Blitar – Kisah nyata perjuangan seorang ayah muda asal Blitar ini menyentuh banyak hati. Sejak hari pertama kelahiran anaknya, pria bernama Alex Zakaria harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus ayah. Istrinya pergi tepat setelah sang anak lahir ke dunia, meninggalkan tanggung jawab besar di pundaknya seorang diri. Inilah potret nyata perjuangan seorang ayah muda yang menggugah hati banyak orang.
Perjuangan seorang ayah muda seperti Alex bukan hanya soal memenuhi kebutuhan materi anaknya, tetapi juga menjawab setiap tanya yang tak mudah. Seperti saat sang anak bertanya, “Kenapa pas ambil rapor ibu-ibu lain yang datang, tapi aku sama Bapak?” Atau ketika teman-temannya di sekolah membicarakan ibu mereka, sedangkan anak Alex hanya tahu ibunya dari cerita. Di sinilah beban emosional seorang ayah muda benar-benar terasa berat.
Namun, alih-alih larut dalam sakit hati, Alex memilih menguat. “Ibumu wis tak ejolne rejeki sing akeh,” begitu jawabannya kepada sang anak—kalimat sederhana yang sarat makna. Sebuah pengingat bahwa cinta tak selalu berbentuk sosok fisik, tapi bisa hadir lewat perjuangan seorang ayah muda yang tak pernah absen memberi kasih sayang.
Baca Juga: Manfaatkan Teknologi AI untuk Majukan UMKM Indonesia
Ditinggal Sejak Hari Pertama, Ayah Jadi Segalanya
Kisah ini berawal dari pernikahan yang tak direstui sebagian pihak karena faktor ekonomi. Saat itu, Alex belum punya penghasilan tetap. Ia hanyalah pecinta motor klasik yang kadang menjual onderdil atau menjadi penghubung penjualan antarpenggemar. Kondisi ini membuat rumah tangganya retak, terlebih saat istrinya melahirkan dan memutuskan pergi begitu saja.
“Aku bingung harus gimana, Mas. Bayi masih merah, belum bisa apa-apa, dan semua orang tanya ibunya ke mana,” ungkap Alex saat diwawancarai tim Blitar Kawentar. Namun ia tak punya waktu untuk mengasihani diri sendiri. Ia tahu, sejak detik itu, seluruh cinta, perhatian, dan tanggung jawab harus datang dari dirinya seorang.
Seiring waktu, perjuangan seorang ayah muda ini makin diuji. Mulai dari urusan popok, menyuapi, menenangkan saat demam, hingga mendongeng sebelum tidur—semuanya ia jalani sendiri. “Waktu anak tanya ibunya mana, itu bagian paling sulit,” tambahnya. Tapi dari situ pula tumbuh ikatan yang tak tergantikan antara ayah dan anak.
Baca Juga: Bangkitkan UMKM, Strategi Menghadapi Tantangan Persaingan Pasar yang Ketat
“Rejeki Tak Akan Tertukar, Nak”
Tak hanya peran pengasuhan, Alex juga harus memikirkan masa depan ekonomi anaknya. Ia sempat menjual motor kesayangan hanya untuk membeli susu. Namun dari titik terendah itu pula, semesta seperti membalas ketulusan hatinya. Bisnis motor klasik yang dulu hanya sampingan, kini berubah menjadi showroom “Galuh Classic” yang dikenal hingga luar Blitar.
Showroom yang berdiri di pinggir jalan itu kini menjadi rumah bagi puluhan motor antik, dan tempat kerja bagi sembilan karyawan tetap. Semua berawal dari satu niat: membesarkan anak tanpa harus meminta belas kasihan. Perjuangan seorang ayah muda seperti Alex tidak hanya membentuk kehidupan anaknya, tapi juga membuka pintu rejeki bagi orang lain.
“Mungkin anakku enggak pernah lihat ibunya. Tapi dia akan tumbuh lihat bapaknya terus berjuang,” ucap Alex. Kalimat ini ia ulang ketika anaknya mulai tumbuh besar dan mulai membandingkan kehidupannya dengan teman-teman yang punya ibu. “Ibumu tak ejolne rejeki sing akeh,” adalah bentuk kasih sayang yang ia percayai.
Baca Juga: Dua Tahun Sudah Beroperasi, Pemkot Blitar Akhirnya Segel Jaringan Fiber Optik Tak Berizin
Dicemooh, Tapi Tetap Tersenyum
Alex tak menampik pernah dianggap lemah, bahkan dijuluki “bapak sambilan” oleh sebagian orang. Tapi semua cibiran itu tak membuatnya goyah. “Yang penting anak saya bisa sekolah, sehat, dan tahu kalau bapaknya sayang dia banget,” katanya.
Kini, ketika banyak orang mengeluh soal hidup, Alex justru merasa lebih ringan. Ia telah melewati fase terberat dalam hidupnya tanpa menggenggam dendam. Bahkan saat mantan istrinya mencoba kembali, Alex menolaknya dengan baik-baik. Baginya, anak adalah prioritas utama, bukan kisah lama yang ingin diulang.
Inspirasi untuk Para Orang Tua Tunggal
Kisah ini bukan sekadar cerita sedih, tapi sumber inspirasi bagi banyak orang tua tunggal di luar sana. Perjuangan seorang ayah muda seperti Alex menunjukkan bahwa peran orang tua tak selalu dibatasi oleh jenis kelamin. Asal ada cinta dan tanggung jawab, siapa pun bisa menjadi segalanya bagi anaknya.
“Buat saya, laki-laki itu harus bisa nggendong anaknya, bikin susu, bahkan nyisir rambut anak perempuannya sendiri. Itu baru lelaki,” tegas Alex.
Kini anaknya tumbuh menjadi gadis kecil yang cerdas dan penuh rasa percaya diri. Meski tak mengenal ibunya secara langsung, ia tak pernah merasa kekurangan kasih sayang. Karena setiap pelukan ayahnya, setiap peluh yang jatuh saat bekerja, dan setiap waktu yang diluangkan, adalah bentuk cinta paling nyata.
Editor : Anggi Septian A.P.