BLITAR – Dalam sebuah episode podcast Sapio Patho, seorang tamu bernama Axel Christian bercerita tentang pengalamannya dikagetkan oleh ekspektasi finansial yang tidak masuk akal.
"Ada yang bilang, minimal gaji pasangan harus Rp500 juta per bulan karena biaya makeup dan mobil mahal," ujarnya.
Cerita ini memunculkan pertanyaan apakah standar finansial dalam hubungan modern semakin tidak realistis?
Menurut Axel, ekspektasi seperti ini sering muncul dari lingkungan yang memvalidasi persepsi keliru.
"Orang-orang tertentu, terutama yang belum paham realita ekonomi, bicara tanpa data, lalu diviralkan di media sosial," jelasnya.
Pengaruh konten TikTok dan Instagram yang menampilkan gaya hidup mewah seolah-olah menjadi "standar normal".
Ekspektasi tidak realistis ini berpotensi merusak hubungan karena menciptakan ketidakpuasan terhadap pasangan karena merasa penghasilannya tidak layak. Standar ini memicu tekanan psikologis pada pria.
"Ketika hubungan hanya dinilai dari materi, yang hilang adalah keautentikan dan kedalaman emosional," tambah Axel.
Bagaimana menghadapi fenomena ini?
- Komunikasi jujur: Bahas kebutuhan finansial secara realistis dengan pasangan.
- Fokus pada nilai-nilai non-material: Seperti komitmen, kesetiaan, dan kecerdasan emosional.
- Edukasi literasi finansial: Pahami perbedaan antara keinginan dan kebutuhan dalam hubungan.
Standar finansial yang terlalu tinggi tidak hanya tidak adil, tetapi juga mengabaikan esensi hubungan yang sehat.
Seperti dikatakan Axel, "Cinta seharusnya dibangun dari keselarasan nilai, bukan angka di rekening bank." (*)
Editor : Anggi Septian A.P.