Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Sumpah Sang Pendiri: Malam Terakhir Raden Wijaya dan Wasiat untuk Majapahit

Dimas Galih Nur Hendra Saputra • Rabu, 16 Juli 2025 | 00:35 WIB

Malam Terakhir Raden Wijaya dan Wasiat untuk Majapahit
Malam Terakhir Raden Wijaya dan Wasiat untuk Majapahit

BLITAR – Nama Raden Wijaya tak bisa dilepaskan dari kejayaan Majapahit. Namun sebelum ia dikenal sebagai pendiri kerajaan terbesar di Nusantara itu, ada kisah malam sunyi yang menjadi saksi wasiat terakhir sang raja.

Sebuah momen penuh kontemplasi, keheningan yang dibingkai oleh kecemasan, intrik politik, dan semangat menjaga tanah air.

Menurut dokumenter YouTube JEJAK LUKA SEORANG RAJA, malam-malam menjelang wafatnya Raden Wijaya bukan sekadar penantian ajal. Ia memanggil orang-orang kepercayaannya, termasuk para putra mahkota dan penasihat kerajaan.

Baca Juga: Polisi Mulai Operasi Patuh Semeru 2025, Kapolres Blitar Kota: Masih Banyak Anak Tak Pakai Helm saat Dibonceng Orang Tuanya

Dalam detik-detik itu, ia mengucapkan wasiat Raden Wijaya yang kelak menjadi semacam "sumpah roh" bagi Majapahit: menjaga persatuan, menjauh dari kerakusan, dan mewaspadai pengkhianatan dari dalam.

Peristiwa spiritual ini bukan sekadar dongeng istana. Justru di sanalah titik balik Majapahit: antara menjaga kejayaan atau membiarkan warisan agung itu tercerai-berai oleh perebutan kekuasaan antar pewaris takhta.

Wasiat yang Tak Tercatat di Prasasti

Meski tidak tertulis dalam prasasti resmi, kesaksian lisan dan teks kuno seperti Pararaton dan interpretasi naratif dalam dokumenter tersebut menyebut bahwa Raden Wijaya tidak meninggal dalam damai biasa.

Baca Juga: Letusan Gunung Tengger, Asal-Usul Terbentuknya Gunung Bromo

Ia wafat dengan dada yang berat oleh kekhawatiran: bahwa pewarisnya mungkin tak cukup kuat menjaga stabilitas Majapahit dari godaan intrik, ambisi, dan dendam lama.

Ia tidak menyebut satu nama pewaris secara tegas, melainkan memberi peringatan: bahwa siapapun yang ingin memimpin Majapahit harus mampu mengalahkan dirinya sendiri terlebih dulu—bukan musuh luar, tapi nafsu dan keserakahan.

"Majapahit bisa roboh bukan karena diserbu, tapi karena para penguasanya tak lagi bersatu dalam satu niat," demikian terjemahan bebas dari kutipan yang dikisahkan ulang dalam dokumenter itu.

Baca Juga: Kuliah vs Langsung Kerja? Maudy Ayunda Bicara Soal Fleksibilitas, Kredibilitas & Quarter Life Crisis

Antara Sri Jayanegara dan Bahaya Dalam

Putra sulung Raden Wijaya, Sri Jayanegara, secara resmi memang menjadi raja setelah ayahnya mangkat. Namun sebagaimana digambarkan dalam dokumenter tersebut, penunjukan ini jauh dari kata damai.

Ada keraguan dari para elite istana karena Jayanegara memiliki darah campuran Jawa dan Melayu—hasil dari pernikahan Wijaya dengan Dara Petak, putri dari Dharmasraya (Sumatra). Ini menimbulkan konflik identitas dan pertentangan dalam lingkaran dalam Majapahit.

Raden Wijaya, sebelum wafat, diduga sadar bahwa takhta akan penuh ujian. Itulah mengapa wasiatnya bersifat terbuka dan penuh simbol, bukan instruksi teknis. Ia ingin agar Majapahit dipimpin oleh orang yang tak sekadar berkuasa, tapi mampu menahan godaan dan membela kepentingan rakyat.

Baca Juga: Kecerdasan Emosional sebagai Pondasi Menjalin Hubungan Langgeng

Dalam narasi dokumenter, malam itu adalah malam sunyi penuh getar batin. Raden Wijaya disebut sempat menangis. Ia tak takut mati, tapi takut kerajaannya runtuh oleh tangan keturunannya sendiri.

Roh Majapahit dan Kutukan Takhta

Beberapa teks Jawa kuno menyiratkan bahwa wasiat Raden Wijaya bukan sekadar amanah politik, tapi juga titipan spiritual.

Dalam budaya Jawa, suara terakhir seorang pemimpin bisa menjadi "rohing raja"—semacam energi gaib yang melekat pada negara yang didirikannya. Jika pewaris mengingkari, maka bukan hanya rakyat yang murka, tapi juga semesta.

Baca Juga: Dari Bayi Terbesar Jadi Spokesperson G20: Perjalanan Maudy Ayunda Melawan Rasa Takut

Dalam konteks inilah banyak sejarawan menafsirkan bahwa kejatuhan Majapahit di kemudian hari bukan hanya karena serangan eksternal, melainkan karena hilangnya semangat pemersatu yang diwariskan oleh sang pendiri.

Dokumenter tersebut menyuguhkan narasi yang menyentuh, diiringi musik gamelan lirih dan ilustrasi malam mendung di mana raja yang lelah akhirnya berpulang dengan air mata tertahan.

Apa Warisan Sejati Seorang Raja?

Kini, ratusan tahun setelahnya, kita mengenang Raden Wijaya bukan hanya karena pendirian Majapahit, tapi juga karena keberaniannya menyampaikan kebenaran pada akhir hidupnya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat: Strategi Negara Mengangkat Kaum Miskin lewat Pendidikan Berasrama

Di tengah glamor kekuasaan, ia justru memilih jujur: bahwa Majapahit besar, tapi rapuh. Indah, tapi mudah retak jika para pewarisnya lupa akan asal-usul dan sumpah leluhur.

Wasiatnya tetap relevan hari ini. Bahwa negara harus dibangun di atas niat baik, bukan ambisi kosong. Bahwa kepemimpinan harus dilandasi pengabdian, bukan kemewahan.

Di hari-hari besar nasional, tak ada salahnya merenungkan kembali suara terakhir sang raja. Raden Wijaya telah pergi, tapi sumpahnya masih bergema: bahwa Majapahit—atau negeri manapun—akan kokoh jika para pemimpinnya tak lupa darimana mereka berasal.

Editor : Anggi Septian A.P.
#malam #majapahit #wasiat #terakhir #dan #Raden Wijaya