BLITAR-Blitar tidak hanya dikenal sebagai kota sejarah dan budaya, namun kini mulai menonjol sebagai daerah yang mengembangkan wisata berkelanjutan berbasis masyarakat. Uniknya, motor penggerak utama di balik transformasi ini datang dari generasi muda Blitar yang mengambil peran besar dalam membangun dan mengelola potensi wisata daerah.
Dua destinasi yang menjadi bukti nyata semangat itu adalah Bukit Pertapaan di Gunung Pegat dan Sumur Amber di Desa Kandangan. Keduanya kini menjelma sebagai simbol kolaborasi antara pemuda, warga, dan pemerintah desa dalam menciptakan pariwisata yang tidak hanya menarik, tetapi juga berakar kuat pada nilai budaya dan tanggung jawab sosial lingkungan.
Di Bukit Pertapaan, Kecamatan Srengat, sekelompok pemuda membentuk Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) untuk menghidupkan kembali situs sejarah yang lama terbengkalai. Bukit yang dulunya hanya dikenal sebagai tempat pertapaan peninggalan kerajaan, kini telah dipoles menjadi destinasi wisata edukasi dan budaya yang ramai dikunjungi wisatawan.
Baca Juga: Bau Badan Bukan Kutukan Genetik, Tapi Gaya Hidup Kemproh
Ketua Pokdarwis, Zainal, menuturkan bahwa semangat utama mereka bukan semata ekonomi, tetapi juga bentuk tanggung jawab sosial. “Kami ingin menjaga warisan leluhur, sambil memperkenalkan sejarah Blitar kepada generasi sekarang. Jika kami tidak bergerak, siapa lagi?” katanya.
Sementara itu, di Sumur Amber, generasi muda juga turut aktif dalam inovasi, perawatan fasilitas, hingga pengembangan wisata edukatif untuk anak-anak. Sumur yang dulunya hanya dimanfaatkan untuk irigasi sawah, kini menjadi tempat pemandian alami yang berkembang pesat.
Menurut Abas, pengelola Sumur Amber dari BUMDes Kandangan, banyak pemuda yang kini terlibat sebagai penjaga tiket, pengelola UMKM, hingga tim kreatif media sosial. “Dari yang awalnya hanya main gadget di rumah, sekarang mereka ikut menjaga dan mempromosikan wisata desa sendiri,” ujarnya.
Baca Juga: Jejak Freemason di Perkebunan Karanganyar Blitar: Misteri Simbol dan Nama-Nama dari Masa Kolonial
Salah satu bukti konkret semangat perubahan adalah inovasi wisata malam dan edukasi berbasis pengalaman. Di Sumur Amber, mulai digagas zona edukasi tangkap ikan untuk anak-anak, sebagai bentuk pengenalan terhadap alam dan budaya agraris Blitar. Ke depan, juga dirancang konsep wisata malam dengan lampu tematik dan hiburan rakyat.
Hal serupa juga dilakukan di Bukit Pertapaan. Selain sebagai tempat refleksi sejarah, kini diadakan pasar gunung dan pertunjukan kesenian seperti jaranan dan warok setiap Minggu pagi. Semua pertunjukan melibatkan seniman lokal, sebagai bentuk pelestarian budaya yang semakin lama makin ditinggalkan.
Inovasi yang dilakukan para pemuda ini tak hanya memberi wajah baru pada wisata Blitar, tapi juga perlahan mengubah pola pikir masyarakat desa. Mereka yang awalnya pesimis dan ragu, kini ikut bangga dan berpartisipasi.
Baca Juga: Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar
“Dulu masyarakat masih ragu, takut kalau wisata hanya membuang waktu. Tapi setelah melihat hasilnya, mereka mulai percaya bahwa anak muda bisa membawa perubahan,” tambah Zainal.
Kunci keberhasilan dari kedua destinasi ini adalah kemampuan menggabungkan nilai lokal dengan gaya wisata kekinian. Baik di Bukit Pertapaan maupun Sumur Amber, banyak tersedia spot foto Instagramable, taman tematik, dan jajanan jadul yang kembali dibangkitkan. Semua dikemas dengan tetap menjaga unsur edukasi dan keberlanjutan lingkungan.
Inilah yang membuatnya cocok sebagai wisata milenial, di mana para pengunjung bukan hanya datang untuk berswafoto, tetapi juga mendapatkan nilai tambah berupa sejarah, edukasi lingkungan, hingga pengalaman sosial yang menyentuh.
Konsep ini juga membawa nilai penting dalam pendidikan karakter. Beberapa sekolah mulai menjadikan kunjungan ke dua lokasi ini sebagai bagian dari ekstrakurikuler, terutama dalam bidang fotografi, sejarah, dan kesenian daerah.
“Anak-anak sekolah kini lebih antusias belajar sejarah jika disampaikan melalui pengalaman langsung. Ini jauh lebih berkesan daripada hanya di kelas,” ujar salah satu guru pendamping dari SMA Negeri di Srengat.
Lebih dari sekadar tempat wisata, Bukit Pertapaan dan Sumur Amber kini menjadi ruang edukasi publik tentang bagaimana masyarakat bisa mengelola potensi lokal menjadi kekuatan ekonomi dan budaya.
Baca Juga: Tanda-Tanda Awal Gangguan Jantung yang Sering Diabaikan: Jangan Sampai Terlambat!
Pesan moral yang berulang kali digaungkan oleh para penggerak muda ini adalah:
"Jangan tunggu perubahan, tapi jadilah bagian dari perubahan itu sendiri."
Semangat ini menular tidak hanya ke pemuda Blitar lainnya, tetapi juga ke desa-desa sekitar yang mulai melirik potensi wisata mereka masing-masing.
Wisata berkelanjutan Blitar kini tak lagi sekadar wacana. Ia hadir nyata di tangan pemuda Blitar, yang membawa semangat inovasi, tanggung jawab sosial, dan cinta terhadap budaya serta lingkungan. Melalui edukasi wisata yang kreatif, mereka membuktikan bahwa desa bisa menjadi pusat perubahan — bukan hanya menjadi penonton perkembangan zaman.
Dengan perpaduan antara nilai lokal dan kebutuhan wisata modern, Blitar menunjukkan bahwa membangun tidak harus mahal dan rumit. Cukup dengan niat, gotong royong, dan keberanian generasi muda untuk melangkah.
Jadi, jika Anda ingin merasakan pengalaman wisata yang bukan hanya indah tapi juga bermakna dan membangun, kunjungilah Bukit Pertapaan dan Sumur Amber. Dua tempat yang bukan hanya menyegarkan tubuh, tetapi juga menyentuh hati.
Editor : Anggi Septian A.P.