Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bukan Cuma Teknis: Cara Mas Bre Bangun Personal Branding sebagai ‘Artis Sound Horeg'

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Sabtu, 12 Juli 2025 | 04:00 WIB

Mas Bre membangun personal brandingnya
Mas Bre membangun personal brandingnya

Blitar — Dalam dunia sound horeg, suara memang jadi jantung utama. Tapi di balik dentuman subwoofer dan lampu-lampu yang berkedip di atas truk, ada satu elemen yang tak kalah penting: sosok di balik layar.

Di Blitar, nama Mas Bre, otak dari Brewog Audio, bukan cuma dikenal karena kualitas teknis, tapi juga karena gaya khas dan branding personalnya yang kuat.

Tak seperti teknisi biasa yang sembunyi di balik mixer, Mas Bre justru tampil mencolok. Dengan rokok di tangan kanan, HP di tangan kiri, dan gaya manduk-manduk di panggung, ia menjelma jadi figur publik yang ikut “memeriahkan” sound-nya sendiri.

Baca Juga: Jalur Pendakian Karangrejo Akan Ditutup Selama Enam Hari, Ini Alasannya

Dari Tukang Setting Jadi Sosok Ikonik

Perjalanan Mas Bre tak langsung jadi "artis lapangan". Awalnya, ia adalah teknisi murni. Dialah yang menyusun kabel, mengatur balance, dan menyolder speaker di malam hari.

Tapi sejak merintis Brewog Audio tahun 2018, ia menyadari satu hal penting: sound system butuh wajah.

“Kalau cuma barang bagus tapi enggak dikenal siapa yang punya, susah juga naiknya. Saya ini bukan cuma jual suara, tapi juga suasana,” ujarnya sambil terkekeh.

Ia pun muncul ke depan panggung, bukan untuk bernyanyi atau pidato, tapi dengan vibe yang khas. Dalam banyak video unggahan di YouTube dan TikTok, Mas Bre terlihat diam, tapi ekspresif, hanya berdiri di depan speaker, sesekali mengangguk seiring dentuman, dengan rokok menyala dan tatapan santai.

Baca Juga: Progres Koperasi Merah Putih di Kota Blitar Terkendala NPWP Pengurus

Gaya Khas: Rokok, HP, dan Manduk-Manduk

Gaya “manduk-manduk” ala Mas Bre bukan gimmick semata. Ia jadi ciri visual yang melekat. Para penonton bahkan menyebutnya sebagai “artis horeg di belakang speaker”.

Brewog Audio bukan hanya dikenal karena kualitas suaranya yang padat dan “dalam”, tapi juga karena sosok Mas Bre yang selalu hadir dalam setiap event.

Ia tidak menyapa penonton secara verbal, tapi kehadirannya sudah cukup jadi penanda bahwa sound yang tampil bukan sembarangan.

“Saya enggak butuh teriak-teriak. Cukup diam, rokok nyala, anak-anak paham: ini Brewog Audio,” candanya.

Baca Juga: Jejak Freemason di Perkebunan Karanganyar Blitar: Misteri Simbol dan Nama-Nama dari Masa Kolonial

Tentu gaya ini tak muncul begitu saja. Mas Bre paham bahwa branding visual penting dalam dunia sound horeg yang persaingannya makin ketat. Saat sound-sound lain bersaing di kekuatan subwoofer, Brewog tampil beda dengan aura yang bisa dikenali sejak truk parkir.

Kunci Marketing: Beda dan Konsisten

Dalam wawancara, Mas Bre mengaku bahwa ia tidak mengikuti tren mainstream. Ia tidak menerima job hajatan, tidak menerima job dangdutan, dan memilih fokus di karnaval jalanan. Semua itu bukan tanpa alasan.

“Kalau saya ikut semua segmen, ya branding saya hilang. Saya ambil satu saja, saya kuatkan di situ,” jelasnya.

Baca Juga: Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar

Selain itu, ia juga memanfaatkan sosial media untuk memperkuat kehadiran online. Video-video pendek dengan suara gahar Brewog Audio dan cuplikan dirinya di panggung tersebar luas, bahkan dijadikan konten ulang oleh fans atau penonton karnaval.

Ia juga mengaku tidak mengiklankan secara konvensional. Semua promosi dilakukan secara alami, dari mulut ke mulut, rekaman warga, hingga potongan video yang viral.

“Marketing paling murah ya tampil beda. Kalau kita unik, orang akan ingat. Gratis malah,” katanya.

Baca Juga: Jejak Bung Karno, Theosofi, dan Larangan Freemason: Ketegangan Ideologis Sang Proklamator

Memimpin Tim Tanpa Gaji di Awal

Apa yang dicapai Mas Bre hari ini bukan tanpa pengorbanan. Di awal-awal, ia mengaku tidak bisa menggaji kru. Tim yang mengangkat speaker, menyusun kabel, dan ikut karnaval bareng hanyalah tetangga-tetangga dekat.

“Dulu saya cuma bilang, ‘Ayo rek, kita hore-hore. Enggak ada bayaran. Cuma makan bareng.’ Kalau mau ikut, ya ayo. Kalau enggak, yo enggak papa,” ungkapnya.

Tapi justru dari semangat gotong royong itulah Brewog Audio tumbuh. Mereka tidak sekadar kru, tapi bagian dari komunitas. Bahkan banyak dari mereka yang kini masih bertahan, ikut mendampingi perjalanan Brewog dari karnaval kecil hingga job besar lintas kota.

Baca Juga: Dari Freemason ke Kopi Arabika Blitar: Transformasi Mistis Jadi Destinasi Edukasi dan Wisata

“Kalau sudah senang bareng, susah bareng, biasanya ikatan batinnya lebih kuat. Mereka tahu perjuangannya,” tutur Mas Bre.

Kini, tentu situasinya berbeda. Tim Brewog sudah punya struktur dan kompensasi. Tapi nilai-nilai awal soal kebersamaan dan saling bantu tetap dijaga.

Dari ‘Orang Belakang’ Jadi Wajah Depan

Keberhasilan Mas Bre menjadi “ikon” di dunia sound horeg bukan semata karena volume speaker-nya, melainkan karena ia berhasil menciptakan karakter yang mudah dikenali.

Di tengah kerasnya kompetisi dunia audio, strategi Mas Bre bisa jadi contoh menarik: bahwa branding personal tidak kalah penting dari teknis. Bahkan di ranah seperti sound horeg yang tampak “kasar”, tetap dibutuhkan pendekatan kreatif untuk bisa menonjol.

Baca Juga: Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar

Penutup: Lebih dari Sekadar Suara

Hari ini, Brewog Audio dari Blitar dikenal luas. Bukan hanya karena dentuman sap-nya yang bikin kaca bergetar, tapi juga karena ada sosok Mas Bre yang menjadi ikon tak tergantikan.

Dari teknisi biasa, ia menjelma jadi figur publik dunia karnaval. Dan dari sekadar sound system, ia menciptakan pengalaman—suara, gaya, dan suasana yang hanya bisa ditawarkan oleh satu nama: Brewog Audio Blitar.

Editor : Anggi Septian A.P.
#branding #personal #Sound hereg #Bangun #artis #Mas Bre #Sebagai