Sri.
Selama satu dekade terakhir, warung di Desa Selokajang, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar ini telah menjadi persinggahan kuliner yang dirindukan. Bukan karena kemewahan, melainkan karena keotentikan rasa dan suasana.
Sego tiwul, ampok, dan aneka lauk iwak kali seperti bader, nila, hingga jendil menjadi sajian utama.
Ditemani kulupan daun pepaya, urap-urap, dan sayuran rebus lainnya, setiap piring yang terhidang seolah mengisahkan kembali dapur-dapur kampung masa silam.
“Masakannya memang biasa saja, tapi ini rasa yang banyak orang kangen. Bader yang digoreng kering itu kadang saya pancing sendiri di Kali Brantas,” ujar Supini, juru masak sekaligus pengelola warung yang akrab disapa Mak Sri.
Dengan senyum tulus, dia menyambut tamu-tamunya, sebagian besar pelanggan setia yang datang dari luar desa hanya untuk mencicipi kembali rasa masa kecil mereka.
Letaknya yang berada di pinggir sungai menciptakan suasana alami yang tidak dibuat-buat. Angin semilir, suara gemericik air, dan pemandangan perahu kecil di kejauhan menambah kenikmatan saat menyantap hidangan.
Supini menuturkan, warung tersebut mulai beroperasi sekitar 10 tahun lalu dengan modal kecil dan peralatan seadanya. Namun, berkat ketekunan dan kepercayaan pelanggan, warung ini tak pernah benar-benar sepi.
“Omzetnya ya tidak sampai puluhan juta per hari, tapi alhamdulillah selalu cukup. Yang penting masakan saya tetap disukai orang,” katanya.
Warung ini menjadi oase rasa di tengah arus kuliner modern yang makin menjauh dari akar tradisi. Sego tiwul, ampok, hingga ikan bader goreng dari sungai kini tak lagi mudah ditemukan di warung-warung kota.
Baca Juga: Ambisi Perempuan Berkebaya Warga Kota Blitar Ingin Bawa Kebaya ke Level Internasional
Di Warung Mak Sri, menu-menu itu bukan hanya bertahan, melainkan dirawat dan dihormati.
“Kadang orang ke sini cuma ingin mengenang masakan ibunya dulu,” ujar Supini, sambil membalik ikan di penggorengan. (hai/c1/ady)
Editor : M. Subchan Abdullah