BLITAR – Di sebuah podcast Suara Berkelas bersama narasumber Guru Gembul, ia mengungkapkan bahwa manusia telah hidup berdampingan dengan kemajuan teknologi di era informasi.
Berbagai sektor kehidupan manusia tak terlepas dari teknologi sebagai penunjang kehidupan.
Guru Gembul menceritakan pengalaman seorang siswa yang justru memahami materi dengan lebih baik setelah menonton video pendek di media sosial.
"Guru di sekolah menjelaskan dengan konsep monoton, tapi konten kreator di media sosial mengubahnya jadi visual menarik," katanya.
Padahal, data World Economic Forum 2023 menyebut 90% pekerjaan masa depan membutuhkan keterampilan digital. Faktanya, banyak sekolah masih:
- Melarang penggunaan smartphone di kelas
- Mengandalkan textbook yang tidak diperbarui puluhan tahun
- Menolak metode pembelajaran berbasis digital
Sistem kurikulum Indonesia jika tidak menambahkan materi literasi digital akan menimbulkan resisten terhadap perubahan.
Siswa-siswi yang telah lulus akan tidak siap menghadapi dunia kerja yang telah mengadopsi teknologi digital.
Siswa-siswi kehilangan kepercayaan pada institusi pendidikan karena pergantian kurikulum hampir setiap tahun hanya menjadi bahan percobaan.
Guru Gembul menegaskan bahwa pendidikan itu harus sejalan sesuai perkembangan zaman.
Guru-guru harus bertindak tegas dan mampu memberikan metode pembelajaran efektif dan kreatif agar siswa-siswi tidak merasa bosan selama proses belajar.
"Pendidikan harus seperti air yang mengalir, bukan tembok yang kaku," pungkas Guru Gembul. "Saat TikTok bisa jadi guru yang lebih baik daripada sekolah, itulah tanda kita sudah darurat pendidikan." (*)
Baca Juga: Resmi! 6 Kriteria Warga yang Tak Lagi Dapat Bansos, Termasuk ASN dan Gaji di Atas UMK
Editor : Anggi Septian A.P.