BLITAR- Perkebunan Karanganyar di Kabupaten Blitar selama ini dikenal sebagai salah satu destinasi wisata sejarah dan edukasi kopi. Berdiri sejak tahun 1874, area ini menyimpan warisan kolonial yang megah.
Namun, siapa sangka, di balik rumah Loji tua, makam kuno, dan arsitektur bangunan berusia lebih dari seabad, tersimpan kisah lain yang lebih gelap dan penuh misteri: dugaan jejak Freemasonry di jantung perkebunan ini.
Freemasonry atau Freemason dikenal sebagai organisasi persaudaraan rahasia yang berasal dari Eropa.
Baca Juga: Blitar Utara Bisa Jadi Destinasi Wisata Menarik Masyarakat, Dimana itu?
Di masa kolonial Hindia Belanda, organisasi ini diyakini menyebar dan menjangkau hingga ke sektor perkebunan dan birokrasi.
Hal inilah yang membuat sebagian sejarawan dan peneliti lokal mulai menaruh curiga pada beberapa simbol dan artefak yang ditemukan di kawasan Perkebunan Karanganyar, Blitar.
Simbol Pentagram di Kolam Tua
Salah satu penanda paling mencolok adalah bentuk kolam kuno berbentuk bintang bersudut lima (pentagram) yang ditemukan di area perkebunan.
Pentagram sendiri merupakan salah satu simbol yang erat kaitannya dengan Freemasonry maupun berbagai aliran esoterik lainnya.
"Kalau dilihat sekilas, memang bisa saja dianggap hanya kolam berbentuk bintang. Tapi dari sudut pandang simbolik, ini bisa jadi representasi pentagram.
Baca Juga: Laka Talun, Rabu Malam: Tak Pakai Helm, Pemuda Wlingi Tewas usai Tabrak Plonto
Dalam banyak ajaran mistik, ini punya makna spiritual," ujar seorang peneliti sejarah lokal yang enggan disebut namanya.
Kolam ini juga dibangun dari batu-batu besar khas bangunan kolonial Belanda. Bentuknya yang simetris dan presisi menunjukkan kemungkinan adanya perencanaan arsitektur yang tidak sembarangan—dan bukan tidak mungkin dirancang dengan pertimbangan simbolik tertentu.Rumah Loji: Nama yang Menggugah Kecurigaan
Bangunan lain yang menjadi perhatian adalah rumah besar peninggalan Belanda yang dikenal masyarakat sebagai Rumah Loji. Secara umum, masyarakat Jawa sering menyebut bangunan besar bergaya kolonial sebagai loji.
Baca Juga: Pro Kontra Sound Horeg, Akhirnya MUI Duduk Bersama: Undang Pakar THT Hingga Mas Bre
Namun, dalam konteks Freemasonry, istilah "lodge" atau loji adalah sebutan resmi untuk tempat berkumpulnya para anggota organisasi tersebut.
“Loji itu dalam Freemasonry adalah tempat berkumpul, berdiskusi, merancang pemikiran dan pengaruh.
Kalau kita melihat bangunan ini, lengkap dengan struktur khas lodge: ruang besar, dekorasi simbolis, dan nuansa eksklusif,” ujar sumber yang juga sempat tinggal di rumah tersebut.
Baca Juga: Mata Merah Menyala: Sosok Nenek Misterius di Jalur Sunyi Blitar-Malang
Rumah Loji di Perkebunan Karanganyar ini diketahui pernah dihuni oleh keluarga-keluarga Belanda yang mengelola perkebunan pada masa kolonial.
Termasuk di antaranya adalah keluarga dari Paul Konstans Schaff, manajer perkebunan berkebangsaan Belanda yang menikah dengan wanita pribumi dan menetap di Blitar.
Makam Wes Smith dan Jejak Ordo Singa Belanda
Penelusuran sejarah semakin menarik saat ditemukan sebuah makam kuno bertuliskan nama W.Smith dengan inskripsi Latin“Amor Vincit Omnia ” dan “Acquisit in Pace”—ungkapan khas Freemasonry yang berarti “Cinta Menaklukkan Segalanya” dan “Beristirahat dalam Damai”.
Dari data surat kabar Batavia tahun 1897, diketahui bahwa W. Smith adalah adik dari J.J. Smith, seorang tokoh penting di Hindia Belanda yang juga menjadi arsitek Kebun Raya Bogor dan kemungkinan juga Kebun Raya Blitar (yang dikenal warga sebagai "Kebon Rojo"). J.J.
Smith juga tercatat sebagai anggota Ordo Singa Belanda, sebuah penghargaan tertinggi dari Kerajaan Belanda, yang dalam beberapa sumber dikaitkan dengan anggota Freemasonry.
Baca Juga: Lingkungan Warga di Wlingi Blitar Ini Punya Kegiatan Positif Isi Liburan Sekolah Anak-anak
“Ini menarik. Ketika seseorang dimakamkan dengan simbol-simbol khas, kemudian ada keterkaitan dengan tokoh penting seperti J.J. Smith, kita tidak bisa anggap ini sekadar kebetulan,” tambah narasumber tersebut.
Freemasonry dan Nasionalisme Awal Republik
Hubungan antara Freemasonry dan Indonesia tidak berhenti di era kolonial. Bahkan dalam catatan sejarah, Presiden Soekarno pernah mendapat ucapan selamat dari organisasi Freemason setelah proklamasi kemerdekaan tahun 1945.
Hal ini menjadi ironi tersendiri karena di awal dekade 1960-an, Bung Karno justru melarang keberadaan Freemasonry di Indonesia dengan alasan keterkaitannya dengan neo-kolonialisme dan infiltrasi asing.
Dalam konteks ini, kisah Perkebunan Karanganyar bisa menjadi refleksi dari kompleksitas hubungan sejarah Indonesia dengan warisan kolonial dan pengaruh-pengaruh rahasia yang membentuknya.
Baca Juga: Warga Desa Sumberagung Kabupaten Blitar Ingin Jalur Konstruksi Cor Dituntaskan
Antara Dugaan dan Fakta Sejarah
Meski hingga kini belum ada bukti otentik yang secara gamblang menyatakan bahwa Perkebunan Karanganyar didirikan oleh Freemason, namun kumpulan petunjuk sejarah, simbol, dan keterkaitan tokoh-tokoh penting menjadi alasan kuat untuk menggali lebih dalam.
“Kami tidak menyatakan bahwa tempat ini milik Freemason. Tapi kami ingin membuka ruang diskusi, membangun kesadaran sejarah, dan memanfaatkan situs ini untuk edukasi publik,” jelas pengelola Perkebunan Karanganyar.
Kini, di tengah suasana hening perkebunan kopi yang menenangkan, jejak masa lalu masih membisikkan misterinya. Dan Blitar, lewat Perkebunan Karanganyar, kembali menjadi saksi dari bab sejarah yang belum sepenuhnya terkuak.
Editor : Anggi Septian A.P.