Dewi Mutiara dan Hasrat Kekuasaan: Intrik Istana Pajajaran
Dimas Galih Nur Hendra Saputra• Senin, 14 Juli 2025 | 04:30 WIB
Kehamilan yang Dinanti
Blitar – Di balik gemerlap istana Pajajaran dan kisah cinta mistis Prabu Siliwangi, tersimpan intrik dan ambisi kekuasaan yang perlahan berubah menjadi kehancuran keluarga kerajaan.
Sosok Dewi Mutiara, permaisuri kedua Prabu, menjadi pusat kisah penuh drama yang membuka jalan bagi lahirnya legenda besar: Nyi Roro Kidul, sang penguasa laut selatan yang juga menjadi bagian penting dalam kultur masyarakat pesisir Blitar.
Awal Penuh Harapan: Kehamilan yang Dinanti
Setelah Putri Kadita tumbuh menjadi gadis bijak dan cantik, Prabu Siliwangi mulai memikirkan masa depan kerajaannya.
Dalam sistem monarki saat itu, tahta secara tradisional diwariskan kepada anak laki-laki. Dengan restu Kadita, Prabu memutuskan untuk menikah lagi demi mendapatkan pewaris laki-laki.
Pilihannya jatuh pada Dewi Mutiara, seorang bangsawan cantik nan anggun dari kerajaan tetangga. Pernikahan itu disambut suka cita oleh rakyat Pajajaran.
Tak lama, kabar bahagia datang — Dewi Mutiara mengandung bayi laki-laki. Sebuah harapan baru lahir, yang membuat Prabu dan rakyat makin menaruh harapan pada permaisuri baru.
Namun tak disangka, di balik senyum anggunnya, Dewi Mutiara menyimpan hasrat yang membara: menguasai istana seutuhnya dan menyingkirkan siapapun yang dianggap menghalangi langkahnya, termasuk Putri Kadita.
Semakin hari usia kehamilannya bertambah, sifat asli Dewi Mutiara pun mulai terlihat. Dari seorang yang tampak lemah lembut, ia berubah menjadi pribadi pemarah, egois, dan haus perhatian.
“Aku ingin makanan kerajaan yang mewah disiapkan setiap hari,” perintahnya suatu pagi, tanpa memedulikan kondisi dapur istana.
Prabu Siliwangi yang semula sabar, perlahan mulai kewalahan memenuhi permintaan demi permintaan sang istri. Namun karena rasa cinta dan rasa tanggung jawab atas janji sebagai suami, ia tetap berusaha melayani kehendak permaisurinya.
Sampai pada satu hari, Dewi Mutiara mengajukan permintaan yang membuat Prabu terdiam.
“Kakanda Prabu, demi kenyamanan dan kesehatan kehamilanku, aku minta satu hal: usir Putri Kadita dari istana ini.”
Dilema Seorang Raja dan Ayah
Permintaan itu menghantam batin Prabu Siliwangi. Bagaimana mungkin ia mengusir darah dagingnya sendiri? Putri Kadita adalah anak dari cinta sejatinya — wanita misterius dari hutan yang dulu menolong dan mencintainya tanpa syarat.
“Tidak bisa, Dinda. Dia anakku, putri semata wayang yang kubesarkan dengan kasih. Tak mungkin aku tega mengusirnya,” jawab Prabu.
Namun bagi Dewi Mutiara, jawaban itu tidak memuaskan. Ia merasa posisinya sebagai permaisuri dan ibu dari calon putra mahkota terancam oleh keberadaan Kadita.
Rasa iri, takut kehilangan pengaruh, dan obsesi terhadap kekuasaan perlahan menggerogoti akal sehatnya.
Jalan Gelap: Dukun dan Sihir Hitam
Dewi Mutiara pun memilih jalan gelap. Diam-diam, ia mencari dukun sakti yang diyakini mampu melancarkan niat jahatnya: menyingkirkan Putri Kadita tanpa harus menumpahkan darah.
Ia membawa sesaji dan membayar mahal sang dukun untuk melakukan ritual. Di malam pekat, dukun itu memanggil kekuatan hitam dan meniupkan mantra-mantra ke arah boneka kayu berwujud Kadita. Bau busuk menyelimuti udara, tanda sihir mulai bekerja.
Malam itu, Putri Kadita yang tengah tertidur, diselimuti kabut gelap dan asap beracun. Keesokan paginya, seluruh tubuhnya ditumbuhi bintik-bintik hitam dan kulitnya berubah mengerikan. Ia bangun dengan teriakan, terkejut melihat tubuhnya yang tak lagi seperti manusia biasa.
Manipulasi dan Hasutan Terakhir
Prabu yang mendengar jeritan segera memanggil tabib dari seluruh penjuru kerajaan. Namun tak satu pun mampu menyembuhkan Kadita. Dalam kepanikan dan rasa bersalah, Prabu mulai goyah.
Dewi Mutiara melihat celah. Ia berkata dengan nada iba, “Kakanda, demi keselamatan calon putra kita dan rakyat Pajajaran, sebaiknya Kadita diasingkan. Penyakitnya bisa menular dan membuat rakyat panik.”
Dengan berat hati, Prabu akhirnya mengiyakan. Tangannya tak sanggup menyentuh bahu anaknya yang akan diusir.
“Maafkan ayahmu, Putriku… Jagalah dirimu.”
Dengan linangan air mata, Kadita pergi meninggalkan istana menuju hutan. Tidak ada amarah, tidak ada dendam — hanya kesedihan dan kesabaran dalam menerima takdir.
Dari Intrik Menjadi Legenda: Jalan Menuju Laut Selatan
Apa yang dilakukan Dewi Mutiara adalah simbol dari betapa ambisi kekuasaan bisa membutakan nurani. Namun dari tragedi itu, justru lahirlah sosok legendaris yang lebih kuat: Putri Kadita berubah menjadi Nyi Roro Kidul, penguasa lautan, penjaga Pantai Selatan, dan simbol kekuatan perempuan dalam mitologi Jawa.
Di berbagai tempat, termasuk pesisir Blitar, kisah ini dipercaya sebagai asal mula kuatnya ikatan spiritual antara masyarakat dan laut. Ritus larung sesaji dan pantangan mengenakan pakaian hijau masih dijaga sebagai bentuk penghormatan pada Nyi Roro Kidul, sang putri yang dikhianati istana.
Intrik istana, kecemburuan, dan pengkhianatan memang klasik. Tapi kisah ini lebih dari sekadar dongeng. Ini adalah cermin dari dunia politik yang bisa mengorbankan siapa pun — bahkan darah daging sendiri.