BLITAR – Bau badan masih jadi “musuh bebuyutan” banyak orang. Dari siswa yang duduk di pojok kelas sampai pegawai kantoran yang ogah jabat tangan. Tapi yang lebih bikin geleng-geleng kepala adalah ketika bau badan ini disalahkan ke... orang tua.
“Ya wajar, aku bau badan. Bapak juga dari dulu ambune ‘kecut’. Jadi keturunan,” begitu kira-kira alasan yang sering muncul.
Padahal, menurut dokter sekaligus edukator kesehatan yang dikenal ceplas-ceplos asal Blitar, dr Tirta Blitar, bau badan tidak sepenuhnya ditentukan oleh genetik.
“Bau badan itu bukan warisan kayak sertifikat tanah. Jangan kamu salahin bapakmu cuma karena kamu kemproh,” ujar dr Tirta dalam konten edukasi terbarunya yang kini banyak dibagikan di media sosial
Baca Juga: Laka Talun, Rabu Malam: Tak Pakai Helm, Pemuda Wlingi Tewas usai Tabrak Plonto
Antara Genetik dan Gaya Hidup
Menurut dr Tirta Blitar, memang benar bahwa aroma dasar tubuh manusia bisa dipengaruhi secara genetik. Artinya, setiap orang punya "bau dasar tubuh" masing-masing yang berasal dari komposisi kelenjar keringat, hormon, dan metabolisme tubuh—dan sebagian itu diturunkan dari orang tua.
Namun, bau badan yang menyengat, apek, atau tengik bukan disebabkan oleh genetik secara langsung, melainkan hasil interaksi antara keringat dan bakteri di permukaan kulit, terutama pada area lipatan seperti ketiak, selangkangan, dan punggung.
“Kalau kamu bau penguk, itu karena kamu malas mandi, baju jarang diganti, helm enggak dicuci. Bukan karena DNA bapakmu,” tegas dr Tirta sambil tertawa.
Ia menjelaskan bahwa tubuh manusia memiliki dua jenis kelenjar keringat, yaitu ekrin dan apokrin. Keringat dari kelenjar apokrin yang keluar di area ketiak dan pangkal paha biasanya mengandung lemak dan protein, dan ketika bertemu dengan bakteri di kulit, akan menghasilkan bau tak sedap.
Baca Juga: Bazar Blitar Djadoel Sumbang Sampah 1,5 Ton Per Hari, DLH: Kedisiplinan Masyarakat Masih Kurang
Faktor Pemicu Bau Badan
Ada sejumlah faktor yang memperparah bau badan, di antaranya:
-
Kurangnya kebersihan tubuh
-
Jarang ganti pakaian atau memakai baju lembap
-
Sering mengenakan pakaian ketat yang menyerap keringat
-
Tidak mencuci peralatan pribadi seperti helm, topi, atau jaket
-
Pola makan tinggi rempah, bawang, atau makanan cepat saji
-
Kondisi kesehatan tertentu, seperti gangguan metabolik atau infeksi kulit
dr Tirta Blitar menambahkan, ada kondisi langka bernama trimethylaminuria, yaitu gangguan metabolisme langka yang membuat tubuh mengeluarkan bau amis seperti ikan busuk. Tapi ini sangat jarang dan tidak bisa disamakan dengan bau badan akibat gaya hidup buruk.
“Kalau kamu belum pernah mandi dua hari, lalu bilang ‘bau ini karena genetik’, ya saya doakan kamu cepat sadar,” tambahnya dengan gaya khasnya yang jenaka tapi menohok.
Baca Juga: Lingkungan Warga di Wlingi Blitar Ini Punya Kegiatan Positif Isi Liburan Sekolah Anak-anak
Salah satu kesalahan umum penyebab bau badan adalah pemilihan pakaian. Banyak orang beraktivitas berat seperti naik motor, kerja di lapangan, atau olahraga, tetapi menggunakan baju yang tidak menyerap keringat atau berbahan panas.
“Kadang punggungnya jerawatan, terus bau tengik. Tapi masih pakai kaos hitam ketat tiap hari. Itu nyiksa diri sendiri,” kata dr Tirta.
Selain itu, ia menyayangkan budaya cuek di tempat umum. Banyak yang datang ke kantor atau naik KRL dalam kondisi bau badan yang menusuk. Padahal, bau badan bisa memengaruhi kenyamanan orang lain dan bahkan citra diri sendiri.
“Kalau kamu udah kerja, udah dewasa, tapi masih bau karena enggak mandi, itu bukan genetik, itu pilihan hidup,” katanya.
Baca Juga: Kios Buah di Tengah Hutan: Apel Segar yang Menghilang Saat Fajar
Solusi Sederhana Mengusir Bau Badan
Berikut beberapa tips dari dr Tirta Blitar agar tubuh tetap segar dan bebas dari “aroma penguk”:
-
Mandi minimal dua kali sehari, terutama setelah beraktivitas di luar ruangan atau setelah berkeringat.
-
Gunakan sabun antibakteri, terutama di area ketiak, lipatan paha, dan punggung.
-
Pakai deodoran atau antiperspirant yang sesuai dengan jenis kulit.
-
Cuci pakaian dan peralatan pribadi secara berkala.
-
Perhatikan pola makan. Kurangi makanan tinggi lemak jenuh dan rempah menyengat.
-
Periksa ke dokter jika bau badan tidak wajar dan tidak membaik, karena bisa jadi ada gangguan kesehatan tertentu.
Kesadaran dari Diri Sendiri
Kampanye soal kebersihan pribadi, termasuk masalah bau badan, mulai digalakkan di sekolah dan perkantoran di Blitar. Tujuannya bukan untuk mempermalukan, tapi membangun kesadaran bahwa kebersihan bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga orang sekitar.
dr Tirta Blitar menegaskan, menjaga kebersihan tubuh adalah bagian dari tanggung jawab sosial.
“Jangan sampai kamu jadi penyebab temanmu enggak betah, pelangganmu kabur, atau pasanganmu ilfeel. Semua berawal dari kesadaran mandi dan ganti baju secara rutin,” tegasnya.
Jadi, saat kamu merasa badanmu bau, jangan buru-buru salahin bapak, ibu, atau kakek buyutmu. Cek dulu jadwal mandimu, kondisi bajumu, dan kapan terakhir helm-mu dicuci.
Editor : Anggi Septian A.P.