BLITAR – Blitar kerap disapa sebagai kota kecil di Jawa Timur. Jauh sebelum menjadi Kabupaten Blitar, wilayah ini membungkus sejarah besar sebagai Kadipaten Aryo Blitar, sebuah kerajaan yang kini nyaris tergerus zaman.
Mbah Wujud, seorang pemandu wisata sejarah dan pengurus Paguyuban Aryo Bitar Mataram, menyatakan bahwa Blitar dulunya adalah pusat pemerintahan Adipati Arya Blitar. "Bekas kerajaannya kini menjadi Desa Blitar dan Kelurahan Blitar," ujarnya dalam sebuah podcast Brokislu.
Salah satu bukti peninggalan sejarah kerajaan ini adalah makam Adipati Arya Blitar III yang terletak di Jalan Pamungkur. Nama “Pamungkur” artinya “Belakang”, merujuk pada lokasi makam di belakang bekas kerajaan.
Menurut catatan sejarah, Kadipaten Blitar hampir direbut oleh Sengguru, seorang patih dari Malang. Namun, Joko Kandung—putra Adipati Arya Blitar I (Gusti Sudomo)—berhasil merebut kembali tahta kerajaan kadipaten.
"Joko Kandung merupakan tokoh sejarah penting dalam mempertahankan Blitar dari ancaman luar, termasuk Belanda VOC," jelas Mbah Wujud. Mbah Wujud mengungkapkan ia juga turut terlibat dalam peperangan bersama Pangeran Diponegoro dan Untung Suropati.
Adipati Arya Blitar I (Gusti Sudomo) adalah putra dari Pakubuwono Kartasura, sebelum Mataram terpecah menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. "Blitar menjadi wilayah mandiri, tidak mau bergabung dengan Mataram baru," tambah Mbah Wujud.
Meski memiliki nilai sejarah tinggi, upaya mengangkat kembali kejayaan Aryo Blitar masih terdapat hambatan. Paguyuban Aryo Blitar Mataram aktif merawat makam dan menggelar ritual, seperti nyekar di hari Jumat Pahing dan wayangan saat Suro.
Namun, kurangnya dukungan pemerintah dan media membuat sejarah Aryo Blitar hampir terabaikan. "Kami sudah melaporkan ke berbagai pihak, tapi belum ada tanggapan serius," keluh Mbah Wujud.
Blitar bukan sekadar nama kota kecil—ini adalah nama orang (Adipati Arya Blitar). Berbeda dengan kota lain seperti Malang atau Tulungagung yang tidak memiliki desa bernama sama, Blitar justru mewariskan identitas aslinya dalam bentuk Desa Blitar.
Jika sejarah ini tidak dilestarikan, Blitar bisa kehilangan jati dirinya. Mbah Wujud dan paguyubannya berharap sejarah ini masuk dalam kurikulum lokal agar generasi muda tahu asal-usul kotanya.
Dari kerajaan menjadi kadipaten, lalu tersisa sebagai sebuah desa—Kadipaten Aryo Blitar adalah bukti nyata bahwa Blitar punya cerita besar yang layak dikenang. Dengan upaya pelestarian, Blitar akan dikenal kembali sebagai kota pewaris sejarah.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.