BLITAR – Di sebuah podcast Suara Berkelas bersama narasumber Guru Gembul, ia membuka diskusi terkait pendidikan Indonesia yang semakin mundur.
Siswa-siswi justru menyukai bahkan menantikan jam kosong ketika di Sekolah.
"Pendidikan itu mahal, orang tua siswa bersikeras membayar biaya pendidikan yang mahal, tapi justru anaknya itu senang ketika tidak belajar. Ini bukan salah mereka, tapi sistem kurikulum yang sudah rusak," Jelas Guru Gembul.
Faktanya, kurikulum Pendidikan Indonesia hamper selalu mengalami perubahan di setiap tahunnya.
Siswa-siswi seringkali menjadi bahan percobaan yang tidak pasti, akibatnya menumbuhkan rasa malas dalam diri sendiri.
Materi pelajaran yang dipaksakan tanpa penjelasan relevansi kehidupan nyata. Sistem penilaian yang hanya mengejar angka semata, bukan pemahaman.
Yang lebih tragis, sistem ini secara perlahan tapi pasti membunuh kreativitas alami siswa.
Guru Gembul menceritakan pengalaman seorang siswa berbakat di bidang keolahragaan yang dipaksa berhenti latihan karena nilai Bahasa Indonesianya rendah.
Dia menjelaskan siklus memprihatinkan yang terus berulang, siswa dipaksa belajar materi tidak menarik, otak secara alami menolak informasi yang dianggap tidak bermakna, proses belajar berubah menjadi trauma, dan akhirnya siswa membenci semua bentuk pembelajaran.
"Trauma ini tidak berhenti di bangku sekolah," lanjut Guru Gembul. "Banyak lulusan yang akhirnya takut belajar hal baru karena pengalaman buruk mereka di masa sekolah. Ini seperti luka batin yang terus terbawa hingga dewasa."
Fenomena jam kosong ini bagaikan cermin yang memantulkan wajah asli pendidikan kita.
Bukan tentang rasa malas siswa, melainkan tentang sistem yang telah lama kehilangan jiwa dan makna. (*)
Editor : Anggi Septian A.P.