BLITAR – Dari seorang anak guru ngaji di kampung hingga menjadi sosok spiritual yang dikenal luas, perjalanan Mbah Din bukanlah kisah instan. Masyarakat Blitar dan sekitarnya mengenalnya sebagai figur yang menenangkan, penuh hikmah, dan tak jarang viral di media sosial karena konten-konten dakwah spiritualnya.
Uniknya, kisah hidup Mbah Din yang bermula dari pemulung roso di pasar hingga menjadi tokoh panutan kini, kerap disandingkan dengan perjalanan spiritual Gus Samsudin, tokoh spiritual Blitar yang lebih dulu tenar secara nasional.
Dalam wawancara eksklusif bersama tim blitarkawentar.jawapos.com, Mbah Din mengisahkan masa kecilnya yang jauh dari gemerlap kehidupan pesantren formal. Ia tumbuh di sebuah desa kecil di Lampung, di bawah asuhan seorang ayah yang
Baca Juga: Manfaatkan Teknologi AI untuk Majukan UMKM Indonesia
dikenal sebagai guru ngaji kampung. “Saya ini bukan lulusan pesantren besar. Bapak saya guru ngaji. Saya belajar ngaji dari beliau, tapi selebihnya ya saya cari sendiri, dari pasar ke pasar, dari kiai ke kiai,” ujarnya.
Saat usianya masih belasan tahun, Mbah Din mengaku membantu ekonomi keluarga dengan menjadi pemulung roso atau sisa sayuran dari pasar. “Dulu saya ke pasar, ambil sayuran sisa dari pedagang.
Bawa karung, jalan kaki, kadang naik sepeda pinjaman. Tapi dari situ saya belajar rendah hati, dan justru roso itu yang bikin saya kuat,” kenangnya. Pengalaman tersebut menjadi pondasi awal bagi pembentukan karakternya.
Baca Juga: Tetap Jadi Angkutan Andalan, Selama Libur Sekolah Stasiun Blitar Berangkatkan 37.952 Penumpang
Seiring waktu, Mbah Din mulai tertarik mendalami ilmu hikmah. Ia tak pernah mengenyam pendidikan formal keagamaan di pesantren, tetapi justru melakukan perjalanan spiritual dari satu kiai ke kiai lainnya—sebuah tradisi sowan yang sudah hampir jarang dilakukan oleh generasi muda saat ini.
Dari para guru spiritual inilah ia mendapatkan ijazah-ijazah amalan, terutama dua amalan yang ia pegang erat sampai kini: salat malam dan membaca selawat setiap malam tanpa putus.
Transformasi inilah yang membuat banyak warga menilai perjalanan hidup Mbah Din memiliki kesamaan dengan Gus Samsudin. Keduanya lahir dari masyarakat akar rumput, merintis dakwah dari bawah, dan dikenal lewat pendekatan spiritual yang membumi.
Baca Juga: Dua Tahun Sudah Beroperasi, Pemkot Blitar Akhirnya Segel Jaringan Fiber Optik Tak Berizin
Gus Samsudin sendiri dikenal sebagai tokoh yang mengangkat dakwah lewat pendekatan mistik Islam dan dakwah digital, sama halnya dengan Mbah Din yang kini aktif berdakwah melalui YouTube dan media sosial.
“Zaman dulu orang cari guru datang ke pesantren. Sekarang kita manfaatkan YouTube untuk nyebar kebaikan. Tapi saya selalu bilang, konten saya bukan buat gaya-gayaan, tapi buat ngingetin orang supaya jangan lali salat, jangan lali selawat,” ujar Mbah Din.
Di kanal digitalnya, Mbah Din kerap menjawab pertanyaan masyarakat tentang gangguan batin, doa-doa harian, hingga kisah-kisah mistis yang ia gunakan sebagai jembatan dakwah.
Baca Juga: Malam Pertama di Desa: Kisah Mistis Liburan yang Berubah Jadi Teror Mencekam
Namun ia menegaskan bahwa semua yang diajarkannya memiliki sanad keilmuan dari guru-guru sebelumnya. Ia menolak disebut sebagai dukun atau orang pintar. “Saya ini cuma orang biasa yang dapat amanah ijazah dari para kiai. Saya ngajarin sesuai yang saya dapat, bukan ngarang,” tegasnya.
Pendekatan dakwah Mbah Din yang lugas dan merakyat ternyata berhasil menjangkau banyak kalangan. Tak hanya orang tua, tapi juga anak-anak muda yang selama ini jauh dari dunia spiritual. Ia bahkan mengaku sering menerima pesan dari anak muda yang mulai rutin salat malam dan selawatan setelah menonton kontennya.
“Dulu saya malu ngomong agama, karena saya nggak sekolah agama. Tapi setelah banyak yang bilang ‘Mas, saya terbantu lewat konten njenengan’, saya sadar bahwa dakwah itu bukan soal gelar, tapi soal niat dan kebermanfaatan,” ucapnya.
Baca Juga: MIN di Kabupaten Blitar Serap 1.438 Siswa Baru di Tahun Ajaran Baru 2025/2026
Salah satu hal yang membuat Mbah Din semakin dihormati adalah konsistensinya dalam menjaga adab. Dalam setiap kesempatan, ia selalu menekankan pentingnya akhlak dalam mencari ilmu. Ia menolak jika dakwah hanya dijadikan ladang popularitas tanpa penguatan nilai.
“Dunia ini fana. Kalau kita niat dakwah buat terkenal, ya selesai sudah. Tapi kalau niatnya lillah, insya Allah akan jadi amal jariyah,” tambahnya.
Kini, Mbah Din masih terus berkeliling kampung, menghadiri undangan warga, memberikan pengajian kecil, dan tetap aktif di media sosial.
Baca Juga: Beberapa Kades hingga Kasun Diperiksa KPK, DPMD Kabupaten Blitar Minta Masyarakat Tak Suuzon
Ia tak memiliki pesantren, tapi banyak anak muda yang sowan untuk belajar dan meminta bimbingan spiritual. Dengan gayanya yang sederhana, tanpa jubah atau sorban, ia justru berhasil menyentuh hati masyarakat dari berbagai latar belakang.
Seperti halnya Gus Samsudin yang membangun ekosistem dakwah digital di Blitar, Mbah Din juga berharap bisa terus menjadi jembatan antara ilmu hikmah dan generasi muda masa kini. “Kita ini cuma alat. Yang penting jangan berhenti ngingetin orang soal salat, soal akhirat. Itu aja udah cukup,” pungkasnya.
Editor : Anggi Septian A.P.