BLITAR – Di dunia kreatif, kritik sering dianggap sebagai suatu yang menakutkan. Banyak pekerja kreatif, terutama pemula, merasa tersinggung ketika karyanya mendapat respon negatif.
Berbanding terbalik dengan Raditya Dika, seorang penulis, komika, dan sutradara yang telah sukses di bidang industri kreatif justru melihat kritik sebagai "vitamin" yang membuat karyanya semakin matang.
Dalam sebuah podcast bersama Agusleo Halim, Raditya Dika bercerita bahwa kritik adalah bagian tak terpisahkan dari proses kreatif. Tanpa kritik, karya tidak akan pernah berkembang.
Kritik itu dapat membangun mental dan kreativitas seseorang melalui pendapat dari orang lain tentang sebuah karya yang dibuat. Kritik yang kritis membantu membuka celah yang tak terlihat oleh diri sendiri.
Namun, tidak semua kritik dapat ditanggapi. Kritik hanya berfokus pada tanggapan tentang suatu karya dari seseorang, tidak termasuk kritik dalam hal personal.
"Kalau ada yang bilang karyaku jelek tanpa alasan, aku cuekin. Tapi kalau ada yang kasih masukan detail, aku catat," jelasnya.
Kritik harus disertai dengan solusi untuk mempertimbangkan apakah kritik tersebut termasuk ke dalam tanggapan suatu karya, sementara komentar negatif tanpa dasar bisa diabaikan.
Kritik bukanlah lawan, melainkan alat untuk berkembang. Seperti Raditya Dika, kreator profesional justru memanfaatkan kritik untuk menyempurnakan karya mereka supaya dapat diterima oleh mata publik.(*)
Editor : M. Subchan Abdullah