BLITAR— Bagi para pencinta wisata yang menawarkan perpaduan antara keindahan alam, nilai sejarah, serta kekayaan budaya, Bukit Pertapaan di Gunung Pegat, Kecamatan Srengat, Kabupaten Blitar, adalah destinasi yang tidak boleh dilewatkan. Terletak di Desa Bagelenan, kawasan ini semakin populer sebagai bagian dari rangkaian wisata alam Blitar yang unik dan sarat makna.
Bukit Pertapaan tak hanya menawarkan panorama dari ketinggian, tetapi juga menjadi tempat belajar sejarah, menikmati kesenian tradisional, hingga berburu kuliner lokal. Inilah yang menjadikan kawasan Gunung Pegat ini istimewa—ia bukan sekadar tempat liburan, tetapi ruang edukasi wisata dan budaya yang hidup.
Perjalanan menuju puncak Bukit Pertapaan tidak semata soal mendaki. Di setiap anak tangga yang dilalui, pengunjung disuguhkan pemandangan alam yang memanjakan mata, udara pegunungan yang sejuk, serta ornamen-ornamen tematik yang memperkaya suasana. Tangga-tangga itu dihiasi dengan mural, tanaman hias, dan kutipan inspiratif, menjadikannya jalur yang tak hanya nyaman tetapi juga instagramable.
Baca Juga: Bukit Teletubis Blitar: Wisata Alam, Swafoto, dan Wahana Seru dalam Satu Tempat
Setibanya di puncak, pengunjung akan menemukan Candi Pertapaan, peninggalan zaman kerajaan yang masih berdiri kokoh meski usia telah berabad lamanya. Dari sini, panorama Blitar tampak membentang luas, mengingatkan kita pada kuatnya jejak sejarah yang menyatu dengan keindahan alam.
“Saya merasa seperti kembali ke masa lalu, tapi dengan suasana kekinian. Banyak spot foto yang menarik, tapi juga tetap menyimpan nilai budaya dan spiritual,” ungkap Lia, wisatawan asal Malang yang datang bersama komunitas fotografer.
Tak hanya jalur pendakian yang menarik, area Bukit Pertapaan kini telah dipoles menjadi taman tematik yang cocok untuk semua kalangan. Berbagai sudut taman telah diubah menjadi area swafoto dengan properti yang kreatif: ada miniatur rumah adat, gapura klasik, tempat duduk estetik, hingga jembatan cinta.
Bagi pengunjung muda maupun keluarga, taman ini menjadi daya tarik tersendiri. Tak sedikit pengunjung yang datang hanya untuk bersantai, berfoto, atau menggelar piknik sambil menikmati pemandangan sekitar.
Spot-spot ini juga telah banyak tersebar di media sosial, menjadikan Bukit Pertapaan sebagai salah satu lokasi wisata alam Blitar yang viral di kalangan milenial.
Di balik keindahan fisiknya, Bukit Pertapaan juga mengemban fungsi sebagai tempat edukasi wisata. Banyak sekolah dari Blitar dan sekitarnya yang mengadakan kunjungan ke sini, baik untuk kegiatan ekstrakurikuler seperti fotografi maupun pembelajaran sejarah.
Baca Juga: Jejak Freemason di Perkebunan Karanganyar Blitar: Misteri Simbol dan Nama-Nama dari Masa Kolonial
Pihak pengelola dari Kelompok Sadar Wisata bekerja sama dengan sekolah-sekolah untuk mengenalkan pentingnya menjaga warisan budaya dan lingkungan. “Kami ingin tempat ini bukan hanya jadi objek wisata, tapi juga tempat belajar yang menyenangkan,” ujar Zainal, ketua pengelola wisata Bukit Pertapaan.
Kegiatan edukatif seperti simulasi bertani, kelas terbuka sejarah, hingga pelatihan kesenian lokal menjadi program rutin di kawasan ini.
Setiap akhir pekan, suasana Bukit Pertapaan berubah menjadi panggung budaya rakyat. Di pelataran bawah, digelar Pasar Gunung, yang menghadirkan aneka jajanan jadul, produk kerajinan lokal, serta hiburan rakyat seperti jaranan, reog, dan seni warok.
Baca Juga: Bau Badan Bukan Kutukan Genetik, Tapi Gaya Hidup Kemproh
Pertunjukan ini tidak hanya menarik wisatawan, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya. Anak-anak lokal yang tergabung dalam sanggar seni mendapat ruang untuk tampil dan berkreasi, sementara para pelaku UMKM dapat memasarkan produk mereka kepada pengunjung dari berbagai daerah.
“Pasar gunung ini adalah cara kami mengangkat potensi lokal. Dari makanan, seni, hingga budaya. Semua dari masyarakat, untuk masyarakat,” ujar Zainal.
Kombinasi antara alam, sejarah, budaya, dan edukasi menjadikan Bukit Pertapaan sebagai contoh nyata wisata berkelanjutan di Blitar. Dengan tetap menjaga keaslian kawasan Gunung Pegat, para pengelola juga memastikan bahwa perkembangan wisata tidak merusak alam dan nilai sejarah yang melekat.
Baca Juga: Lezatnya Kuliner Bakmi Ala Chinese di Kota Blitar yang Menggugah Selera
Keberhasilan pengelolaan Bukit Pertapaan juga menjadi dorongan bagi desa-desa lain di Blitar untuk mulai mengembangkan potensi lokal dengan cara serupa: berbasis masyarakat, memberdayakan pemuda, dan menjaga akar budaya.
Bukit Pertapaan di lereng Gunung Pegat bukan sekadar destinasi foto-foto. Ia adalah perjalanan mendaki sejarah, di mana setiap langkah menghubungkan kita dengan nilai luhur masa lalu, keindahan alam, dan semangat gotong royong warga lokal.
Bagi wisatawan yang mencari lebih dari sekadar selfie, Bukit Pertapaan menawarkan pengalaman yang holistik: wisata alam Blitar yang sejuk, wisata budaya Blitar yang hidup, dan edukasi wisata yang inspiratif.
Jadi, jika Anda mencari tempat yang menggabungkan petualangan, pembelajaran, dan hiburan dalam satu kunjungan, Bukit Pertapaan adalah jawabannya.
Editor : Anggi Septian A.P.