BLITAR – Kehidupan sosial tak terlepas dari kemajuan perkembangan teknologi. Media sosial bagaikan lem yang menempel pada suatu benda.
Mereka mampu menjebak penggunanya hamper berjam-jam hingga lalai menyelesaikan pekerjaannya.
Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan rasa malas, melainkan efek nyata dari cara kerja algoritma media sosial yang "merampok" fokus kita.
Media sosial dirancang untuk memicu pelepasan dopamin hormon kebahagiaan setiap kali kita melihat konten baru.
Sayangnya, otak manusia cenderung memilih stimulasi instan daripada aktivitas berat seperti bekerja.
Orang yang telah terjebak dalam kecanduan aktivitas di media sosial akan memiliki masalah dalam manajemen waktu sehingga mengakibatkan perubahan pada struktur otak akibat paparan konten pendek berlebihan.
Fenomena ini disebut "brain rot" penurunan fungsi kognitif akibat kebiasaan mengonsumsi konten instan.
Gejala umumnya meliputi kesulitan untuk fokus, pelupa, dan gelisah jika meninggalkan aktivitas di media sosial.
Media sosial bukan musuh, tapi penggunaan berlebihan dapat merusak produktivitas dan menurunkan kapasitas otak.
Dengan manajemen waktu dan kesadaran diri, kita bisa mengambil kembali kendali atas fokus otak.
Editor : Anggi Septian A.P.