BLITAR, jawatimur – Sebuah kisah mistis dari kanal Teman Dikala Malam kembali menggugah rasa penasaran warganet, terutama pencinta cerita horor lokal.
Kali ini, pengalaman datang dari Mas Bondan yang semula hanya ingin liburan santai ke desa, namun malah mendapati malam pertamanya diwarnai oleh teror tak masuk akal.
Kisah bermula saat Bondan memutuskan berlibur ke sebuah desa kecil di pinggiran Blitar, tempat tinggal keluarga jauh sahabatnya. Ia membayangkan suasana desa yang tenang, udara sejuk, suara jangkrik, dan pemandangan sawah yang menyegarkan pikiran.
Baca Juga: Pemkot Blitar Tegaskan Komitmen Cegah Bullying di Sekolah, Ini Pesan Penting Wawali Mbak Elim
Ekspektasinya sederhana: rehat dari kebisingan kota. Tapi ternyata, alam pedesaan menyimpan sesuatu yang lebih dari sekadar damai—ada sisi gelap yang tak ia bayangkan sebelumnya.
Sore itu, semuanya terasa sempurna. Ia dijemput langsung oleh Hanung, temannya, dan disuguhi teh panas dengan gorengan sambil duduk di teras memandangi langit jingga. Anak-anak desa bermain riang, suara ayam jantan masih terdengar bersahutan.
Tak ada tanda-tanda akan terjadi hal ganjil. Justru Bondan sempat berpikir untuk memperpanjang masa tinggal karena merasa begitu nyaman.
Baca Juga: Masih Ada Jalan Rusak di Desa Candirejo Blitar, Pengendara Wajib Hati-hati
Namun, begitu malam menjelang, nuansa desa berubah drastis. Setelah makan malam, Hanung dan keluarganya mulai menunjukkan sikap tak biasa. Mereka menyalakan lampu minyak meski listrik menyala, menutup semua jendela dan pintu, serta melarang Bondan ke luar rumah.
“Biasanya jam segini udah sepi total, Bro. Bukan cuma karena dingin,” kata Hanung singkat.
Bondan hanya menanggapi dengan senyum. Ia berpikir itu bagian dari adat atau kebiasaan desa. Namun ketika jarum jam menunjukkan pukul 10 malam, suasana rumah menjadi begitu sunyi.
Bahkan detak jam dinding terdengar begitu nyaring. Tak lama, suara aneh mulai muncul dari luar rumah—semacam derap langkah di tanah kering, seperti seseorang berjalan mengelilingi rumah dengan kaki telanjang.
Baca Juga: Dua Destinasi Wisata di Blitar Ramai Dikunjungi Selama Libur Panjang Sekolah
Awalnya Bondan berpikir itu hewan malam. Tapi langkah itu terlalu berat dan konsisten. Seolah-olah makhluk itu tahu ke mana harus melangkah: ke belakang rumah, lalu ke samping, dan kembali ke depan.
Tiba-tiba terdengar suara seperti tangan menampar dinding kayu rumah dengan keras. Semua orang di dalam rumah terdiam. Hanung hanya memberi isyarat agar Bondan tidak bergerak dan menutup mulutnya.
Yang membuat Bondan semakin merinding adalah ketika ia melihat bayangan hitam lewat di sela tirai jendela. Ukurannya tinggi besar, dan tampak seperti membungkuk. Ia spontan berdiri, tapi langsung ditarik oleh Hanung dan disuruh duduk.
“Jangan bikin dia sadar kalau kamu bisa lihat dia,” bisik Hanung dengan suara gemetar.
Baca Juga: Komisi I DPRD Kota Blitar Sebut Sosialisasi SPMB SMA/SMK Belum Maksimal
Teror malam itu tak berhenti sampai di situ. Sekitar pukul 2 dini hari, Bondan terbangun karena mendengar suara tangisan perempuan dari arah kebun belakang.
Ia mencoba membangunkan Hanung, tapi pria itu justru pura-pura tidur. Rasa takut membuat Bondan tak berani menoleh ke jendela. Ia hanya bisa memejamkan mata dan berharap pagi segera datang.
Esok harinya, Bondan bertanya pada ibu Hanung mengenai kejadian malam itu. Sang ibu hanya menjawab singkat, “Kalau malam pertama sudah diganggu, berarti kamu sudah dianggap ada di wilayahnya.”
Ia tak menjelaskan siapa atau apa “dia” yang dimaksud, hanya mengingatkan Bondan untuk tidak sembarangan selama berada di desa.
Rasa kecewa karena ekspektasi liburan yang gagal pun berubah menjadi ketakutan mendalam. Bondan sempat berpikir untuk langsung pulang, tapi karena rasa sungkan ia memutuskan bertahan dua malam lagi—dengan catatan, tidak keluar kamar sama sekali saat malam tiba.
Menurut Arya, narator di balik kanal Teman Dikala Malam, kisah seperti ini cukup sering ditemui di wilayah Jawa, terutama di desa-desa yang masih menjaga adat dan spiritualitas lokal.
“Sering kali tempat yang tampak damai di siang hari justru menyimpan energi yang berbeda saat malam. Kisah mistis seperti ini adalah warisan lisan yang sudah hidup berabad-abad,” katanya.
Cerita Mas Bondan mengingatkan bahwa tak semua tempat yang terlihat indah berarti aman dari gangguan tak kasatmata. Apalagi ketika kita adalah orang luar yang tak memahami batas-batas gaib yang dihormati oleh warga setempat.
Baca Juga: Eksklusif! Eks Bandar Ngaku Judi Online Tak Mungkin Dimenangkan Pemain: Semua Sudah Disetting
Kisah ini bukan sekadar hiburan horor, tetapi juga pengingat bahwa kisah mistis sering kali berakar dari pengalaman nyata yang diwariskan secara turun-temurun.
Dan bagi siapa pun yang merencanakan liburan ke pedesaan, barangkali tak ada salahnya untuk sedikit lebih peka dan menghormati larangan-larangan lokal—seberapa pun anehnya itu terdengar.
Bondan sendiri kini mengaku lebih selektif memilih tempat menginap. “Kalau ada larangan, saya nurut. Karena setelah malam itu, saya tahu: desa bukan cuma punya alam indah, tapi juga punya ‘penghuni’ lain yang tak ingin diganggu.”
Editor : Anggi Septian A.P.