Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Gus Samsudin hingga Pilkada dan Spiritualitas Lokal

Anggi Septiani • Jumat, 18 Juli 2025 | 22:15 WIB

Gus Samsudin hingga Pilkada dan Spiritualitas Lokal
Gus Samsudin hingga Pilkada dan Spiritualitas Lokal

BLITAR – Nama Mbah Din belakangan kerap diperbincangkan di media sosial, tak kalah viral dengan tokoh spiritual lainnya seperti Gus Samsudin. Lewat kanal YouTube dan majelisnya yang sederhana, Mbah Din menyuarakan nilai-nilai spiritual yang bersumber dari kearifan lokal Blitar. Namun di tengah gemuruh Pilkada Blitar yang mulai hangat, Mbah Din akhirnya buka suara soal politik dan tanah kelahirannya.

Dalam sebuah majelis terbuka di rumahnya di pinggiran Blitar, Mbah Din menyampaikan pandangannya secara lugas namun tetap dalam bingkai religius. Ia menekankan pentingnya kembali kepada iman dan takdir Allah, termasuk dalam soal pilihan politik.

“Pilkada itu bukan soal menang-kalah, tapi soal bagaimana kita ridha terhadap takdir Allah. Yang penting jangan sampai gara-gara beda pilihan, kita jadi saling benci,” ujar Mbah Din, yang dikenal punya gaya bicara tenang namun tajam.

Baca Juga: Manfaatkan Teknologi AI untuk Majukan UMKM Indonesia

Pernyataan ini langsung menuai perhatian, terutama dari warganet yang selama ini melihat Mbah Din sebagai sosok spiritual semata. Banyak yang membandingkannya dengan Gus Samsudin, yang lebih dulu dikenal luas sebagai tokoh spiritual digital dari Blitar.

“Kalau Gus Samsudin sudah mengajak masyarakat untuk menyadari pentingnya ilmu hikmah lewat media sosial, saya juga ingin mengajak masyarakat untuk menjaga akhlak saat Pemilu,” lanjut Mbah Din dalam majelisnya.

Ia menyadari, suasana Pilkada bisa memecah belah masyarakat jika tidak dikendalikan dengan iman. Oleh karena itu, Mbah Din berpesan agar setiap warga tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terpancing hoaks maupun fitnah.

Baca Juga: Tetap Jadi Angkutan Andalan, Selama Libur Sekolah Stasiun Blitar Berangkatkan 37.952 Penumpang

“Kadang orang terlalu fokus pada siapa yang jadi pemimpin, sampai lupa bahwa rejeki dan ketentraman itu dari Allah. Boleh pilih pemimpin, tapi jangan lupakan salat malam,” katanya sambil tersenyum.

Blitar, Titik Spiritualitas Nusantara

Tak hanya bicara politik, Mbah Din juga menyampaikan rasa cintanya terhadap Blitar. Ia menyebut Blitar sebagai kota yang bukan hanya memiliki sejarah nasional, tapi juga kekuatan spiritual yang luar biasa. Baginya, Blitar adalah titik penting dalam perjalanan bangsa.

“Di Blitar ini ada jejak Bung Karno. Ada makam, ada semangat, ada api perjuangan. Tapi jangan lupa, di sini juga banyak ulama dan kiai yang mengajarkan ilmu hikmah sejak dulu,” katanya.

Menurut Mbah Din, kombinasi antara sejarah nasional dan kekuatan spiritual inilah yang membuat Blitar sangat istimewa. Ia berharap generasi muda bisa melihat Blitar bukan hanya sebagai kota kecil di Jawa Timur, tapi sebagai pondasi kebangkitan nasional.

Baca Juga: MIN di Kabupaten Blitar Serap 1.438 Siswa Baru di Tahun Ajaran Baru 2025/2026

“Bung Karno pernah bilang, jas merah. Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Saya tambahkan: jangan sekali-kali meninggalkan selawat. Karena sejarah bangsa ini juga berdiri di atas doa para wali,” ujarnya penuh semangat.

Nama Gus Samsudin kembali disebut dalam konteks ini. Mbah Din mengaku tak pernah merasa bersaing dengan tokoh lain, termasuk Gus Samsudin, yang juga berasal dari Blitar.

“Saya justru bangga. Ada Gus Samsudin yang mengangkat nama Blitar di media sosial. Artinya Blitar tidak kehabisan orang-orang yang ingin menebar kebaikan,” ujarnya merendah.

Cita-cita Besar: Blitar Sebagai Poros Spiritual Indonesia

Lebih jauh, Mbah Din menyampaikan cita-citanya agar Blitar tidak hanya dikenal sebagai kota sejarah, tapi juga sebagai pusat spiritual yang mampu menyinari Indonesia.

Ia membayangkan, suatu hari nanti Blitar bisa menjadi tempat berkumpulnya para pecinta hikmah, para pembelajar agama, dan anak-anak muda yang ingin memperdalam nilai-nilai spiritual.

“Coba bayangkan, kalau Blitar punya pesantren digital yang isinya ngaji kitab kuning, selawat, tapi disiarkan ke seluruh dunia lewat YouTube. Itu kan luar biasa,” katanya dengan mata berbinar.

Baca Juga: Dana PIP Raib di Tangan Oknum? Broron: Ini Hak Anak, Bukan ATM Sekolah!

Sebagai bagian dari generasi yang tidak sempat mengenyam pendidikan tinggi, Mbah Din percaya bahwa dakwah bisa dilakukan siapa saja, asal niatnya lurus.

Ia berharap para pemimpin ke depan, siapapun yang terpilih di Pilkada, mau melihat Blitar lebih dari sekadar kota administratif. “Lihat Blitar sebagai cahaya. Sebagai titik terang. Tempat di mana bangsa ini bisa memulai ulang dengan akhlak dan hikmah,” pungkasnya.


 

Editor : Anggi Septian A.P.
#beda #Karna #Benci #Akhirnya #takdir #soal #Din #Pada #SUARA #Saling #BAH #Bukan #Jangan #plikada #berimanlah #allah #buka #kampanye