Cerita Nyata Pasien: Dari Keluhan Cepat Capek, Ternyata Anemia Berat
Ichaa Melinda Putri• Jumat, 11 Juli 2025 | 02:00 WIB
Cepat Capek Disangka Masalah Jantung, Ternyata Anemia Berat: Kisah Pasien yang Hampir Salah Diagnosis
BLITAR — Tak semua keluhan cepat lelah berarti jantung bermasalah. Itulah pelajaran berharga yang didapat seorang pria paruh baya asal Blitar, yang awalnya mengira dirinya menderita penyakit jantung. Namun setelah melewati pemeriksaan menyeluruh, ia justru divonis mengalami anemia berat, kondisi yang diam-diam bisa membahayakan nyawa jika dibiarkan terlalu lama.
Kisah ini dibagikan oleh dr. Damais, SpJP (Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah) dalam sesi edukasi medis di kanal YouTube-nya. Ia menuturkan bagaimana pasien tersebut datang dengan keluhan khas penderita jantung: mudah lelah, detak jantung terasa cepat, dan sesak saat beraktivitas ringan. Namun, ada satu hal yang membuat dokter curiga — wajah pasien tampak pucat.
“Pasien mengeluhkan cepat capek. Saat saya periksa lebih lanjut, saya melihat kondisinya pucat. Dari situ saya mulai menduga ada hal lain yang lebih dominan daripada gangguan jantung,” ujar dr. Damais.
Pemeriksaan Awal: Wawancara Medis dan EKG Tak Menunjukkan Kelainan
Seperti standar pemeriksaan penyakit jantung lainnya, dokter memulai dengan anamnesis (wawancara medis) dan pemeriksaan fisik. Pasien tidak mengalami nyeri dada, tidak ada riwayat keluarga dengan penyakit jantung, serta denyut nadi dan tekanan darah relatif stabil.
Pemeriksaan EKG (elektrokardiogram) pun dilakukan, namun hasilnya tidak menunjukkan tanda-tanda khas gangguan irama jantung atau serangan jantung akut.
“Saat itu saya katakan, sebaiknya kita lanjutkan dengan pemeriksaan laboratorium. Saya curiga ada kelainan darah, khususnya anemia,” tambahnya.
Terungkap: Kadar Hemoglobin Jatuh Drastis
Hasil tes darah akhirnya membuka tabir penyebab keluhan sang pasien. Hemoglobin (Hb) yang seharusnya berkisar 13–17 g/dL pada pria dewasa, ternyata hanya berada di angka 5–6 g/dL, jauh di bawah batas normal
.“Dengan angka segitu, tidak heran pasien merasa sangat lemas. Ini masuk kategori anemia berat,” tegas dr. Damais.
Anemia adalah kondisi saat tubuh kekurangan sel darah merah sehat atau hemoglobin untuk mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Pada kondisi berat, penderita bisa mengalami gejala mirip penyakit jantung: cepat lelah, jantung berdebar, hingga napas pendek.
Tanda Tak Terduga: Pendarahan dari Saluran Cerna
Ketika ditanya lebih lanjut, pasien mengaku tidak memperhatikan perubahan saat buang air besar. Padahal, pendarahan tersembunyi dari saluran pencernaan, seperti wasir (hemoroid) atau luka pada usus, bisa menjadi penyebab utama anemia kronis.
“Pasien mengaku tak pernah memperhatikan warna feses atau adanya darah. Ini penting, karena pendarahan kecil yang terus menerus bisa bikin Hb drop tanpa disadari,” jelas dokter.
Setelah dirujuk ke dokter penyakit dalam dan menjalani pemeriksaan lanjutan, pasien diketahui mengalami hemoroid perdarahan yang sudah berlangsung cukup lama. Ia pun diberi pengobatan untuk menaikkan kadar hemoglobinnya sekaligus terapi untuk mengatasi penyebab perdarahan.
Kisah ini mencerminkan kesalahan umum di masyarakat, yakni terlalu cepat mengaitkan keluhan lemas dengan penyakit jantung tanpa mempertimbangkan kemungkinan lain.
“Tidak semua keluhan capek berasal dari jantung. Bisa karena anemia, gangguan tiroid, diabetes, hingga infeksi kronis. Maka dari itu penting untuk melakukan check-up menyeluruh, bukan hanya fokus di satu organ saja,” terang dr. Damais.
Ia juga menekankan bahwa pemeriksaan darah rutin seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup sehat, terutama bagi masyarakat usia produktif yang aktif beraktivitas.
Edukasi untuk Masyarakat: Dengarkan Tubuh Anda
Kelelahan yang berkepanjangan, tubuh terasa ringan tapi lemas, atau jantung berdebar tanpa sebab, sebaiknya tidak diabaikan. Gejala-gejala tersebut bisa menjadi alarm dini dari kondisi serius seperti anemia, yang bisa berdampak pada kualitas hidup hingga produktivitas kerja.“Dengan cerita ini, saya berharap masyarakat lebih peduli untuk memeriksakan kondisi tubuhnya, bukan hanya saat sudah parah. Apalagi anemia berat bisa diatasi, asal diketahui lebih awal,” ujar dokter yang juga aktif mengedukasi masyarakat lewat media sosial itu.
Cerita nyata ini menjadi pengingat bahwa mendiagnosis penyakit tak bisa hanya berdasarkan asumsi atau gejala yang muncul di permukaan. Butuh pemeriksaan menyeluruh, kejelian dokter, dan kesadaran pasien untuk jujur terhadap perubahan yang terjadi di tubuhnya.
Kini, sang pasien telah menjalani terapi dan kondisinya berangsur membaik. Ia pun mengaku lebih rajin memantau kesehatannya, serta tidak lagi menganggap ringan gejala tubuh yang awalnya dikira hanya “masuk angin” biasa.