BLITAR – Generasi Z (Gen-Z) kerap dianggap sebagai generasi paling kreatif dan melek teknologi.
Namun, di balik kelebihannya, banyak pengusaha dan atasan merasa frustrasi menghadapi karakteristik Gen Z di dunia kerja.
Gen-Z dianggap sebagai generasi antri kritik, ingin serba instan, tidak mengerti situasi dan kondisi.
Perilaku ini disebut sebagai pembodohan publik yang dapat menghambat kesuksesan.
Beberapa pengusaha yang mempekerjakan Gen-Z mengungkapkan banyak yang menunjukkan sikap tidak profesional.
Salah satu poin kritik utama adalah pengaruh media sosial yang membuat Gen Z mudah percaya pada standar palsu.
Banyak anak muda yang langsung membandingkan gaji atau fasilitas kerja mereka dengan konten viral di TikTok atau Instagram, tanpa mempertimbangkan realita industri.
Masalah lain yang sering dijumpai adalah sensitivitas berlebihan. Sering kali ditekankan jika dunia kerja harus bersikap profesional, emosi pribadi tidak boleh mengganggu tanggung jawab kerja.
Meski begitu, tak bisa dipungkiri jika Gen-Z memiliki kelebihan dan kreativitas terhadap kemampuan adaptasi teknologi. Kritik ini memicu perdebatan di media sosial.
Sebagian setuju bahwa Gen Z perlu lebih tangguh, sementara yang lain berargumen bahwa dunia kerja juga harus beradaptasi dengan generasi baru.
Baca Juga: Jejak Bung Karno, Theosofi, dan Larangan Freemason: Ketegangan Ideologis Sang Proklamator
Kritik ini menjadi cermin bagi Gen Z untuk introspeksi diri tanpa harus merasa diserang.
Di sisi lain, perusahaan juga perlu menciptakan lingkungan kerja yang lebih inklusif dan memahami karakter generasi muda.(*)