Desa Berdaya EkoBis Entertainment Hukum & Kriminal Hukum dan Kriminal Kawentaran Lifestyle Nasional Otonomi Pendidikan Politik

Kurikulum Bermasalah, Bagaimana Kondisi Pendidikan Indonesia Saat Ini?

Prima Suci Maharani • Rabu, 23 Juli 2025 | 14:00 WIB
GURU GEMBUL (DIKUTIP DARI suaranasional.com)
GURU GEMBUL (DIKUTIP DARI suaranasional.com)

BLITAR – Di sebuah podcast Suara Berkelas bersama narasumber Guru Gembul, ia membeberkan kondisi pendidikan di Indonesia yang tidak ada perkembangan.

Data dari Kemenag ditunjukkan hanya sekitar 30% guru-guru yang memiliki potensi unggul berdasarkan uji kompetensi.

Yang lebih memprihatinkan, soal uji kompetensi itu sendiri ternyata bermasalah. Guru Gembul menceritakan bagaimana guru-guru diuji dengan pertanyaan-pertanyaan hafalan yang tidak relevan seperti tahun meninggalnya Pangeran Diponegoro atau rumus-rumus kuno, sementara kemampuan pedagogis yang sebenarnya dibutuhkan justru tidak diuji.

Sistem pendidikan di Indonesia layaknya mesin penghancur kreativitas. Siswa-siswi dipaksa untuk menguasai sebuah bidang yang tidak termasuk dalam bakat minatnya.

Misalnya, ada seorang anak yang mahir di bidang non-akademik keolahragaan dan mendapatkan nilai rendah di mata pelajaran Bahasa Indonesia.

Anak tersebut justru dipaksa untuk berhenti menekuni bidang keolahragaan dan difokuskan mempelajari bidang akademik Bahasa Indonesia.

Kemudian, anak yang memiliki passion di bidang bisnis tetapi harus menghabiskan waktu mempelajari teori-teori ekonomi yang sudah ketinggalan zaman.

"Jam kosong justru menjadi pelajaran favorit siswa," ujar Guru Gembul.

Ini terjadi bukan karena siswa yang malas, melainkan karena mereka sudah trauma dengan cara mengajar yang membosankan.

Masalah semakin kompleks ketika kita melihat kesenjangan antara dunia pendidikan dengan era digital.

Di saat 90% pekerjaan masa depan membutuhkan keterampilan digital, banyak guru justru melarang siswa menggunakan Google.

Ironisnya, siswa sekarang lebih banyak belajar dari TikTok dan YouTube dibandingkan dari guru di kelas.

“Kita menciptakan generasi yang enggan mengambil risiko, tidak berani berpendapat, dan selalu bergantung pada otoritas," Jelasnya.

Guru Gembul menawarkan solusi inovatif.

Dia menekankan pentingnya pendidikan berbasis bakat minat, fokus pada keterampilan aplikatif seperti literasi keuangan dan pemasaran digital, serta transformasi peran guru dari sekadar penyampai materi menjadi motivator yang menginspirasi.

Editor : Anggi Septian A.P.
#kurikulum #monoton #akademik #indonesia #sistem pembelajaran #Potensi Guru #Non akademik #bakat minat #pendidikan #siswa berprestasi #Kondisi Memprihatinkan #kelinci percobaan #tenaga pendidik