BLITAR - English Proficiency Index (EPI) menyatakan hasil riset bahwa Indonesia berada di peringkat 79 dari 130 negara dalam kemampuan berbahasa Inggris. Posisi ini tergolong sangat rendah, jauh di bawah negara Asia Tenggara.
Singapura menduduki peringkat 2 dan Malaysia menduduki peringkat 25.
Apa dampaknya bagi calon generasi emas Indonesia?
Adrian Permadi, seorang ahli pengajar bahasa Inggris dengan pengalaman 17 tahun, rendahnya kemampuan berbahasa asing dapat menghambat peluang kinerja dan pertumbuhan ekonomi.
Dalam Podcast Suara Berkelas bersama Bilal Faranov, dia menjelaskan:
"Di era globalisasi, bahasa Inggris adalah gatekeeping skill. Tanpa kemampuan ini, generasi muda sulit bersaing di perusahaan multinasional atau mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi."
Saat ini, perusahaan besar Big 4 lebih mengutamakan calon pegawainya yang mahir menggunakan bahasa Inggris dan terdapat tes wajib bahasa Inggris dalam proses rekrutmen.
Pegawai yang berkemampuan rendah dalam berbahasa Inggris berpotensi mendapat gaji rendah.
Rendahnya kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi faktor penghambat untuk melanjutkan studi ke luar negeri, studi tersebut menawarkan LPDP yang bersyaratkan lulus tes TOEFL/IELTS dengan skor yang telah ditentukan.
Adrian Permadi menyarankan 3 strategi penting untuk belajar bahasa Inggris otodidak:
- Ubah mindset, hilangkan rasa takut dalam belajar
- Praktik keseharian, menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa utama dalam berinteraksi
- Memanfaatkan kemajuan teknologi, gunakan aplikasi pendukung seperti Duolingo, ELSA Speak, jika ada budget tambahan lakukan kursus
Rendahnya peringkat berbahasa Inggris di Indonesia harusnya menjadi peringatan dan motivasi semangat belajar pada calon generasi emas untuk lebih serius mempelajarinya. Apabila kemampuan berbahasa Inggris meningkat, maka peluang karier dan studi akan terbuka lebar. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.