Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Operasi Intelijen ala Majapahit: Ketika Raden Wijaya Menipu Pasukan Mongol

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Rabu, 16 Juli 2025 | 00:15 WIB

Raden Wijaya menipu pasukan mongol
Raden Wijaya menipu pasukan mongol

BLITAR – Nama Raden Wijaya selalu dihubungkan dengan berdirinya Kerajaan Majapahit, simbol kejayaan Nusantara. Tapi, tak banyak yang tahu bahwa sebelum duduk di takhta, ia sempat memainkan peran bak agen intelijen.

Dalam salah satu momen paling brilian dalam sejarah Asia Tenggara, **Raden Wijaya berhasil memanfaatkan pasukan Mongol utusan Kaisar Khubilai Khan untuk menghancurkan musuhnya—dan setelah itu, justru menipu mereka dan menyerang balik.

Peristiwa dramatis ini terjadi pada tahun 1293. Saat itu, Raden Wijaya belum menjadi raja. Ia masih dalam status pelarian setelah Singhasari dihancurkan oleh Jayakatwang dari Kediri.

Baca Juga: Polisi Mulai Operasi Patuh Semeru 2025, Kapolres Blitar Kota: Masih Banyak Anak Tak Pakai Helm saat Dibonceng Orang Tuanya

Di tengah ketidakpastian, muncul peluang emas: kedatangan armada Mongol yang membawa 20.000 tentara sebagai balas dendam atas penghinaan yang dilakukan Kertanegara, mertua Raden Wijaya, terhadap utusan Khubilai Khan.

Dalam dokumenter YouTube JEJAK LUKA SEORANG RAJA, dibeberkan bagaimana Majapahit lahir dari siasat luar biasa, bukan sekadar keberuntungan. Raden Wijaya tahu bahwa ia tidak akan mampu melawan Jayakatwang sendirian.

Maka, ia mengatur rencana: berpura-pura tunduk kepada pasukan Mongol, lalu mengarahkan mereka menyerang Kediri.

Gunakan Musuh untuk Kalahkan Musuh

Dengan kemampuan diplomasi yang tajam, Raden Wijaya mengirim utusan kepada jenderal Mongol, mengaku sebagai pemimpin sah Tanah Jawa yang digulingkan oleh Jayakatwang.

Pasukan Mongol, yang sedang mencari musuh untuk dilampiaskan, menyambut dengan senang hati.

Apa yang terjadi kemudian bak skenario film aksi. Pasukan Mongol dan bala Raden Wijaya bahu-membahu menggempur Kediri.

Jayakatwang tak mampu melawan gempuran dari dua sisi. Kerajaannya runtuh, dan Raden Wijaya berhasil menghabisi musuh bebuyutannya tanpa harus berperang sendiri.

Namun, drama belum berakhir. Setelah Jayakatwang kalah, pasukan Mongol berharap Raden Wijaya tunduk kepada Dinasti Yuan. Tapi tentu, Wijaya bukan orang yang mudah dikendalikan.

Baca Juga: Kecerdasan Emosional sebagai Pondasi Menjalin Hubungan Langgeng

Operasi Balik: Menipu dan Menyerang Mongol

Setelah membantu pasukan Mongol merebut Kediri, Raden Wijaya meminta izin kembali ke Majapahit dengan alasan menyiapkan upeti untuk Kaisar Khubilai Khan. Jenderal Mongol yang terlalu percaya, mengizinkan.

Saat tiba di Majapahit, Raden Wijaya segera menyerang balik pasukan Mongol yang tengah lengah. Dalam hitungan hari, ratusan prajurit Mongol tewas. Mereka panik dan mundur ke kapal. Di tengah kekacauan, armada Mongol pun angkat kaki dari Jawa, kembali ke China dalam keadaan kalah telak.

Inilah salah satu operasi intelijen paling brilian dalam sejarah Asia. Seorang tokoh lokal yang semula buron, bukan hanya berhasil menipu kekuatan superpower dunia, tapi juga mengusir mereka dari Nusantara.

Baca Juga: Tips Belajar Efektif ala Maudy Ayunda: Merhatiin di Kelas Lebih Penting dari Belajar Semalaman

Dari titik inilah, Majapahit lahir — bukan dari darah bangsawan, tapi dari keberanian dan kecerdikan luar biasa.

Raden Wijaya dan Seni “Berpura-Pura”

Strategi Raden Wijaya mungkin terdengar licik, tapi dalam konteks zaman itu, ini adalah bentuk tertinggi dari seni bertahan hidup.

Ia tidak memiliki pasukan besar, tidak punya benteng kuat, tapi memiliki satu senjata yang menentukan: akal cerdas dan insting bertahan yang tajam.

Di mata Mongol, ia adalah sekutu. Di mata rakyat Jawa, ia adalah pahlawan yang memulihkan martabat tanah air.

Baca Juga: Tips Belajar Efektif ala Maudy Ayunda: Merhatiin di Kelas Lebih Penting dari Belajar Semalaman

Dalam catatan sejarah Tiongkok, mereka mencatat "pengkhianatan" Raden Wijaya dengan nada geram — tapi itu justru menjadi bukti keberhasilannya dalam menipu kekuatan besar.

Tidak heran, setelah insiden itu, Kaisar Khubilai Khan tak pernah lagi mengirim pasukan ke Nusantara.

Trauma akan kejadian di Jawa membuat Dinasti Yuan memilih untuk fokus ke wilayah lain. Ini artinya, Majapahit tak hanya menang di medan perang, tapi juga menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan asing.

Pelajaran dari “Operasi Majapahit”

Kisah ini bukan hanya soal sejarah, tapi juga soal strategi hidup. Kadang kita tak perlu melawan langsung musuh besar. Kita bisa bertahan dengan kecerdikan, membentuk aliansi, dan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang.

Raden Wijaya mengajarkan bahwa menjadi pemimpin bukan soal kekuatan fisik semata. Tapi soal kapan harus patuh, kapan harus pura-pura kalah, dan kapan harus menyerang balik. Ia bukan sekadar pendiri Majapahit, tapi juga seorang strategis militer dan politik yang cerdas.

Lewat dokumenter JEJAK LUKA SEORANG RAJA, publik disadarkan bahwa sejarah bukan sekadar barisan nama dan angka. Tapi cerita manusia, strategi, luka, dan keberanian.

Dan dalam semua itu, nama Raden Wijaya akan selalu dikenang sebagai orang yang menipu Mongol demi menyelamatkan tanah Jawa.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Mongol #majapahit #intelijen #menipu #operasi #Raden Wijaya