Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kisah Mbah Din yang Picu Semangat Belajar Hikmah, Disebut Mirip Jalan Gus Samsudin

Anggi Septiani • Jumat, 18 Juli 2025 | 19:15 WIB

Kisah Mbah Din yang Picu Semangat Belajar Hikmah, Disebut Mirip Jalan Gus Samsudin
Kisah Mbah Din yang Picu Semangat Belajar Hikmah, Disebut Mirip Jalan Gus Samsudin

BLITAR — Nama Gus Samsudin belakangan sering dikaitkan dengan sosok-sosok spiritual yang naik daun karena pengalaman pribadi yang unik dan menyentuh. Salah satu kisah serupa datang dari Mbah Din, seorang tokoh spiritual Blitar yang mengaku pernah mengalami peristiwa mistis yang mengubah total arah hidupnya. Kisah ini mengingatkan publik pada narasi yang kerap disampaikan oleh Gus Samsudin, di mana peristiwa tak terduga justru menjadi pintu menuju ilmu hikmah dan jalan dakwah.

Dalam sebuah wawancara eksklusif, Mbah Din menceritakan awal mula ketertarikannya pada dunia spiritual dan ilmu hikmah. Semua bermula saat dirinya menemukan taburan garam aneh di depan rumah.

“Garam itu seperti disiram, tidak seperti tumpahan biasa,” ujarnya. Tak lama setelah itu, peristiwa mengejutkan terjadi — ayahnya mendadak muntah darah hebat pada malam yang sama. Pengalaman ini menjadi titik balik baginya.

Baca Juga: Bangkitkan UMKM, Strategi Menghadapi Tantangan Persaingan Pasar yang KetatBaca Juga: Bangkitkan UMKM, Ini Peran BUMN untuk Dorong Pasar Lokal ke Pasar Internasional!

Bagi sebagian orang, ini hanya kebetulan. Namun, bagi Mbah Din, momen itu seolah pertanda kuat bahwa ada kekuatan tak kasatmata yang perlu ia pahami, persis seperti kisah awal perjalanan spiritual Gus Samsudin.

Tak hanya garam dan muntah darah, perasaan jengkel, marah, bahkan dendam sempat menyelimuti batin Mbah Din. Ia mengaku sempat memendam kebencian pada para dukun yang dicurigai mengirim santet kepada keluarganya.

Namun, bukannya menempuh jalan balas dendam, Mbah Din justru memilih mendalami ilmu hikmah, serupa dengan pendekatan damai yang sering disampaikan oleh Gus Samsudin dalam berbagai pengajiannya.

Baca Juga: Waspadalah KPK Terus Menyisir Pengurus Pokmas di Blitar Terkait Kasus Korupsi Hibah Jatim

“Bagi saya, titik awal bukan dari ingin sakti. Tapi saya ingin tahu, kenapa bisa orang muntah darah hanya karena ada garam,” jelasnya. Ia mulai belajar dari para guru spiritual dan kiai kampung, satu per satu ia datangi.

Bukan pondok besar yang menjadi tempatnya menimba ilmu, melainkan warung-warung kopi, masjid kecil, dan rumah para ulama sepuh. Amalan awal yang ia dapat adalah shalat malam dan membaca selawat sebanyak-banyaknya, ijazah yang kini ia pegang teguh.

Kisah Mbah Din juga memperlihatkan bagaimana trauma bisa bertransformasi menjadi keberkahan. Ia rela berhenti sekolah demi merawat ayah yang sakit. “Saya nggak nyesel keluar dari sekolah.

Baca Juga: Makam Bukan untuk Manusia: Kisah Mistis Nisan Monyet di Tengah Kebun Blitar

Tiga tahun saya rawat bapak, dan saya yakin keberkahan hidup saya sekarang datang dari itu,” ucapnya lirih. Sejak saat itu, ia mantap menapaki jalan spiritual, namun tetap membumi. Ia tak segan membantu masyarakat, menolak disebut kiai, dan lebih nyaman dipanggil 'Din' saja.

Kini, konten-konten yang menampilkan Mbah Din banyak beredar di media sosial. Ia sering menjelaskan tentang santet, jin, dan amalan-amalan pembersihan diri. Tapi ia menekankan, semua itu bukan untuk pamer kesaktian, melainkan untuk edukasi. “Saya nggak sakti.

Yang saya bawa adalah ijazah-ijazah dari para guru saya. Kalau saya tampil, itu karena ingin menyampaikan ke masyarakat bahwa ilmu hikmah itu nyata dan bisa untuk kebaikan,” tegasnya.

Baca Juga: Larangan Jam 10 Malam: Kisah Mistis dari Rumah Tua yang Menyimpan Teror Gaib

Sikap rendah hati ini kembali mengingatkan publik pada pendekatan Gus Samsudin yang juga kerap menyuarakan pentingnya ilmu hikmah bukan sebagai sarana pamer, tapi jalan dakwah dan penyembuhan.

Baik Mbah Din maupun Gus Samsudin sama-sama menekankan pentingnya sanad keilmuan dan tidak sembarangan menggunakan amalan tanpa bimbingan guru.

Menariknya, meskipun dikenal karena konten spiritual, Mbah Din tetap menjaga sikap terbuka terhadap kritik dan logika. Ia tidak menolak orang yang skeptis terhadap santet atau dunia gaib.

Baca Juga: Tamu Tak Diundang: Kisah Mistis Monyet Gaib Penjaga Makam di Kebun Blitar

“Saya malah seneng kalau ada yang kritik. Karena itu artinya mereka masih mau belajar,” ucapnya. Ia juga kerap diundang dalam forum diskusi, baik secara daring maupun luring, untuk berbicara tentang praktik-praktik mistis yang masih dipercaya masyarakat hingga hari ini.

Lebih jauh, ia mengaku tidak pernah meminta bayaran dalam praktik-praktik rukyah atau bimbingan spiritual. “Kalau saya diminta bantu ya saya bantu, nggak mikir duit. Tapi kalau mereka mau nyumbang untuk kegiatan masjid atau anak yatim, ya saya terima sebagai amanah,” jelasnya.

Dalam dunia yang kian rasional dan penuh disinformasi, kehadiran sosok seperti Mbah Din menjadi penyeimbang narasi spiritual yang seringkali hanya dikaitkan dengan hal-hal negatif. Ia ingin menunjukkan bahwa ilmu hikmah bisa menjadi jalan kebaikan, bukan sekadar alat pamer kekuatan gaib.

Baca Juga: Dugaan Beras Oplosan, Disperindag Kota Blitar Tunggu Instruksi Pusat untuk Sidak Pasar

Seperti halnya Gus Samsudin yang membangun Pesantren Millenial dan aktif berdakwah lewat platform digital, Mbah Din juga memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan ilmunya. Ia berharap, generasi muda bisa tertarik belajar spiritualitas yang sehat dan tidak terjebak pada praktek-praktek syirik atau mistik liar.

“Kalau bisa, ilmu hikmah ini diajarkan di pesantren dan sekolah. Tapi harus benar, bersanad, ada adabnya. Bukan sekadar cari viral,” tutup Mbah Din.

Editor : Anggi Septian A.P.
#Samsudin #kisah #merasa #titik #Mirip #ayahnya #garam #awal #muntah #disantet #Gus #darah #mbah din #jadi