Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kutukan Tengah Malam: Derita Kadita dan Keputusan Terberat Sang Raja

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Senin, 14 Juli 2025 | 03:30 WIB

Keputusan terberat sang raja
Keputusan terberat sang raja

Blitar – Dalam sejarah dan legenda kerajaan Pajajaran, nama Putri Kadita selalu dikenang bukan hanya karena kecantikannya, tetapi karena nasib tragis yang menimpanya.

Kisahnya, yang sarat intrik istana, sihir, dan pengkhianatan, menjadi salah satu babak paling kelam dalam perjalanan Prabu Siliwangi.

Namun dari tragedi itu pula, lahirlah sosok mistis yang kini dikenal masyarakat luas sebagai Nyi Roro Kidul, penguasa laut selatan yang begitu lekat dengan budaya spiritual di kawasan pesisir, termasuk Blitar.

Baca Juga: Puluhan SMP Negeri di Kabupaten Blitar tak Penuhi Pagu, Dispendik Ungkap Penyebabnya

Malam yang Mengubah Segalanya

Malam itu terasa seperti malam biasa. Putri Kadita, anak Prabu Siliwangi dari istri misterius yang pernah tinggal di hutan, tengah tertidur pulas di kamarnya.

Namun tanpa disadari, asap berbau anyir mulai merayap di sela-sela pintu, menyelimuti tempat tidurnya. Tidak ada suara. Tidak ada tanda peringatan. Tapi malam itu menjadi awal bencana.

Ketika fajar menyingsing, jeritan mengguncang seluruh istana. Sang putri bangun dengan tubuh dipenuhi bintik hitam dan luka aneh yang menjalar di kulitnya. Wajahnya, yang sebelumnya begitu cantik, tampak berubah menyeramkan. Sontak semua dayang menjerit ketakutan, dan kabar segera sampai ke telinga Prabu.

Baca Juga: Jalur Pendakian Karangrejo Akan Ditutup Selama Enam Hari, Ini Alasannya

Kepanikan dan Kegagalan Tabib Kerajaan

Prabu Siliwangi langsung memanggil seluruh tabib terbaik dari penjuru negeri. Ia tak ingin kehilangan satu-satunya putri yang begitu dicintainya. Istana berubah menjadi rumah pengobatan raksasa—aroma herbal bercampur asap dupa memenuhi udara. Namun, tidak satu pun pengobatan yang berhasil.

“Ini bukan penyakit biasa, Paduka. Ini seperti kutukan…” bisik salah satu tabib yang mulai putus asa.

Kata “kutukan” menjadi buah bibir seluruh penghuni istana. Gosip mulai beredar, ketakutan menjalar, dan tekanan politik perlahan menekan batin sang raja. Putri Kadita, yang dulu dielu-elukan, kini menjadi simbol horor tak kasat mata. Bahkan sebagian rakyat mulai mengaitkan kejadian itu dengan tanda-tanda buruk bagi kerajaan.

Baca Juga: Progres Koperasi Merah Putih di Kota Blitar Terkendala NPWP Pengurus

Dewi Mutiara dan Solusi Jahatnya

Di tengah kekacauan itu, muncullah Dewi Mutiara, permaisuri baru Prabu yang tengah mengandung calon penerus tahta. Sebagai seorang istri, ia tampil seolah peduli dan prihatin terhadap kondisi Kadita.

Namun di balik kepeduliannya, tersimpan niat jahat yang sebelumnya telah disemai melalui bantuan dukun santet.

Kakanda Prabu, izinkan dinda menyampaikan satu usulan…” ucapnya lirih. “Demi keselamatan calon putra kita dan kestabilan kerajaan, alangkah baiknya Putri Kadita… diasingkan.

Prabu tersentak.

Baca Juga: Jejak Freemason di Perkebunan Karanganyar Blitar: Misteri Simbol dan Nama-Nama dari Masa Kolonial

Bagaimana bisa? Itu putriku. Dinda tahu itu.

Namun Dewi Mutiara tak kehabisan cara. Ia menyusun kata-kata, memainkan emosi sang raja, dan membungkus niat jahatnya dalam bungkus kepentingan negara.

Kakanda, rakyat mulai resah. Tabib tak mampu menyembuhkannya. Bayi dalam kandunganku bisa terancam. Apakah kita akan mempertaruhkan semuanya demi satu orang?

Keputusan yang Menghancurkan Hati

Prabu Siliwangi dihadapkan pada dilema terbesar dalam hidupnya. Sebagai ayah, hatinya menolak keras. Namun sebagai raja, ia dibayangi tanggung jawab terhadap seluruh rakyatnya.

Malam itu, ia termenung lama di singgasananya. Angin dingin menerpa tirai istana seolah ikut menyaksikan pergolakan batin seorang raja.

Baca Juga: Sejarah Rumah Loji dan Misteri di Baliknya: Menelusuri Jejak Spiritual di Blitar

Akhirnya, dengan mata berkaca-kaca, ia memanggil Kadita. Sang putri datang dengan pakaian lusuh, wajahnya tertunduk, tapi senyum kecil tetap tergambar.

Putriku… Maafkan ayah. Demi kerajaan dan keselamatan semua, kau harus meninggalkan istana ini.

Kadita hanya diam. Tidak menangis. Tidak melawan. Ia tahu sejak awal bahwa bukan penyakit yang akan merenggutnya dari istana—melainkan pengkhianatan dari orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Ayah, jangan khawatir. Aku pasti akan baik-baik saja.

Baca Juga: Dari Freemason ke Kopi Arabika Blitar: Transformasi Mistis Jadi Destinasi Edukasi dan Wisata

Dengan langkah ringan namun menyayat hati, Putri Kadita meninggalkan gerbang istana. Ia tak tahu ke mana harus pergi. Tapi malam itu, langit berselimut awan hitam. Alam seperti tahu, bahwa seorang anak sedang diusir bukan karena dosa, melainkan karena takdirnya sedang dipahat.

Awal Mula Legenda Nyi Roro Kidul

Pengasingan ini bukan akhir dari cerita, melainkan awal dari legenda besar yang kelak menggema hingga pesisir selatan Jawa, termasuk wilayah Blitar.

Di tengah penderitaannya, Kadita bertapa di hutan. Ia kemudian mendapat bisikan gaib untuk menuju Pantai Selatan—tempat yang menjadi takdirnya.

Baca Juga: Makam W. Smith dan Simbol Latin Misterius: Jejak Tersembunyi di Perkebunan Karanganyar Blitar

Dari sanalah ia menyatu dengan laut dan berubah menjadi sosok yang lebih kuat, lebih agung, dan lebih dihormati: Nyi Roro Kidul, ratu laut yang diyakini masih menjaga garis pantai hingga kini.

Di Blitar dan sekitarnya, legenda Nyi Roro Kidul hidup dalam berbagai bentuk: upacara larung sesaji, pantangan mengenakan pakaian hijau saat di pantai, hingga cerita mistis yang diceritakan dari generasi ke generasi.

Dan semua itu, bermula dari satu kutukan tengah malam dan keputusan terberat seorang raja.

Putri Kadita mungkin telah diusir, namun warisannya hidup dalam ingatan budaya, spiritualitas, dan keyakinan masyarakat Blitar hingga hari ini.

Editor : Anggi Septian A.P.
#keputusan #kutukan #derita #Terberat #tengah malam #kadita #Sang Raja