BLITAR – Public speaking merupakan bagian dari seni, berupa gabungan antara penyampaian materi dan gaya bicara yang menarik.
Dari gabungan kedua seni tersebut, mana yang lebih dominan? Menurut Erwin Parengkuan dalam podcastnya bersama Cherryl Hatumesen, seorang ahli pakar bidang komunikasi dengan pengalaman 21 tahun, mengungkapkan tergantung pada jenis audiens dan konteks acara.
Dalam konteks formal, bobot materi yang disampaikan 70-80% berisi konten analisis, data, dan logika.
Konten tersebut seolah-olah mengajak audiens untuk berpikir kritis. 20-30% adalah penyampaian materi dengan gaya intonasi unik dan bahasa tubuh.
"Jika audiens sudah paham konteks, fokuslah pada kedalaman ide. Namun, penyampaian tetap perlu jelas agar tidak monoton," jelas Erwin.
Berbanding terbalik dengan dalam konteks informal, audiens pada umumnya akan menerima materi secara sederhana.
70%-nya termasuk dalam lingkup teknik penyampaian materi secara storytelling diselingi humor, dan membangun interaksi antara pemateri dengan audiens. 30%-nya merupakan bobot materi.
"Di era digital, perhatian audiens mudah teralihkan. Jika cara Anda membosankan, pesan sehebat apa pun akan sia-sia," tambahnya.
Kesalahan umum yang sering dilakukan ketika menyampaikan materi pada audiens adalah tidak memahami terkait target audiens.
Konten yang diberikan pada audiens sebaiknya disesuaikan pada target pendengar, serta berbicara menggunakan level pemahaman audiens.
Tidak ada formula mutlak, tetapi penyesuaian konteks adalah kunci. Baik di lingkungan profesional maupun casual, kombinasi konten berkualitas dan delivery memukau akan membuat public speaking Anda lebih berdampak.
"Ingat, public speaking bukan sekadar bicara, tapi tentang memengaruhi orang," pungkas Erwin. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.