BLITAR – Tak sedikit pekerja kreatif, mulai dari penulis, musisi, hingga desainer, sering terjebak dalam situasi perfeksionisme. Mereka menunggu momentum tepat sebelum mulai berkarya.
Berbeda dengan Raditya Dika, seorang kreator multitalenta yang telah menekuni di bidang entertaiment lebih dari 20 tahun mengungkapkan “Semua hal harus diawali dari yang gagal”.
Di sebuah podcast bersama Agusleo Halim, Raditya menyatakan jika kekhawatiran akan kegagalan justru menghambat produktivitas.
Menurutnya, satu halaman tulisan jelek lebih baik daripada nol halaman, karena karya jelek bisa diperbaiki, sementara karya yang tidak pernah dibuat akan selamanya hilang.
Raditya Dika bercerita bahwa dulu dirinya hanya bisa menulis di tempat tenang dengan suasana hati yang baik.
Namun, setelah menyadari bahwa suasana hati adalah alasan aman untuk menunda, ia melatih diri menulis di mana saja bahkan di bioskop saat menonton film yang membosankan.
"Hasilnya mungkin jelek, tapi setidaknya ada yang bisa diedit," ujarnya.
Konsep ini berkaitan dengan buku Atomic Habits karya James Clear, yang menekankan "two-minute rule" artinya mulai dari hal kecil, lalu tingkatkan secara perlahan.
Raditya menerapkannya dengan menulis draf kasar tanpa tekanan, kemudian menyempurnakannya secara bertahap.
Raditya Dika membagikan tips untuk memulai tanpa harus menunggu suasana hati membaik. Ia menyarankan untuk langsung mengutarakan ide-ide kreatif tanpa menunggu inspirasi.
"Kalau kamu takut jelek, kamu tidak akan pernah mulai," kata Dika.
Baca Juga: Bangkitkan UMKM, Strategi Menghadapi Tantangan Persaingan Pasar yang Ketat
Filosofi "mulai dari yang jelek" Raditya Dika membuktikan bahwa konsistensi lebih penting daripada kesempurnaan.
Bagi kreator pemula, langkah pertama adalah mengesampingkan rasa takut dan fokus pada progres, bukan hasil instan.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah