Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Satu Suro, Bau Badan Genetik, dan Mitos Warisan Penguk: Sindiran Tajam RJL 5 yang Bikin Melek

Anggi Septiani • Rabu, 16 Juli 2025 | 00:55 WIB

 

Satu Suro, Bau Badan Genetik, dan Mitos Warisan Penguk: Sindiran Tajam RJL 5 yang Bikin Melek
Satu Suro, Bau Badan Genetik, dan Mitos Warisan Penguk: Sindiran Tajam RJL 5 yang Bikin Melek

BlitarKawentar.jawapos.com – Dalam suasana yang penuh nuansa mistis seperti Satu Suro, masyarakat Jawa biasanya sibuk berbicara tentang tirakat, mandi kembang, hingga laku prihatin. Namun, berbeda dengan channel edukatif penuh satire RJL 5 - Fajar Aditya, yang justru menyoroti “mitos harian” yang lebih membumi dan menyengat hidung: bau badan.

Melalui tayangan terbarunya, Fajar Aditya—yang akrab disapa Dokter Doti—membongkar mitos bahwa bau badan adalah warisan genetik. Ia menyindir keras, “Jangan salahkan bapakmu kalau kamu bau penguk!” Ujaran itu viral karena tepat menyentil banyak orang yang ogah introspeksi soal gaya hidup.

Dalam konteks Satu Suro yang sarat refleksi, kritik ini terasa pas sebagai momentum memperbaiki diri—mulai dari hal sederhana: kebersihan badan.

Baca Juga: 42 Ribu e-KTP Warga Kabupaten Blitar Kok Bisa Invalid, Dispendukcapil Ungkap Penyebabnya

Tak hanya menyoroti genetik sebagai alasan usang, konten RJL 5 juga menjelaskan secara ilmiah bahwa bau badan lebih banyak dipengaruhi oleh interaksi bakteri dan keringat. Jadi, bukan faktor keturunan semata.

Di tengah perbincangan seputar spiritualitas Satu Suro, Doti mengajak masyarakat untuk merenung: jangan hanya bersih lahir batin, tapi juga bersih badan.

“Genetik Cuma Alasan, Hidupmu yang Penguk”

Dalam video berdurasi hampir 22 menit itu, Fajar menegaskan bahwa memang benar aroma tubuh bisa diturunkan secara genetik, namun bau badan yang menyengat—atau dalam istilah lokalnya, bau penguk, asem, tengik, bahkan kecut—lebih disebabkan karena faktor kebersihan dan pola hidup.

“Kalau helm kamu aja nggak pernah dicuci, ya wajar kalau badannya ikut bau,” sindirnya. Ia melanjutkan, “Bau badan itu karena bakteri yang berinteraksi dengan keringat. Jadi jangan menyalahkan genetik seenaknya.”

Dengan gaya bahasa nyeleneh khas RJL 5, Dokter Doti berhasil menyulap topik ilmiah menjadi konsumsi ringan namun penuh edukasi.

Baca Juga: Letusan Gunung Tengger, Asal-Usul Terbentuknya Gunung Bromo

Ia menyentuh persoalan nyata yang sering terjadi di ruang publik seperti angkutan umum, tempat kerja, hingga lingkungan sosial—di mana bau badan kerap menjadi sumber keluhan, tapi jarang dibahas secara terbuka.

Masyarakat Butuh Jujur dan Sadar Diri

Tak kalah menarik, Fajar menyentil orang-orang yang merasa "diterima apa adanya" tapi abai pada aspek kebersihan pribadi. Ia mengkritik dengan gaya humoris, “Kalau kamu tahu badanmu bau, itu bukan untuk dimaklumi, tapi ditangani!”

Pernyataan ini menohok, terutama di zaman di mana kesadaran personal hygiene seharusnya sudah jadi norma dasar.

Ia juga mengingatkan, jangan berlindung di balik mitos atau dalih-dalih spiritual semata. “Kalau kamu kemproh, ya mandi. Jangan menyalahkan keturunan,” tambahnya.

Baca Juga: Sekolah Rakyat dan Nilai Lokal: Pendidikan Harus Mengakar di Budaya

Dalam semangat Satu Suro, yang biasanya digunakan masyarakat Jawa untuk mawas diri, kritik ini menjadi sangat relevan. Momentum ini bisa dijadikan titik balik untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya kebersihan tubuh sebagai bentuk tanggung jawab sosial.

Mitos Genetik vs Realita Gaya Hidup

Menurut Doti, ada memang sebagian orang yang memiliki aroma tubuh bawaan tertentu akibat genetik.

Tapi kondisi ini sangat kecil dibandingkan mayoritas kasus bau badan yang disebabkan oleh kondisi kulit, kebiasaan tidak mandi, jenis pakaian, hingga pola makan dan stres.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa bakteri yang menetap di lipatan tubuh, seperti ketiak dan selangkangan, akan bereaksi dengan keringat dan memproduksi senyawa asam yang menjadi sumber bau. Bahkan kondisi metabolik seperti diabetes juga bisa menyebabkan bau badan berbeda, tapi tetap bisa diatasi dengan gaya hidup sehat.

Baca Juga: Kecerdasan Emosional sebagai Pondasi Menjalin Hubungan Langgeng

Dalam istilah populernya: “Penguk bukan takdir, tapi kelalaian.”

Refleksi Modern: Bau Badan Bukan Hal Sepele

Fajar Aditya juga menyampaikan bahwa bau badan bisa berdampak pada kepercayaan diri, relasi sosial, bahkan peluang karier. “Bayangin kamu wawancara kerja, tapi ambune kaya helm bekas hujan. Lolos po?” ujarnya sambil tertawa.

Sindiran ini bukan sekadar lucu-lucuan, tapi mengangkat fakta yang sering diabaikan.

Meski banyak orang menganggap bau badan sebagai hal pribadi, kenyataannya itu menyangkut kenyamanan publik. Sehingga, memperbaiki gaya hidup bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk menghormati orang lain.

Baca Juga: 42 Ribu e-KTP Warga Kabupaten Blitar Kok Bisa Invalid, Dispendukcapil Ungkap Penyebabnya

Pesan Akhir: Jangan Cuma Tirakat, Tapi Juga Mandi

Mengutip semangat Satu Suro sebagai simbol penyucian diri, Doti menutup kontennya dengan kalimat: “Tirakat jangan cuma puasa, tapi juga bersih badan. Jangan cuma khusyuk ritual, tapi lupa cebok yang bersih.”

Di tengah budaya mistik dan religi yang kental, pesan ini tampil sebagai pengingat bahwa kesalehan fisik dan sosial tidak boleh dikesampingkan. Karena bau badan bukan sekadar perkara genetik atau spiritual, tapi cermin dari pola hidup dan kepedulian terhadap sesama.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Rjl 5 Fajar Aditya #Mitos #momen #bau badan #genetik #satu suro #bongkar