Ternyata Ini Asal Nama Salatiga! Cerita Sunan Kalijaga dan Tiga Pihak yang Bersalah
Findika Pratama• Rabu, 16 Juli 2025 | 00:50 WIB
Ternyata Ini Asal Nama Salatiga! Cerita Sunan Kalijaga dan Tiga Pihak yang Bersalah
BLITAR Kawentar.JawaPos.com – Nama kota Salatiga yang kini dikenal sebagai salah satu kota berhawa sejuk di Jawa Tengah ternyata menyimpan kisah historis yang sarat dengan pesan moral.
Berdasarkan kisah yang dikisahkan ulang di channel YouTube Gromore Studio Series, nama Salatiga bukan muncul tanpa sebab, melainkan berasal dari sebuah peristiwa menegangkan yang melibatkan tiga pihak: seorang Adipati, istrinya, dan para perampok.
Menurut cerita, pada masa Kesultanan Demak, Kadipaten Semarang berada di bawah kepemimpinan seorang Adipati bernama Ki Ageng Pandan Arang II. Ia dikenal sebagai pemimpin kaya raya dan disegani. Namun, seiring waktu, sifat keserakahannya semakin menonjol, hingga membuat rakyat menderita akibat pajak yang tinggi dan tekanan ekonomi yang tak manusiawi.
Kabar mengenai kesewenang-wenangan sang Adipati sampai ke telinga Sunan Kalijaga, salah satu wali terkenal dari Walisongo yang juga penasihat spiritual Kerajaan Demak. Merasa prihatin, beliau menyamar menjadi seorang tukang rumput dan menyusun rencana untuk menyadarkan Ki Ageng Pandan Arang. Dari sinilah awal mula kejadian yang akhirnya mengubah jalan hidup sang Adipati dan menjadi cikal bakal nama kota Salatiga.
Dalam penyamarannya, Sunan Kalijaga menjual rumput kepada sang Adipati. Namun, setiap kali diberi uang, sang tukang rumput diam-diam menyelipkan kembali uang itu ke dalam ikatan rumput. Hal ini membuat Adipati jengkel. Uang selalu kembali meski telah ia bayarkan.
Akhirnya, Adipati memanggil tukang rumput itu dan memarahinya. Namun jawaban tukang rumput justru membuatnya terdiam. “Saya tak butuh uang itu, Doro. Bahkan saya bisa mendapatkan emas hanya dengan mencangkul tanah,” ujar si tukang rumput.
Sang Adipati menantangnya untuk membuktikan ucapannya. Dengan mengucap Bismillah, tukang rumput mencangkul tanah dan muncullah bongkahan emas dari dalam bumi. Peristiwa itu terjadi berulang kali, di tempat yang berbeda-beda. Namun ketika sang Adipati mencoba mencangkul sendiri, tak ada satu pun emas yang keluar.
Terungkap: Tukang Rumput Itu Adalah Sunan Kalijaga
Karena penasaran, Ki Ageng Pandan Arang bertanya, “Siapa sebenarnya dirimu?” Tukang rumput itu lalu membuka identitasnya. Ia adalah Sunan Kalijaga. Tujuannya datang bukan untuk mempermalukan, melainkan menyadarkan Adipati agar kembali ke jalan yang benar dan meninggalkan kerakusan duniawi.
Tersentuh dan penuh rasa malu, Adipati pun memutuskan untuk bertaubat. Ia ingin melepas jabatannya, memperdalam ilmu agama, dan mengikuti Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam. Sang istri pun diajak untuk ikut serta dalam perjalanan spiritual tersebut.
Namun ternyata, sang istri tak sepenuhnya siap meninggalkan harta. Diam-diam, ia menyembunyikan emas dalam tongkat bambu, berharap bisa tetap membawanya tanpa sepengetahuan suaminya.
Dalam perjalanan, Sunan Kalijaga dan sang Adipati dihadang tiga perampok yang mencari harta. Tapi mereka tak menemukan apa-apa. Sunan Kalijaga lalu berkata, “Tunggu saja. Akan ada perempuan lewat yang membawa apa yang kalian cari.”
Benar saja, tak lama kemudian, istri Adipati lewat dan dirampok. Semua emas dalam tongkat bambunya dirampas. Ia kemudian menangis dan menemui suaminya sambil mengatakan bahwa harta mereka dirampok.
Sang Adipati pun marah, bukan karena hartanya hilang, tapi karena sang istri telah mengabaikan perintahnya dan masih terikat pada dunia. Sunan Kalijaga menengahi dan berkata, “Dalam peristiwa ini, ada tiga pihak yang bersalah: sang Adipati yang dulu zalim, sang istri yang serakah, dan para perampok yang jahat.”
Untuk mengenang peristiwa itu, Sunan Kalijaga menamai tempat tersebut dengan Salah Tiga, yang artinya "tiga yang salah". Seiring waktu, sebutan itu berubah pelafalan menjadi Salatiga, seperti yang kita kenal sekarang.
Kisah ini bukan sekadar dongeng rakyat biasa. Cerita tentang asal-usul nama Salatiga mengandung makna mendalam: bahwa kesalahan manusia datang dari berbagai arah, dan penyadaran diri merupakan langkah pertama menuju perubahan yang lebih baik.
Kini, kota Salatiga tumbuh menjadi wilayah yang dikenal damai dan religius. Tak sedikit orang yang baru mengetahui bahwa di balik nama indah itu, ada kisah penyesalan, tobat, dan pengorbanan yang menginspirasi.
Cerita ini mengajarkan bahwa harta bukan segalanya. Bahkan bagi seorang Adipati yang berkuasa, kehidupan sederhana dan hati yang bersih adalah kunci dari kedamaian yang sesungguhnya.