Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Bukan Raja, Tapi Pelarian: Kisah Raden Wijaya yang Lari untuk Menang

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Selasa, 15 Juli 2025 | 23:55 WIB

Kisah pelarian Raden Wijaya
Kisah pelarian Raden Wijaya

Blitar — Nama Raden Wijaya sering diagungkan sebagai pendiri Kerajaan Majapahit, simbol kejayaan nusantara yang bahkan disebut dalam Kitab Negarakertagama.

Tapi jarang yang tahu bahwa sebelum dinobatkan sebagai raja, Raden Wijaya bukan siapa-siapa. Ia hanya seorang pelarian. Dikejar, ditolak, bahkan sempat tak punya tempat bernaung.

Dikutip dari kanal YouTube Jejak Luka Seorang Raja: Raden Wijaya, tampak jelas bahwa jalan menuju takhta tidak dihampari bunga-bunga kemenangan.

Baca Juga: Polisi Mulai Operasi Patuh Semeru 2025, Kapolres Blitar Kota: Masih Banyak Anak Tak Pakai Helm saat Dibonceng Orang Tuanya

Sebaliknya, yang mengawali segalanya adalah kekalahan, luka, dan pengkhianatan. Dari tragedi pembantaian keluarga hingga pengusiran dari tanah kelahiran, Raden Wijaya menapaki takdirnya bukan dengan kemenangan, melainkan dengan pelarian panjang.

Kisah ini bukan sekadar sejarah, tapi refleksi manusiawi: bahwa kebesaran bukan hanya milik mereka yang lahir dalam kemewahan. Majapahit yang megah ternyata dibangun dari jiwa yang compang-camping. Dari seorang pelarian yang bahkan sempat tidak diakui bangsanya sendiri.

Dikejar dan Dikhianati: Awal Jejak Luka

Perjalanan pelarian Raden Wijaya bermula saat Singhasari runtuh tahun 1292. Kertanegara—mertuanya—tewas dalam pemberontakan yang dipimpin Jayakatwang dari Kadiri.

Baca Juga: Letusan Gunung Tengger, Asal-Usul Terbentuknya Gunung Bromo

Sebagai menantu raja dan pewaris potensial, Wijaya menjadi target. Ia diburu. Tak hanya kehilangan keluarga dan kekuasaan, ia juga kehilangan arah.

Bersama beberapa pengikut setia, Raden Wijaya melarikan diri. Mereka mencari perlindungan ke berbagai daerah, termasuk ke Madura.

Di sana, ia bertemu tokoh penting: Arya Wiraraja, bekas pejabat Singhasari yang memilih mendukung Jayakatwang. Ajaibnya, Arya Wiraraja justru memberi tumpangan, bahkan dukungan politik—mungkin karena menyadari karisma dan potensi besar dalam diri Wijaya.

Namun pelarian ini bukan tanpa ujian. Dalam masa pelarian, Wijaya bahkan sempat hidup dengan menyamar, mengandalkan keterampilan bertahan hidup. Di titik ini, ia bukan seorang pahlawan, bukan bangsawan—hanya seorang manusia yang berjuang untuk hidup.

Baca Juga: Kuliah vs Langsung Kerja? Maudy Ayunda Bicara Soal Fleksibilitas, Kredibilitas & Quarter Life Crisis

Strategi Licik atau Kecerdasan Politik?

Setelah mendapat dukungan, Raden Wijaya tidak gegabah menyerang balik. Ia malah “menyerah” kepada Jayakatwang. Dengan kepura-puraan tunduk, ia diberi tanah di hutan Tarik—yang kelak menjadi cikal bakal Majapahit.

Inilah titik balik: dari pelarian menjadi pendiri. Ia mulai membangun kekuatan di balik bayang-bayang Jayakatwang. Ia tak lagi hanya lari, tapi mulai merancang jalan pulang.

Tahun 1293, pasukan Mongol dari Dinasti Yuan (Tiongkok) mendarat di Jawa untuk menghukum Kertanegara—karena Singhasari dulu menolak tunduk pada Khubilai Khan. Wijaya, jenius dalam strategi, memanfaatkan momentum.

Baca Juga: Tips Belajar Efektif ala Maudy Ayunda: Merhatiin di Kelas Lebih Penting dari Belajar Semalaman

Ia bekerja sama dengan Mongol untuk menggulingkan Jayakatwang. Tapi setelah menang, giliran pasukan Mongol yang diusir.

Raden Wijaya akhirnya dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit. Tapi kemenangan ini dibayar dengan manipulasi, taktik, dan pengkhianatan. Apakah ini salah? Atau justru bukti kecerdasan luar biasa?

Luka Tak Pernah Hilang

Meski akhirnya menjadi raja, jejak luka dalam diri Raden Wijaya tak pernah benar-benar sembuh.

Video di kanal YouTube Jejak Luka Seorang Raja menggambarkan sosok Raden Wijaya yang terus dibayangi masa lalu—kehilangan, pelarian, dan beban membangun kerajaan dari reruntuhan.

Baca Juga: Tips Belajar Efektif ala Maudy Ayunda: Merhatiin di Kelas Lebih Penting dari Belajar Semalaman

Sebagai raja, ia dikenal pendiam, waspada, dan tidak banyak bersenang-senang. Tak heran bila Majapahit dibangun dengan sikap keras, disiplin, dan penuh perhitungan. Sebab bagi Wijaya, setiap langkah adalah pertaruhan hidup-mati.

Kisahnya menunjukkan bahwa kebesaran bukan hanya soal kejayaan, tapi soal bertahan di tengah kehancuran. Bahwa luka dan kehilangan bisa melahirkan pemimpin besar—selama ia tidak menyerah.

Dari Pelarian Menjadi Legenda

Hari ini, nama Raden Wijaya harum sebagai pelopor Majapahit. Tapi di balik gelar mulia itu, ada kisah getir yang layak diingat. Bahwa seorang pelarian bisa menjadi pendiri peradaban. Bahwa tak semua raja lahir dari kemewahan; sebagian justru datang dari luka terdalam.

Baca Juga: Dari Bayi Terbesar Jadi Spokesperson G20: Perjalanan Maudy Ayunda Melawan Rasa Takut

Cerita ini sangat relevan di era sekarang, terutama bagi generasi muda yang mungkin merasa tersingkir, gagal, atau tidak dianggap.

Raden Wijaya adalah bukti bahwa keterpurukan bukan akhir. Ia adalah cermin: siapa pun bisa bangkit, asal punya tekad, kecerdasan, dan sedikit keberuntungan.

Penutup: Menyulam Luka, Menulis Sejarah

Kisah Raden Wijaya bukan hanya sejarah, tapi sumber inspirasi. Ia bukan hanya raja, tapi manusia biasa yang dipaksa menjadi luar biasa. Dari pelarian menjadi pendiri. Dari korban menjadi penguasa.

Baca Juga: Sekolah Rakyat: Strategi Negara Mengangkat Kaum Miskin lewat Pendidikan Berasrama

Majapahit, pada akhirnya, bukan hanya soal kekuasaan besar. Ia adalah hasil dari perjuangan pribadi seorang lelaki yang dikhianati sejarah—lalu menulis ulang sejarah dengan tangannya sendiri.

Dan mungkin, di setiap kita, ada sepotong Raden Wijaya yang sedang berjuang—melarikan diri bukan untuk kalah, tapi untuk menang.

Photo
Photo
Editor : Anggi Septian A.P.
#kisah #lari #menang #Untuk #Raden Wijaya