Blitar – Di tengah suasana Satu Suro yang penuh renungan dan tirakat, masyarakat Jawa seringkali menahan diri dari hal-hal duniawi demi menyucikan lahir dan batin. Namun, di sela laku prihatin itu, muncul satu keresahan klasik yang selalu menghantui dapur para emak: “Apa santan bisa bikin liver rusak?”
Pertanyaan itu dijawab lugas dan penuh gaya oleh Fajar Aditya, dokter sekaligus kreator konten kesehatan di channel YouTube RJL 5. Lewat videonya yang tayang menjelang malam Satu Suro, Fajar mengangkat isu santan dan kesehatan hati yang selama ini dipenuhi mitos dan salah kaprah.
“Yang bikin rusak itu bukan santan, tapi pola hidupmu yang ugal-ugalan!” ujarnya blak-blakan.
Baca Juga: Hari Ini dan Besok Matahari Melintas di Atas Kakbah, Ini Penjelasan MUI Kabupaten Blitar
Ia mengajak masyarakat—khususnya para pecinta opor, lodeh, dan rendang—untuk tidak asal menghakimi bahan tradisional seperti santan. Di momen Satu Suro yang sarat makna penyucian diri, justru saatnya meluruskan kekeliruan logika seputar makanan rakyat.
Santan Bukan Musuh, Kalau Kamu Bisa Menakar
Dalam videonya, Fajar membongkar kekhawatiran banyak orang terhadap santan. Menurutnya, santan memang mengandung lemak jenuh, tapi tidak serta-merta menyebabkan kerusakan hati atau kolesterol tinggi, apalagi jika dikonsumsi dalam porsi wajar.
“Kalau kamu makan opor tiga kali sehari, minumnya es teh manis, tidurnya kurang, ya itu bukan salah santannya. Itu salah gaya hidupmu,” jelasnya dengan gaya santai.
Ia menekankan bahwa permasalahan kesehatan seperti perlemakan hati, kolesterol tinggi, dan gangguan metabolik justru lebih dipicu oleh kombinasi gaya hidup modern: kurang gerak, terlalu banyak gula, stres, dan jarang istirahat. Santan hanya jadi kambing hitam karena kesalahan persepsi yang diwariskan turun-temurun.
Baca Juga: Letusan Gunung Tengger, Asal-Usul Terbentuknya Gunung Bromo
Padahal, jika diproses dan dikonsumsi dengan bijak, santan justru punya kandungan antioksidan dan bisa menjadi sumber lemak sehat alami dari kelapa.
Satu Suro: Saatnya Membersihkan Mitos dan Pola Makan
Momentum Satu Suro menurut Fajar bukan cuma untuk membersihkan batin, tapi juga untuk mulai mengubah cara pikir terhadap makanan tradisional. Ia mengajak pemirsanya untuk tidak serta-merta meninggalkan kuliner khas seperti rawon, sayur lodeh, atau gudeg, hanya karena mengandung santan.
“Kamu takut santan, tapi makan gorengan lima biji sehari. Ini logikanya dari mana?” sindirnya.
Ia menjelaskan, dibandingkan bahan-bahan olahan pabrik atau makanan cepat saji, justru masakan berbasis santan cenderung lebih alami dan tidak mengandung pengawet.
Baca Juga: Sekolah Rakyat dan Nilai Lokal: Pendidikan Harus Mengakar di Budaya
Masalahnya bukan pada santannya, tapi pada seberapa banyak, seberapa sering, dan dalam kondisi hidup seperti apa kita mengonsumsinya.
Satu Suro bisa jadi titik awal untuk mendekatkan kembali masyarakat pada makanan tradisional, bukan dengan ketakutan, tapi dengan kesadaran dan pengetahuan gizi yang benar.
Emak-Emak Wajib Tahu: Santan Tak Perlu Diharamkan
Tak heran jika video RJL 5 yang membahas santan dan kesehatan hati itu ramai ditonton oleh para ibu rumah tangga. Fajar, dengan caranya yang ringan namun ilmiah, mengangkat kembali kebanggaan terhadap dapur Nusantara.
Ia menyebut bahwa selama ini emak-emak sering khawatir dengan menu bersantan karena mitos “santan bikin kolesterol” yang terus digaungkan, padahal tak didukung bukti medis yang kontekstual.
“Kalau kamu pakai santan segar, masaknya nggak pakai penyedap berlebihan, dan dimakan bareng sayuran serta lauk sehat, itu malah bagus. Lebih baik dari makanan kemasan yang penuh bahan kimia,” paparnya.
Baca Juga: Pendidikan Bukan Proyek Kabinet: Mengapa Reformasi Harus Lintas Zaman
Fajar juga menekankan bahwa risiko penyakit liver lebih sering disebabkan oleh konsumsi alkohol, kelebihan berat badan, dan sindrom metabolik—bukan dari semangkuk sayur lodeh buatan simbok.
Tips Sehat Menikmati Santan ala Dokter Doti
Sebagai penutup, Fajar membagikan beberapa tips sehat agar masyarakat bisa tetap menikmati santan tanpa khawatir berlebihan:
-
Gunakan santan segar dari kelapa parut, bukan santan instan berpengawet.
-
Masak santan sekali saja, hindari memanaskan ulang berkali-kali.
-
Kombinasikan santan dengan bahan berserat tinggi seperti sayuran hijau atau tempe.
-
Hindari konsumsi berlebihan, cukup 1–2 kali dalam seminggu.
-
Perhatikan pola hidup secara keseluruhan: cukup tidur, olahraga, dan kurangi gula.
“Masalah kesehatan itu bukan karena satu bahan, tapi akumulasi gaya hidup. Jadi jangan haramkan santan kalau kamu sendiri masih langganan junk food,” tegasnya sambil tersenyum.