Antara Rokok, Genteng Rontok, dan Suara Gosong: Warna-warni Sound Horeg di Lapangan Bersama Brewog Audio Blitar
Dimas Galih Nur Hendra Saputra• Sabtu, 12 Juli 2025 | 03:00 WIB
Warna warni dari sound horeg Mas Bre Blitar
Blitar — Dentuman bass yang mengguncang dada, subwoofer yang dijejer di atas truk, dan kerumunan warga yang bersorak-sorai di pinggir jalan — semua itu adalah pemandangan biasa dalam dunia sound horeg, terutama di wilayah Blitar.
Namun di balik kemeriahan tersebut, tersimpan realitas unik dan kadang ekstrem yang hanya bisa dipahami mereka yang hidup di dalamnya.
Salah satu nama yang melekat erat dengan kultur ini adalah Brewog Audio, sound system asal Blitar yang dibesut oleh sosok nyentrik bernama Mas Bre.
Selain dikenal karena kualitas suaranya, Brewog Audio juga dikenal karena keunikannya: dari alat yang kadang sampai gosong, hingga suara jedak-jeduk yang bikin genteng rumah warga rontok.
Sound Sampai Gosong: Harga dari Volume Maksimal
Bagi pemain sound horeg sejati, istilah “sound gosong” bukan sesuatu yang asing. Itu bukan karena dibakar massa, melainkan karena terbakar dari dalam—secara literal.
Volume yang terlalu tinggi dan pemakaian ekstrem bisa membuat speaker atau amplifier hangus karena overheat.
Mas Bre dari Brewog Audio mengakui, insiden semacam itu sempat jadi “menu wajib” di masa awal.
“Dulu waktu baru-baru mulai, sering banget speaker kebakar. Setting-nya ngawur, yang penting keras. Pokoknya kalau belum bikin dada getar, belum puas,” ungkapnya sambil tertawa.
Namun dari situlah ia belajar. Kini, kendati tetap bertenaga, sound miliknya lebih stabil dan tahan banting. Ia sudah bisa menakar mana yang optimal dan mana yang bisa membakar.
Jika di kota besar suara keras bisa jadi alasan diprotes, di desa-desa wilayah Blitar dan Malang, fenomena genteng rontok saat karnaval justru jadi hiburan tersendiri. Bahkan dianggap sebagai “tanda sukses” dari sound system yang tampil.
“Warga sini kalau gentengnya belum getar, itu tandanya sound-nya belum maksimal. Mereka malah berharap itu terjadi,” ujar Mas Bre, sembari menegaskan bahwa mereka tetap menjaga batas aman dan memberi tahu panitia sebelum tampil.
Beberapa warga bahkan dengan suka rela mengosongkan rumahnya saat karnaval lewat, atau memasang penyangga tambahan agar gentengnya tidak melorot.
Ini semacam budaya kolektif yang menjadikan suara ekstrem sebagai perayaan.
Sound Horeg vs. Sound Hajatan: Beda Dunia
Meski sama-sama mengusung peralatan audio, sound horeg berbeda jauh dari sound hajatan seperti dangdutan atau resepsi pernikahan.
Dalam sound hajatan, suara lebih diarahkan ke kenyamanan tamu dan kepadatan lirik musik. Sedangkan dalam sound horeg, yang dicari adalah tenaga, efek dentuman, dan aura dominasi.
“Kalau hajatan itu rata-rata suara. Kalau sound horeg ya sap-nya (subwoofer) yang ditonjolkan,” jelas Mas Bre.
Karena alasan inilah, Brewog Audio tidak menerima order terop atau hajatan. Fokus mereka sepenuhnya pada karnaval, pawai, dan event massal dengan atmosfer jalanan.
Menurut Mas Bre, selain karena faktor teknis, secara selera pun ia merasa lebih cocok di ranah jalanan yang lebih bebas dan ekspresif.
Pro Kontra Perda Desibel: Antara Aturan dan Budaya
Seiring populernya sound horeg, muncul pula sejumlah regulasi dari pemerintah daerah, termasuk pembatasan tingkat kebisingan.
Salah satunya adalah Perda 70 Desibel, yang sempat menimbulkan polemik di kalangan pelaku industri hiburan rakyat.
“Kalau 70 desibel, itu suara orang ngobrol saja bisa nyampe. Masa sound karnaval dilarang segitu? Ya enggak masuk,” komentar Mas Bre tentang aturan tersebut.
Namun ia juga menyadari, semua ini kembali pada faktor keamanan dan kenyamanan masyarakat. Oleh karena itu, ia mengutamakan koordinasi dengan pihak kepolisian dan warga sebelum tampil.
“Kalau ada warga yang keberatan, ya saya mundur. Yang penting jangan ganggu orang lain,” imbuhnya.
Ia menilai bahwa yang sering disorot media bukan suaranya, tapi kericuhan yang terjadi di beberapa lokasi. “Kalau acaranya aman dan tertib, suara sekeras apa pun, warga tetap senang. Jadi bukan masalah volume, tapi pengelolaan,” tegasnya.
Budaya Suara: Sebuah Ekspresi Sosial
Yang unik dari fenomena sound horeg bukan hanya soal volume, tapi fungsinya sebagai ekspresi kolektif warga desa. Saat sound horeg lewat, bukan hanya anak-anak muda yang menikmati. Orang tua pun keluar rumah, menonton dari teras, bahkan ada yang ikut berjoget.
Ini adalah budaya akustik rakyat, bentuk pelarian dari rutinitas, dan sarana menunjukkan eksistensi. Bahkan, bagi sebagian kalangan, sound system kini dianggap seperti “kelompok seni modern” yang punya style, branding, dan komunitas loyal.
“Dulu hanya sekadar rame-rame. Sekarang ada grup fans, ada YouTube, bahkan sampai merchandise,” ujar Mas Bre.
Penutup: Warna-warni di Balik Dentuman
Fenomena sound horeg di Blitar memang bukan tanpa kontroversi. Namun, di balik dentuman yang membelah malam dan subwoofer yang bikin kaca getar, ada kisah perjuangan, kreativitas, dan semangat kolektif warga.
Brewog Audio Blitar menjadi simbol dari suara rakyat, dalam arti yang sebenarnya. Dan di tengah polemik desibel, kerusakan genteng, hingga speaker yang “gosong”, ada satu hal yang tetap berdentum kencang: semangat untuk terus berkarya dari desa untuk Indonesia.