BLITAR – Media sosial seperti TikTok dan Instagram telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan Generasi Z (Gen-Z).
Namun, beberapa pengusaha belakangan ini menyoroti sisi gelapnya. Ia menyebut bahwa Gen-Z terlalu mudah dipengaruhi pada konten yang beredar di platform digital, sehingga membentuk mentalitas yang tidak realistis, terutama dalam dunia kerja.
Beberapa pengusaha mengungkapkan pengalamannya mempekerjakan ratusan karyawan Gen-Z.
Banyak dari mereka terlalu terpengaruh oleh narasi “Work-Life Balance” untuk mempertahankan kesehatan mental mereka ketika terjun ke dunia kerja.
Salah satu poin kritik utama adalah konsep "authentically fake" yaitu konten yang terlihat autentik, tapi sebenarnya dirancang untuk membentuk persepsi tertentu.
Misalnya, ada seorang kreator konten bekerja secara remote di Bali, mendapatkan snack gratis, dengan gaji fantastis. Faktanya, hal tersebut hanyalah strategi branding atau konten bayaran.
Gen-Z kerap menelan mentah-mentah dari informasi yang tersebar tanpa melihat apa motivasi dibaliknya.
Akibatnya, banyak Gen Z yang masuk ke dunia kerja dengan ekspektasi tidak realistis.
- Gen-Z beranggapan jika kerja harus selalu menyenangkan seperti konten-konten beredar di sosial media.
- Gen-Z anti kritik, mereka melihat dunia kerja hanya dari lingkungan sosial media dan menjadikannya standar utama tanpa melihat latar belakang industri.
- Gen-Z mengira jika kesuksesan dapat diraih secara instan tanpa melalui proses Panjang
Kritik ini memicu perdebatan di sosial media, sebagian besar netizen setuju jika sosial media sebagai faktor utama membentuk mentalitas instan dan naif.
Media sosial memang memiliki banyak manfaat, tetapi sebagai Gen-Z perlu bijak dalam menggunakannya.
Seperti informasi yang tersebar jangan hanya ditelan mentah-mentah. Jangan mudah terpaku oleh standar palsu, lebih baik membangun skill nyata dan memperkuat mental untuk menghadapi dunia kerja profesional sebenarnya.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.