Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bukit Pertapaan: Wisata Sejarah yang Hidup Kembali Lewat Tangan Pemuda Blitar

Ichaa Melinda Putri • Senin, 14 Juli 2025 | 02:00 WIB

bukit pertapaan, sejarah blitar, wisata blitar, pemuda blitar
bukit pertapaan, sejarah blitar, wisata blitar, pemuda blitar

BLITAR– Di balik gemuruh kemajuan pariwisata di Kabupaten Blitar, terdapat kisah inspiratif tentang bangkitnya sebuah situs bersejarah yang nyaris terlupakan: Bukit Pertapaan. Terletak di Desa Bagelenan, Kecamatan Srengat, Bukit Pertapaan kini menjadi salah satu destinasi wisata Blitar yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan nilai-nilai sejarah Blitar yang mendalam.

Namun, siapa sangka, kebangkitan Bukit Pertapaan bukanlah hasil dari proyek besar-besaran pemerintah atau investor, melainkan buah dari kegigihan dan kepedulian pemuda Blitar yang tergabung dalam Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).

Dari Situs Terbengkalai Menjadi Oase Sejarah

Menurut keterangan Zainal, ketua Pokdarwis Bukit Pertapaan, tempat ini dulunya hanyalah bukit biasa yang nyaris dilupakan. Padahal, di puncaknya terdapat peninggalan penting berupa Candi Pertapaan, situs kuno yang diyakini menjadi tempat bertapa di masa kerajaan.

“Awalnya terbengkalai dan tidak terurus. Banyak orang bahkan tidak tahu kalau di sini ada nilai sejarah yang tinggi. Akhirnya kami, para pemuda, sepakat untuk menghidupkan kembali Bukit Pertapaan,” ujar Zainal.

Dengan modal semangat, gotong royong, dan visi yang kuat, para pemuda mulai membersihkan area sekitar candi, membangun jalur tangga, memasang papan petunjuk, dan mempercantik kawasan tersebut dengan taman dan spot foto instagramable. Hasilnya, Bukit Pertapaan kini ramai dikunjungi wisatawan lokal hingga luar daerah.

Baca Juga: Progres Koperasi Merah Putih di Kota Blitar Terkendala NPWP Pengurus

Kolaborasi Warga dan Pemerintah Desa

Kebangkitan Bukit Pertapaan tak lepas dari dukungan pemerintah desa Bagelenan. Inisiatif dari para pemuda mendapat sambutan positif, hingga terbentuklah struktur pengelolaan yang melibatkan warga, pemuda, dan perangkat desa secara kolektif.

“Gayung bersambut, pemerintah desa mendukung penuh dan menyediakan bantuan fasilitas. Kami ingin membuktikan bahwa dengan sinergi, desa bisa mandiri lewat wisata,” tambah Zainal.

Baca Juga: Jejak Freemason di Perkebunan Karanganyar Blitar: Misteri Simbol dan Nama-Nama dari Masa Kolonial

Kolaborasi ini menghasilkan dampak yang positif. Selain mempercantik tampilan fisik kawasan, masyarakat sekitar juga mulai mendapatkan manfaat ekonomi dari sektor wisata. Banyak warga membuka warung, menyewakan properti untuk kebutuhan wisata, hingga menjual produk UMKM khas Blitar seperti jajanan jadul dan kerajinan tangan.

Bukit Pertapaan: Simbol Perjuangan Pemuda Blitar

Bukan hal mudah membangun dari nol. Zainal mengaku bahwa di awal inisiatif, banyak masyarakat yang masih pesimis. Mereka tidak yakin kawasan yang dulu sepi dan tidak dikenal bisa berkembang jadi tempat wisata.

Baca Juga: Liburan Sekolah Seru di Blitar: Ini 6 Rekomendasi Tempat Wisata Edukatif dan Menyenangkan untuk Keluarga

“Tapi kami tidak menyerah. Sebagai pemuda Blitar, kami merasa bertanggung jawab menjaga warisan sejarah dan alam daerah sendiri. Lambat laun, masyarakat mulai percaya,” katanya.

Kini, Bukit Pertapaan tak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga pusat edukasi sejarah dan budaya. Banyak sekolah yang melakukan kunjungan edukatif, mengajak siswa belajar sejarah secara langsung di lokasi.

Setiap akhir pekan, kawasan ini juga rutin menggelar pasar gunung, di mana pengunjung bisa mencicipi jajanan tempo dulu, membeli produk lokal, hingga menikmati hiburan kesenian tradisional seperti jaranan dan warok.

Baca Juga: Ngantuk Setelah Makan? Bukan Diabetes, Mungkin Kamu Begadang Nonton MU

Bukti Nyata Sejarah Blitar Masih Hidup

Kehadiran Candi Pertapaan menjadi magnet utama wisata sejarah di tempat ini. Meski tidak semegah candi-candi di tempat lain, namun bangunan ini menyimpan nilai spiritual dan historis yang dalam.

“Ini bukti nyata bahwa sejarah Blitar tidak hanya ada di museum. Kita bisa melihat dan merasakannya langsung di sini,” kata Afida, salah satu wisatawan asal Kediri yang berkunjung akhir pekan lalu.

Baca Juga: Jejak Bung Karno, Theosofi, dan Larangan Freemason: Ketegangan Ideologis Sang Proklamator

Tak hanya sejarah, panorama alam dari puncak Bukit Pertapaan juga jadi daya tarik tersendiri. Pemandangan pegunungan, udara sejuk, dan nuansa hening menjadikan tempat ini cocok untuk relaksasi maupun kegiatan spiritual.

Harapan Menuju Wisata Berkelanjutan

Kedepannya, para pengelola Bukit Pertapaan berharap dukungan terus mengalir dari pemerintah kabupaten hingga provinsi agar pengelolaan bisa lebih optimal. Infrastruktur pendukung seperti akses jalan, penerangan malam, dan pengelolaan sampah sedang terus dibenahi.

Baca Juga: Bukit Teletubis Blitar: Wisata Alam, Swafoto, dan Wahana Seru dalam Satu Tempat

Zainal juga menekankan pentingnya pengembangan yang tidak merusak nilai sejarah dan keseimbangan alam.

“Kita tidak ingin tempat ini menjadi wisata massal yang merusak. Kami ingin tetap mempertahankan nilai-nilai asli: sejarah, alam, dan kearifan lokal,” tegasnya.

Bukit Pertapaan di Desa Bagelenan, Srengat, kini menjadi contoh nyata bagaimana pemuda Blitar mampu menjadi motor perubahan. Dengan semangat, kolaborasi, dan kecintaan pada tanah kelahiran, mereka mengubah situs sejarah yang nyaris terlupakan menjadi destinasi wisata Blitar yang menginspirasi.

Baca Juga: Bukit Teletubis Blitar: Wisata Alam, Swafoto, dan Wahana Seru dalam Satu Tempat

Bagi Anda yang mencari wisata edukatif, penuh makna, sekaligus menyegarkan, Bukit Pertapaan adalah jawabannya.

Jangan tunggu perubahan, jadilah bagian dari perubahan. Seperti semangat yang dihidupkan para pemuda Blitar, Bukit Pertapaan bukan sekadar tempat wisata—ia adalah simbol kebangkitan sejarah yang hidup kembali.

Editor : Anggi Septian A.P.
#sejarah #blitar #bukit pertapaan #wisata