Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Cerita Kampret, Komunitas Wadah Para Penghobi Ikan Predator di Blitar

Fajar Rahmad Ali Wardana • Rabu, 16 Juli 2025 | 00:28 WIB
Alvin Rosidin menunjukkan salah satu jenis ikan predator yang dilelang dalam acara ulang tahun Kampret, Minggu (13/7).  Cerita Kampret, Wadah Penghobi Ikan Predator Blitar.
Alvin Rosidin menunjukkan salah satu jenis ikan predator yang dilelang dalam acara ulang tahun Kampret, Minggu (13/7). Cerita Kampret, Wadah Penghobi Ikan Predator Blitar.

BLITAR - Tidak banyak yang tahu, dari sekadar kumpul kecil di pasar ikan, kini komunitas ikan predator Blitar yang bernama Kampret menjelma jadi wadah solid bagi para pecinta ikan buas bersirip tajam.

Salah satu sosok yang ikut membesarkan komunitas ini adalah Alvin Rosidin, ketua Kampret yang baru menjabat dan punya semangat besar untuk membawa komunitas makin dikenal.

“Saya awalnya hanya ikut kumpul-kumpul saja, tertarik karena orang-orangnya kompak. Bahkan saya baru masuk ke komunitas ini pada 2022 lalu.

Dari situ malah jadi suka pelihara ikan predator juga,” ungkap Alvin saat ditemui di sela perayaan anniversary ke-9 Kampret, Minggu (13/7/2025) lalu.

Alvin mengaku dirinya baru dua tahun terakhir aktif dalam komunitas, namun justru dari sanalah ketertarikan terhadap ikan predator makin tumbuh.

Di rumahnya, dia memelihara beberapa jenis ikan, mulai dari arwana, belida, hingga ikan-ikan tank mate lain yang punya karakteristik unik dan agresif.

Menurut Alivin, yang membuat seru hobinya ini karena ikan peliharannya ini agresif. Tentu berbeda dengan hias biasanya.

Selain jadi hiburan, juga bisa jadi tantangan sendiri, dalam perawatan yang harus ekstra hari-hati.

Laki-laki 26 tahun ini menceritakan Kampret terbentuk dari kebiasaan para penghobi ikan predator yang sering bertemu di pasar ikan.

Mereka butuh wadah yang bisa menampung kegiatan, saling berbagi informasi, hingga wadah jual beli antaranggota.

“Dulu banyak banget penghobi ikan predator di Blitar. Akhirnya, dibentuklah komunitas biar ada tempat diskusi, edukasi, juga kegiatan bersama.

Sempat terjadi vakum, dalam setahun terakhir namun akhirnya aktif lagi setelah adanya reorganisasi,” ungkapnya.

Kini, Kampret sudah mengalami regenerasi. Banyak anggota baru yang bergabung. Anniversary ke-9 ini bahkan menjadi ajang untuk mempererat hubungan sekaligus mengenalkan pengurus baru.

Tentu mereka ingin lebih solid lagi, agar terus aktif dan berkembang dalam komunitas ini. Tak sekadar hobi, komunitas ini juga mulai melirik peran lebih besar di bidang edukasi lingkungan.

Alvin menjelaskan, ke depannya Kampret akan menggelar kegiatan pelepasan ikan lokal atau endemik, hingga edukasi tentang bahaya ikan invasif kepada masyarakat.

Ikan invasif adalah spesies ikan yang bukan asli dari suatu ekosistem, yang menyebabkan kerusakan lingkungan, ekonomi, atau kesehatan.

“Sekarang banyak ikan invasif seperti Red Devil yang lepas ke sungai-sungai. Itu bahaya untuk ekosistem.

Edukasi ini penting biar masyarakat dan penghobi tidak sembarangan lepas ikan. Hal itu juga menghindari kasus serupa yang pernah menimpa wisata fish garden,” tegasnya.

Alvin menyebut Kampret juga berencana menghidupkan lagi kontes ikan predator dan kolaborasi dengan komunitas lain, seperti yang pernah dilakukan saat tren ikan cana memuncak beberapa tahun lalu.

Menariknya, dalam setiap gathering besar, Kampret juga rutin mengadakan sesi lelang ikan predator.

Menurut Alvin, selain menjadi ajang seru, lelang ini mempererat kebersamaan anggota. Apalagi banyak yang melepas ikannya untuk dilelang dengan harga terjangkau, demi kemajuan komunitas.

“Lelang itu yang paling ditunggu. Seru dan bisa dapat ikan bagus dengan harga miring,” pungkasnya.(*)

Editor : M. Subchan Abdullah
#pasar #komunitas #blitar #kolaborasi #predator #ikan #menjelma #kampret #wadah #Penghobi #edukasi #sesi #Berencana