BLITAR – Seorang pria paruh baya di Blitar yang dikenal rajin berolahraga mendadak kolaps saat bersepeda pagi.
Warga sempat mengira korban terkena serangan panas atau kelelahan biasa. Namun takdir berkata lain—ia dinyatakan meninggal karena serangan jantung mendadak.
Peristiwa seperti ini bukan sekali dua kali terjadi. Beberapa atlet dunia bahkan pernah ambruk di tengah pertandingan. Padahal mereka sehat, terlatih, dan menjalani gaya hidup aktif.
Pertanyaannya, mengapa orang yang tampak sehat bisa meninggal secara mendadak karena serangan jantung?
Menurut dr. Damais, spesialis jantung dan pembuluh darah, kasus kolaps mendadak ini memang menyimpan teka-teki medis yang mengerikan.
Namun di balik itu, ada penjelasan ilmiah yang dapat dijabarkan secara gamblang.
Kematian Mendadak dan Jantung yang Diam-diam Bermasalah
“Kematian mendadak pada orang yang tampak sehat bisa terjadi karena jantung menyimpan masalah tersembunyi,” jelas dr. Damais melalui kanal edukasi kesehatannya.
Kadang, seseorang sudah membawa faktor risiko kardiovaskular sejak lama tanpa disadari. Genetik, kolesterol tinggi, gangguan irama jantung, penyempitan pembuluh darah, hingga gaya hidup seperti merokok diam-diam menumpuk risiko.
Beberapa orang merasa aman karena telah menjalani EKG atau pemeriksaan singkat lainnya.
Padahal, kata dr. Damais, pemeriksaan jantung itu tidak sesederhana EKG sekali dan selesai.
“EKG bisa berubah-ubah. Hasil tiga minggu lalu tidak bisa dijadikan patokan untuk hari ini. Jantung adalah organ dinamis,” tegasnya.
Kasus di Blitar dan Fenomena yang Terulang
Di Blitar sendiri, dalam dua tahun terakhir, Dinas Kesehatan mencatat beberapa kasus kematian mendadak yang melibatkan masyarakat berusia produktif.
Salah satu kasus melibatkan pemuda berusia 28 tahun yang kolaps setelah bermain futsal. Hasil visum menyebutkan penyumbatan arteri koroner sebagai penyebab utama.
“Sering kali, tidak ada gejala sebelumnya. Bahkan korban dikenal aktif dan sehat,” ujar salah satu tenaga medis UGD RSUD Ngudi Waluyo Wlingi yang enggan disebutkan namanya.
Hal serupa juga menimpa seorang guru olahraga di sekolah swasta di Kecamatan Sanankulon, yang tiba-tiba jatuh saat memberi contoh gerakan pemanasan.
Faktor Risiko yang Diam-diam Mematikan
dr. Damais menekankan bahwa wawancara medis atau anamnesis adalah kunci utama mendeteksi potensi risiko. Bukan hanya soal keluhan saat ini, tetapi riwayat keluarga, kebiasaan hidup, hingga gejala ringan seperti sering pusing, sesak saat beraktivitas, atau debar jantung berlebih.
“Kadang pasien bilang: ‘Dok, ngobrolnya lama amat.’ Padahal itu penting. Dari cerita itu kita tahu misalnya ayahnya meninggal mendadak di usia 40, atau saudaranya sering pingsan. Itu bisa jadi faktor genetik,” katanya.
Pemeriksaan fisik menggunakan stetoskop juga penting.
Dokter bisa mendengar suara tidak wajar seperti bising jantung, irama tak teratur, atau bahkan tanda peradangan jantung pasca infeksi virus seperti COVID-19.
Baca Juga: Dispendukcapil Kota Blitar Ingatkan Warga Risiko Nikah Tak Tercatat, Ini Dampaknya
Check-Up Jantung yang Sebenarnya
Check-up jantung bukan hanya EKG. Pemeriksaan lengkap meliputi:
EKG (rekam listrik jantung)
Foto Rontgen Dada
Echo (USG jantung)
Treadmill test
CT-scan / MRI jantung
Profil lipid (kolesterol)
Gula darah puasa & HbA1c
“American Heart Association bahkan menyarankan agar sejak usia 20 tahun sudah pernah periksa kolesterol,” terang dr. Damais.
Banyak orang yang masih muda sudah menyimpan kadar kolesterol jahat (LDL) tinggi, terutama jika punya pola makan buruk dan riwayat genetik.
Kisah Nyata: Selamat Berkat Pemeriksaan Dini
Salah satu pasien dr. Damais, seorang pria 31 tahun yang gemar olahraga, merasa sesak dan berkeringat dingin saat latihan. Pemeriksaan treadmill menunjukkan tanda kekurangan oksigen di otot jantung.
Dari CT-scan diketahui adanya penyempitan arteri koroner. Ia belum mengalami serangan jantung, tapi jika dibiarkan, waktunya tinggal menunggu. Pasien akhirnya dipasang ring jantung dan kini tetap aktif berolahraga.
“Kalau menunggu kolaps baru bertindak, itu sudah telat. Banyak yang datang ke IGD dalam kondisi kritis, bahkan tak sempat sampai,” ujar dr. Damais.
Hidup Sehat Bukan Jaminan Jika Tidak Diperiksa
Pola hidup sehat memang penting. Tapi check-up adalah senjata utama untuk mengetahui apa yang tidak terlihat. Jangan terlena karena tidak ada gejala.
Baca Juga: Warga Desa Sumberagung Kabupaten Blitar Ingin Jalur Konstruksi Cor Dituntaskan
“Bahkan atlet bisa kolaps. Jadi bukan soal seberapa aktif kamu, tapi seberapa paham kamu dengan kondisi tubuhmu sendiri,” tambahnya.
Kesimpulan: Jaga Jantung, Jaga Hidup
Kasus kematian mendadak seperti yang terjadi di Blitar adalah peringatan bagi kita semua.
Di balik tubuh bugar dan senyum segar, bisa saja ada ancaman mematikan yang siap menyerang dalam hitungan detik.
Maka sebelum kolaps itu datang, kenali risikonya. Periksa jantungmu. Jangan tunggu jantungmu yang bicara lewat serangan mematikan. (*)
Editor : M. Subchan Abdullah