BLITAR – Di sebuah Podcast dari Folkative, Wulan Guritno dan Kimberly Ryder membuka topik perbincangan panas terkait tantangan sebagai perempuan di zaman modern.
Mereka berterus terang mengungkap pengalaman pribadinya menghadapi standar ganda masyarakat terhadap Perempuan, terutama single parent.
"Sejak pertama kali menstruasi, hidup perempuan itu sudah ribet," ujar Wulan.
Menurutnya, perjalanan sebagai perempuan penuh dengan tantangan biologis dan sosial yang seringkali tidak dipahami sepenuhnya oleh kaum laki-laki.
Perempuan berusia 41 tahun ini menjelaskan secara rinci berbagai kesulitan yang dihadapi, mulai dari menstruasi, kehamilan, hingga melahirkan.
"Laki-laki tidak perlu mengganti pembalut setiap 4 jam atau merasakan sakit melahirkan. Tapi perempuan diharapkan tetap produktif dalam kondisi apapun," tegasnya.
Sebagai seorang single parent, Wulan juga mengkritik stigma yang masih melekat pada perempuan bekerja.
Ia kerap mendapati komentar seperti “Perempuan kok bekerja?” atau “Anak tidak pernah diurus sama Ibunya” yang menurutnya tidak pernah ditujukan kepada laki-laki.
Faktanya, budaya patriarki di Indonesia masih sangat kental.
Laki-laki selalu dianggap raja, pahlawan, sementara perempuan selalu dijatuhkan dan dianggap tidak pantas apabila menjadi seorang pekerja keras, mandiri, berpendidikan tinggi.
Namun di balik semua kritikannya, Wulan memberikan pesan positif. Ia menekankan pentingnya perempuan menetapkan standar sendiri dan tidak terpaku pada ekspektasi masyarakat.
"Kita harus berani menentukan apa yang terbaik untuk diri sendiri. Tidak perlu meminta izin untuk bahagia," pesannya.
Menurut survei dari KataData (2023) menguatkan pernyataan Wulan, menunjukkan bahwa 67% perempuan Indonesia merasa terbebani atas tuntutan sosial untuk menjadi "sempurna" dalam segala peran. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.